15-Benci dulu baru cinta

417 74 509
                                    

Cinta dan benci itu beda tipis. Bisa jadi keduanya datang di waktu yang bersamaan  tanpa di sadari.

____

Rama kembali menjadi sorotan, ia berhasil merebut juara bertahan olimpiade fisika tingkat nasional. Tahun ini dengan di dampingi oleh Shinta tentunya.

Nama mereka hangat di perbincangkan, tidak sedikit orang yang menjodohkan mereka. Mereka mempunyai banyak kesamaan, sama-sama pintar, sama-sama dingin, sama-sama cuek dan masih banyak lagi kesamaan lainnya. Shinta itu sudah seperti Rama versi perempuan.

Ucapan selamat terdengar nyaring sepanjang koridor, membuat Rama dan Shinta bingung mengekspresikan wajahnya. Rama hanya tersenyum kecil dan Shinta yang membalas terimakasih.

Mereka berjalan ber-iringan menuju lift, membuat para kaum hawa yang melintasi koridor berkhayal bertukar posisi dengan Shinta.

"Kak, aku malu," ucap Shinta ketika sampai di depan lift.

Rama menoleh pada Shinta. "Malu kenapa?"

"Mm itu... Malu di jodoh-jodohin sama kakak," ucap Shinta yang tersipu malu.

"Enggak usah malu, santai aja," sahut Rama tenang.

Shinta menatap Rama kecewa. "Harus santai ya?"

Rama tidak menjawab, ia hanya menganggukan kepalanya pelan.

Ketika pintu nyaris tertutup, muncul seorang gadis mungil. Kedua tangan gadis itu menumpu pada kakinya, napasnya tersengal-sengal.

"Untung sempat, gak keburu telat."

Gadis itu terperangah ketika menyadari dua orang di dalam lift. Mulutnya terbuka sesaat sebelum akhirnya ia tutup dengan tangannya.

"Mau masuk gak?" Tanya Rama datar.

Gadis itu hanya diam di tempat layaknya orang bodoh, ia bingung harus bagaimana. Masuk? Enggak?

Rama menaikkan satu alisnya. "Lo budek?"

Gadis itu hanya menatap Rama dan Shinta silih berganti. Jika dirinya masuk, ia tidak yakin akan baik-baik saja. Namun, jika dirinya tidak masuk, ia takut di anggap lemah.

"Nara masuk," Nara mengangkat wajahnya tinggi-tinggi.

Nara masuk dan memposisikan dirinya di tengah-tengah Rama dan Shinta. "Enggak boleh berdua-duaan, nanti yang ketiganya setan."

"Lo dong setannya," sahut Rama yang berusaha menahan tawanya.

"Eh... enggak gitu! Kita ini berempat sama setan," Alibi Nara, pokoknya ia tidak terima di samakan dengan setan.

"Oh, berarti kita berdua-berdua. Lo sama setan, gue sama Shinta."

Skak mat. Nara terdiam sesaat, ia mendelik menatap Rama. Bukannya merasa bersalah, Rama di buat ingin tertawa.

Shinta mendekat dan menyentuh lembut tangan Rama. "Kak Rama, udah."

Rama mengangguk. "Iya."

"Apaan ini! Pake grepe-grepe tangan segala," Nara melepas paksa tangan Shinta dari Rama.

Shinta menunduk malu dan kembali ke tempat semula. "Maaf, kak Nara."

Nara hanya tersenyum palsu, ia mulai curiga pada Shinta. Feelingnya mengatakan Shinta mulai menyukai Rama, tatapan Shinta menjelaskan itu semua.

"Shinta, buku ensiklopedia gue di bawa kan?" Tanya Rama pelan.

Shinta menepuk keningnya pelan. "Astaga, lupa kak."

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang