14-Bangga jadi Bucinnya Rama!

497 77 546
                                    

Bahagia itu mudah, kita saja yang membuatnya terlihat lebih rumit dan memilih menangis daripada berjuang untuk sebuah kebahagiaan.

-Nara Pramudita Nareswari

_____

Nara celingukan di depan gerbang sekolah, ia sedang menunggu kedatangan pujaan hatinya. Siapa lagi kalau bukan Rama, lelaki itu menyita seluruh perhatian Nara. Nara memaksakan diri untuk berangkat sekolah meskipun lukanya masih terasa sakit.

Nara harus menunggu di luar gerbang, ia lupa mengucapkan selamat pagi kepada Rama di chat. Dan tentu saja, Nara harus menjadi orang pertama yang mengucapkan itu selain keluarga Rama.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit, sudah mulai banyak murid berdatangan dengan kendaraannya masing-masing. Namun orang-orang yang di tunggu-tunggu belum juga nampak dari penglihatannya.

Nara membalas senyuman atau sapaan dari mereka yang mengenalnya. Mungkin mereka pikir Nara sudah beralih profesi dari pelajar menjadi satpam sekolah. Tapi tidak apa-apa, demi Rama seorang ia rela!

"Rama mana sih? Udah 10 menit gue nunggu," Benar kata orang-orang, menunggu itu tidak enak. Apalagi menunggu orang yang kita anggap gebetan ternyata dia anggap gabutan.

Lelaki paruh baya terlihat mengernyit heran, ia mendekati Nara. "Nunggu siapa neng?"

Nara menoleh ke samping, mendapati mang Asep, satpam sekolah. "Nunggu pacar mang. Eh, belum pacar sih tapi Nara yakin bentar lagi pacaran."

"Si neng mah mani bucin pisan ey! Semangat berjuangnya neng!"

"Makasih mang, emang cinta itu perlu di perjuangkan," ucap Nara sedikit malas, agar percakapan nyambung saja.

"Setuju neng!" Sahut mang Asep semangat.

"Mang Asep dulu anak geng motor di Bandung, kerjaannya tawuran, bikin masalah, dan bucin sama pacar. Sampai-sampai mang Asep melupakan belajar, niat mang Asep ke sekolah cuma ketemu pacar. Kamu jangan kayak mang Asep yang masa depan suram gini ya! Jadikan calon pacar kamu itu sebagai motivasi belajar."

Nara menyipitkan matanya, ia memperhatikan lelaki paruh baya ini lekat-lekat. "Jangan-jangan... mang Asep ini Dilan?"

"Aduh neng, mang Asep teh suka malu. Banyak yang bilang mang mirip Dilan ey. Mang Asep nyadar kok, mang Asep emang kasep."

Meskipun geli, Nara membenarkan kalimat mang Asep. Lelaki paruh baya ini memang lumayan tampan di umurnya yang sudah tidak belia.

Nara menepuk keningnya, bisa-bisanya ia melupakan Rama. "Mang Asep liat calon pacar Nara enggak?"

"Enggak neng, kan belum di kasih tahu siapa orangnya."

"Nunggu Rama, mang."

"Oh, nunggu si kasep Rama. Tadi dia teh udah lewat neng," ucap mang Asep tenang.

Nara berdecak sebal, bisa-bisanya Mang Asep ini tampak tenang atas kesalahannya. "Mang Asep kenapa enggak ngasih tahu?"

"Mana mang Asep tahu kalau Rama itu calon pacar neng."

Nara tidak lagi membalas ucapan mang Asep, itu akan membuang-buang waktu saja. Nara bergegas menuju lift, bel masuk akan segera berbunyi. 07:01 Nara keluar dari lift dan mempercepat langkahnya menuju kelas Nara.

Sesampai di kelas, Nara mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal.  Seperti dugaannya, Ibu guru muda yang kelewat rajin itu sudah duduk manis di tempatnya.

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang