52. ll Virgo

55 8 2
                                                  

~happy reading~

ANGKASA berjalan tergesa-gesa, setelah membawa Bintang ke UKS. Ketika dia melewati Bulan yang sedang berdiri menatapnya gamang tadi, Angkasa memilih mengabaikannya dan fokus pada Bintang. Tetapi, saat dia berbelok menuju bilik di mana ruang UKS berada, suara jeritan para siswa yang meneriakkan nama Bulan membuatnya sedikit menoleh ke belakang.

Angkasa terkejut melihat Bulan yang tergeletak pingsan di sana. Tapi, ketika dia mengalihkan pandangan pada seorang gadis yang berada di gendongannya, Angkasa memilih melanjutkan langkahnya.

Selama menunggu petugas medis sekolahan yang memeriksa keadaan Bintang, Angkasa berulang kali menghembuskan napas berat. Ada rasa khawatir yang membuncah begitu saja ketika dia teringat Bulan.

"Sa, gue suka sama lo."

"Enggak. Lo gak boleh suka sama gue, Bulan."

"Gue maunya juga gitu, Sa. Tapi, perasaan gue gak bisa."

Angkasa mengacak rambutnya frustasi. Kenapa perkataan Bulan terus terngiang di kepalanya. Rasanya,  jika mungkin Angkasa pasti akan membelah jiwanya jadi dua. Satu untuk menemani Bintang, dan satunya melihat kondisi Bulan.

"Kenapa gue jadi pusing gini, sih?" ucapnya pelan.

"Gue yakin, perasaan gue masih buat Bintang. Tapi, Bulan?"

"Arghh!"

Angkasa terus bermonolog di sudut ruangan. Matanya beralih memandang petugas medis yang sedang mengecek kondisi Bintang. Dia juga penasaran, kenapa sedari tadi Bulan tak kunjung dibawa ke UKS? Dibawa ke mana gadis itu.

"Bintang cuma banyak pikiran sama telat makan. Sebentar lagi dia juga akan siuman," ujar petugas medis kepada Angkasa. Cowok itu pun mengangguk.

Angkasa segera menghubungi teman-temannya agar menjaga Bintang. Dia tidak akan tenang sebelum memastikan keadaan Bulan.

Angkasa menembus kerumunan murid. "Di mana Bulan?"

"Tadi udah dibawa ke RS, Sa. Katanya, Bulan harus cepat-cepat di bawa ke sana karena dia mimisan yang cukup parah," jawab salah satu orang siswi.

Seperti ada yang menghantam dadanya ketika mendengar kondisi Bulan seburuk itu. Angkasa duduk di bangku koridor. Cowok itu tertunduk sambil memegangi kepalanya.

"Sa, lebih baik lo susul dia. Masalah sekolah biat gue yang urus," ujar Samudra yang entah kapan sekarang sudah ada di samping Angkasa.

Angkasa mendongak. "Serius lo?"

"Iya. Lo pasti khawatir kan, sama Bulan? Makanya cepet ke sana!" perintah Samudra.

Angkasa tidak membuang-buang waktu. Cowok itu segera melesat ke parkiran untuk mengambil motornya.

🌟🌟🌟

Cowok dengan seragam yang sudah tidak serapi pagi itu melangkah lebar menuju ruangan di mana Bulan dirawat. Jantungnya kembali berdebar melihat wanita paruh baya sedang menangis dalam pelukan suaminya. Angkasa tidak salah mengira, dia adalah Raya, mamanya Bulan.

Dengan napas tersengal, Angkasa menghampiri kedua pasangan suami istri itu.

"Tante," panggil Angkasa pada Raya. Wanita itu melepas pelukannya dari Aksa. Dia tersenyum sendu melihat Angkasa, pemuda yang telah lama membuat Bulan menyimpan perasaan sukanya.

"Angkasa," ujarnya sambil menerima tangan Angkasa yang menyaliminya.

"Gimana keadaan Bulan, Tante?" tanya Angkasa. Raya kembali menangis, seketika wanita itu teringat apa yang dokter katakan tadi.

Love In Galaxy Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang