0

256K 10K 28
                                        

Dalam hidup, banyak hal yang ingin kulakukan selagi aku masih mampu melakukannya. Rencana masa depanku dan rencana-rencana kecil tentang hal-hal yang ingin kulakukan di masa mendatang sudah tersusun rapi dalam jurnal kecil milikku. Diantara semua hal yang ingin kulakukan, menikah tidak termasuk di dalamnya. Hidup dalam satu atap dengan seorang pria tidak ada dalam rencana masa depanku sejak saat itu.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Aku terjebak dalam ikatan suci yang menjengkelkan ini. Menjadi seorang istri karena menerima amanah dari mendiang istri suamiku. Suami. Ya, suami. Kata yang tidak ingin ku dengar lagi sejak waktu itu, kini harus keluar dari mulutku sendiri ketika melihat wajah pria yang kini bersanding denganku di atas pelaminan.

Dia menawan, walaupun dengan senyum terpaksa yang dia sunggingkan di bibir tipisnya yang seksi. Dia juga mapan secara materi. Dia hampir sempurna, kecuali satu hal. Dia membenci anaknya. Ya, bayi kecil yang dia jadikan pelampiasan atas duka dari kepergian istrinya.

Duka memang sudah menjadi bagian dari suka. Keduanya adalah kondisi yang akan selalu berdampingan dan tak terpisahkan. Tidak ada yang menginginkan mendapatkan duka saat kamu baru saja menyecap kebahagiaan dan sedang menyambut kelahiran buah cintamu. Aku sangat mengerti apa yang dirasakan suamiku. Tapi aku tidak bisa menerima jika dia membenci anaknya karena takdir yang tidak memihaknya. Anaknya tidak bersalah!

Aku melihat ke sekeliling. Para tamu undangan memenuhi ballroom hotel tempat diadakannya acara resepsi ini. Di sana, di antara kerumunan manusia kudapati seseorang yang menjadi alasanku tidak ingin menikah. Dia di sana bersama dengan kekasihnya, orang yang berperan sama besarnya dalam ketakutanku akan pernikahan. Ah, sepertinya ini tidak akan mudah.

*** 

Hey, MamaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora