Dua Puluh Tiga

133 20 26
                                    

Mereka berkata,
Akhir dari kisah ini akan segera tiba.
Namun, sebenarnya apakah ini telah berakhir?
_____________________________________

Inilah hari terakhir Stelia berada di rumah orang tuanya di kota kembang, ia akan segera kembali pulang ke Tangerang. Segala keperluan dalam perjalanan ataupun kebutuhannya selama di Tanggerang sudah selesai ia persiapkan, termasuk picnic roll salah satu kue kesukaannya. Bu Puspa sengaja membelikan beberapa bungkus kotak kue picnic roll untuk dibawa putrinya pulang.

Stelia menarik daun pintu kayu dengan ukiran bunga edelweiss keluar dari kamarnya berniat berpamitan kepada papa dan mamanya. Tas ransel mini atau mini backpack dengan warna merah muda hadiah ulang tahun dari papanya dua tahun silam terpakai rapi di kedua bahunya.

"Pa, Stelia pamit dulu mau pulang ke Tanggerang, Papa cepet sembuh ya, janji ya," ucap Stelia menjulurkan jari kelingkingnya, mengikat jari kelingking papanya. "Sebenernya Stelia mau nemenin Papa aja disini."

"Iya Papa janji, kamu disana jaga diri baik-baik ya. Karena disana kamu jauh dari Papa-Mama." Bibir Pak Wijaya mengecup kening putrinya. "Udah gak usah kek anak umur 6 taun, kamu itu udah dewasa," lanjutnya.

"Iya-iya Pa, pokoknya sebelum Stelia liburan kuliah, Papa harus sembuh."

"Iya Papa janji, kamu ke Stasiun dianter supir aja ya jangan naik taxi," anjur Pak Wijaya kepada Stelia yang meninggikan sebelah kakinya bersiap untuk berdiri.

"Iya-iya Pa." Kemudian memutar tubuhnya ke arah Mamanya yang bersimpuh di atas sofa putih, lalu menghampiri mamanya yang terbalut pakaian dengan salah satu warna solid. "Ma, Stelia pamit pulang. Sebenernya Stelia masih kangen Mama-Papa, secara Stelia disini cuma tiga hari. Itu waktu yang teramat singkat," ungkap Stelia dengan mencium punggung tangan Bu Puspa.

"Setiap hari kita kan masih bisa video call, jangan sedih dong udah kek anak kecil aja, malu sama umur," sarkas Bu Puspa.

"Hehehe," pungkas Stelia dengan memperlihatkan deretan gigi rapinya. "Papa-Mama, Stelia pamit dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, hati-hati ya Nak."

Belum sempat Stelia mengawai kenop pintu, tiba-tiba ia mengurungkan niat melangkah ketika mendengar Pak Wijaya memanggil namanya.

"Stel tunggu, tas yang kamu pakai itu bukannya hadiah ulang tahun dari Papa ya?" tebak Pak Wijaya.

Mendengarnya, lantas Stelia kembali membalikkan tubuhnya ke king size tempat papanya terbaring. "Kok Papa masih inget?" tanya Stelia penasaran.

Pak Wijaya merespon enigma Stelia sekaligus dengan tambahan gurauan kecil untuk putrinya. "Iya dong Papa masih inget, Papa kan yang ngasih tas itu untuk kado ulang tahun kamu. Gimana kamu ini, masa masih muda udah pikun." Jawaban Pak Wijaya membuat kedua wanita yang paling dicintainya terkekeh. "Kamu suka hadiah Papa?" sambung Pak Wijaya dengan suara lembut.

Stelia menyempatkan tersenyum manis kepada orang tuanya sebelum menjawab, "Iya aku suka banget Pa. Salah satu tas favoritku malahan" Kemudian mata pandang Stelia menuju arah Mamanya yang sudah beralih duduk di sebelah Pak Wijaya, menunjukkan kalung di lehernya dengan ekspresi mesem. "Kalung dari Mama masih aku pakai juga lo.

Mendengar ucapan putrinya, Bu Puspa dan Pak Wijaya tersenyum bahagia. Stelia yang berdiri di dekat pintu pun kembali menghampiri Papa dan Mamanya, memeluk erat keduanya. "Makasih ya Papa-Mama udah jadi orang tua yang baik untuk Stelia, udah ngurusi Stelia dari kecil sampai sekarang. Aku sayang kalian berdua, sangat-sangat sayang." Ucapan tulus dari bibir Stelia membuat Pak Wijaya dan Bu Puspa tak bisa menahan cairan kristal yang menggenang.

Unconditional Love ( On Going )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang