3. DI UJI

40 0 0
                                              

Ayah segera mengabariku yang masih dalam jam bekerja bahwa akhirnya mama telah sampai di rumah setelah  dari rumah sakit.. aku sempat kesal kenapa mama harus keluar padahal belum sembuh total tetapi, dalam diriku juga merasa sedih karena tidak memilik tabungan sama sekali sampai mama masuk rumah sakit pun tidak ada persiapan uang.
Beberapa minggu mama rawat di rumah oleh kami..
Ayah mendapatkan panggilan kerja untuk interview besok, sudah pasti kami sangat bersyukur sekali dan berharap agar ayah bisa bekerja kembali. Keesokan hari ayah mengikuti tes yang akhirnya di nyatakan "LOLOS" lega rasa nya saat mendengar ayah keterima bekerja kembali di bagian teknisi dan terlihat senyum bahagia terpancar dari wajah mama :)
Aku bekerja seperti biasa, begitu pula dengan ayah bersyukur sekali dengan segala nikmat Tuhan yang masih mempercayai kami untuk mendapatkan rezeki halal-Nya.

Sekitar 1 bulan ayah baru bekerja muncullah musibah di seluruh negri termasuk Indonesia adanya "virus corona" yang membuat semua orang tidak bisa kemana-mana secara bebas, sekolah di liburkan, banyak tempat wisata, pekerjaan yang di tutup, bahkan banyak korban jiwa karena virus corona dan tak menyangka membuat ayahku yang baru bekerja 1 bulan terkena dampaknya di rumahkan tanpa gaji. Saat itu kami terutama ayah sangat sangat terpukul mendapatkan kabar seperti itu tetapi, mau bagaimana lagi? Mau marah pun ke siapa? Dan tak bisa! Jadi kami hanya bertahan hidup dari gaji ku saja karena untuk ayah kembali ojek online lagi pun tak bisa akun sudah di ambil oleh pemiliknya, untuk buat akun sendiri pun tak cukup uang, terlebih lagi dalam kondisi seperti ini belum ada pendaftaran ojek online.
Bersyukurnya Keadaan di tempat ku bekerja masih terbilang bagus bertahan dan tetap buka walaupun aku juga teman-teman sangat khawatir, mulailah dari situ aku berikhtiar mencari pekerjaan tempat lain yang masih buka saat pandemi hanya untuk berjaga-jaga saja karena omset tempatku bekerja juga sangat turun drastis sampai sering dapat teguran dari atasan tetapi, memang kondisi sedang terbilang kacau.

Selang bulan ke 5 yaitu bulan Mei aku dan team mendapatkan kabar buruk bahwa perusahaan retail tempat kami bekerja seluruh cabang di mengalami kebangkrutan bahkan semua karyawan baru atau pun lama terkena PHK dan hanya di beri pesangon + THR Rp. 500.000 - Rp. 1.000.000 , coba bisa kalian bayangkan di PHK? Karyawan lama? Bertahan? Ujung-ujungnya hanya di nilai sebesar itu? Bagaimana perasaan kalian? Belum lagi kita sendiri jadi harapan satu-satunya di keluarga untuk bisa bertahan hidup tetapi, terkena PHK?
Hatiku benar-benar hancur, kecewa, campur aduk hanya bisa nangis dan banyak diam. Dengan segala usaha teamku lapor sana sini masalah pesangon dan THR agar bisa mendapatkan yang lebih dari itu tetapi, nyatanya nihil.. Kenapa? Laporan ini seperti di persulit oleh pemerintah juga memang kami bukan sebagai karyawan kontrak jadi bisa jadi itu penyebabnya di persulit, akhirnya aku dan team hanya bisa pasrah berapa pun yang di berikan pihak perusahaan akan kita terima karena memang kami sangat butuh dari pada tidak terima sama sekali.
Rasanya aku tak ingin berbagi cerita dengan kedua orang tuaku yang pastinya nanti kecewa sekali tetapi, sungguh hati ini tak bisa bohong dan akhirnya menangis saat berada di rumah membuat yang lainnya bertanya, dengan berat hati juga aku mengatakannya. Setelah bercerita aku melihat wajah sedih kedua orang tuaku tetapi, ayah berkata "tak apa-apa ini ujian semua manusia"
apalagi melihat kondisi mama yang semakin hari semakin memburuk, uang yang kita miliki pun terbilang cukup saja.. "Ya Tuhan apa lagi ini? Kenapa selalu kami? Kami? Dan kami? Tak adakah umatmu yang lain merasakan seperti kami? Bertubi-tubi? Lahir batin merasakan sakit? Bagaimana kami bisa bertahan hidup? Tidak boleh keluar rumah? Bekerja di batasi?" batinku menangis dan kecewa dengan Tuhan, sungguh tak adil yang kami rasakan.

































TBC~

S. E. R. U (!)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang