Pertemuan Pertama dengan Raja

41.4K 4.2K 327
                                        

Sung Hwa masih tetap berada di posisinya memandangi dengan jengah para dayang yang melayaninya. Pagi buta sekali Sung Hwa harus dibangunkan oleh suara dayang Jo. Di kehidupan modern Sung Hwa terbiasa bangun siang. Setelah mengeluh beberapa saat, pada akhirnya Sung Hwa menyerah dan mengikuti arahan dayangnya.

“Apakah sudah selesai?” tanya Sung Hwa dengan malas. Sedari tadi dia berdiri diantara pada dayang-dayangnya.

“Belum Jungjeon Mama.”

Para dayang sibuk memakaikan pakaian hanbok yang berlapis-lapis. Selain berlapis-lapis, baju itu pun berat membuat Sung Hwa susah untuk bergerak karena tidak terbiasa. Dayang Jo memilih jokduri, binyeo atau tusuk konde, bros dan norigae. Semuanya tersedia dengan desain eksklusif dan terbaru. Dayang Jo memastikan semua aksesoris sesuai dengan baju sang Ratu.

“Apakah ini tidak bisa dijadikan lebih sederhana lagi? Kakiku susah bergerak, bahkan aku susah bernapas. Ini musim panas, dengan pakaian seperti ini. Aku bisa terpanggang. Konde dan binyeo ini membuat kepalaku pusing. Tidak bisakah rambutku digerai atau dicepol biasa.”

“Maafkan saya Jungjeon Mama tapi ini sudah menjadi tradisi wanita di dalam istana.”

Sung Hwa memang menyukai sesuatu yang cantik, mewah dan mahal namun mengingat apa yang dipakainya sekarang. Dia akan berubah pemikirannya. Sesuatu yang nyaman dan cantik akan jauh lebih baik.

“Dayang Jo, bisakah kamu memperbaiki tatanan rambutku. Aku benar-benar merasakan sakit kepala.” Tangan Sung Hwa mulai mencoba mengotak-atik tatanan rambutnya.
“Tapi Jungjeon Mama.”

“Apa kesehatanku tidak lebih berharga?” sungut Sung Hwa.

“Mohon ampun Jungjeon Mama, saya pantas untuk dihukum mati.”

Dayang Jo tak bisa menutup bibirnya seakan takjub melihat penampilan baru dari Ratunya. Dilihat dari segi mana pun  sang Ratu jelas wanita yang sangat cantik dan anggun. Ratunya cantik seperti lukisan. Rambut hitamnya hanya diikat sebagian dan yang lainnya dibiarkan tergerai.

Matanya yang cokelat bagaikan bintang yang terang. Bibir merah seperti buah cherry  memikat orang untuk mencicipinya, bahkan air liur dayang Jo sampai menetes.
“Apa yang kamu lihat?”

“Jungjeon Mama sangat cantik.”

“Aku tahu. Ayo kita berangkat.”

Han Sung Hwa berjalan bersama dayang Jo dan beberapa dayang lainnya. Mereka akan menuju paviliun Ibu Suri. Aktivitas istana dimulai dari istana tersebut. Han Sung Hwa berhenti sejenak. Perjalanan menuju paviliun Ibu Suri menurutnya sangat jauh, apalagi dia tidak pernah berjalan sejauh itu. Ditambah udara dingin di pagi menambah suasana malas di dalam diri Sung Hwa menyeruak. Dirinya ingin bergelung di bawah selimut.

“Jungjeon Mama ada apa?”

“Apa kita tidak bisa naik mobil? Kakiku sangat sakit jika harus berjalan lebih jauh lagi.”

“Mobil itu apa Jungjeon Mama?”

Dayang Jo merasa terkejut tetapi ia mencoba biasa saja di depan Ratunya.

“Lupakan!”

Kembali berjalan Sung Hwa kembali menggerutu, dia benar-benar dibuat kesal. Tepat ketika dia tiba di depan paviliun. Sung Hwa tidak langsung masuk, gadis itu mengamati istana yang besar itu.

“Istana ini sangat besar dan cantik tapi aku sungguh kesal karena letaknya yang jauh dari istanaku. Apakah tidak ada jalan lain untuk menuju ke sini?”

“Ada jalan lain Jungjeon Mama tetapi jalan tersebut jarang untuk dilewati.”

“Kita akan lewat jalan tersebut nanti.”

LANDING ON YOU (Promo Spesial  30 September- 3 Oktober 2021)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang