2. Lelah

2.4K 382 11
                                    

Setelah 4 tahun menikah, ketika Taeyong sudah menyelesaikan kuliahnya dan mendapat pekerjaan, aku dan Taeyong memutuskan untuk pindah dari rumah mertuaku. Taeyong bekerja di perusahaan ayahnya dan aku memiliki bisnis online yang lumayan menghasilkan. Kami menyicil sebuah apartemen dan tinggal berdua di sana, dengan harapan agar hubungan kami bisa menjadi lebih dekat.

4 tahun awal kami menikah, Taeyong kuliah di luar kota dan dia hanya pulang saat akhir pekan. Dia sesekali mengirim pesan dan menanyakan kabarku begitupun sebaliknya. Tidak ada hubungan suami istri yang semestinya. Tidak ada kerinduan atau hasrat untuk bertemu. Selain karena saat itu kami masih berada di usia dimana kami seharusnya sibuk mencari jati diri, waktu untuk kami belajar saling mengenal tidak pernah cukup karena kepribadian kami yang tidak cocok.

Taeyong adalah laki-laki dingin yang suka berpergian keluar bersama teman-temannya, sedangkan aku adalah perempuan rumahan yang tidak pandai bergaul. Daripada menjadi seorang menantu, aku lebih mirip seperti seorang anak perempuan di rumah ayah dan ibu mertuaku.

Aku menyerah pada kuliahku karena terlalu malu. Butuh waktu yg lama bagiku untuk bangkit dari keterpurukan setelah anak yang kulahirkan susah payah meninggal. Rasa bersalah dan penyesalan yang bertumpuk-tumpuk di hatiku membuatku mengalami masa-masa yang berat.

Aku bersyukur karena kedua mertuaku begitu menyayangiku. Sangat. Baik mertuaku maupun orang tuaku, mereka tidak pernah menuntut apa-apa dariku dan Taeyong. Kami masih terlalu muda dan tidak mengerti apa-apa.

Dan setelah 3 bulan kami tinggal di apartemen, tidak ada perubahan yang berarti dalam hubungan kami, kecuali kami menjadi lebih mandiri.

"Jisoo.. " Taeyong memanggilku saat aku sedang asyik menonton TV. Aku bahkan tidak sadar kapan dia pulang ke rumah.

Saat ini dia berjalan ke arahku. Dia duduk di sampingku lalu menyerahkan sebuah amplop padaku.

"Uang bulan ini." Ucapnya.

Aku mengambil amplop itu sambil mengangguk,

"Sudah gajian?" Tanyaku basa basi, padahal jawabannya sudah jelas.

Dia mengangguk.

"Makasi Taeyong." Ucapku lalu beranjak menyimpan amplop berisi uang itu di dalam lemari.

"Ohya, nanti malam mau makan apa?" Tanyaku agak berteriak dari dalam kamar.

"Bebas." Jawab Taeyong.

"Pesan di luar mau?" Tanyaku.

"Boleh, biar aku yang traktir."

Beginilah kami membiayai hidup. Aku dan dia patungan setiap bulannya untuk biaya bahan makanan sehari-hari, tagihan rumah, air, listrik, dan sejenisnya. Tetapi untuk keperluan lainnya kami mengurusnya sendiri-sendiri. Karena kami sama-sama punya penghasilan.

Selama bertahun-tahun hubungan kami baik-baik saja. Aku dan Taeyong sama-sama sibuk bekerja. Kami mengumpulkan uang seperti orang gila harta, meski aku sendiri tidak tau akan kupergunakan untuk apa uangku nanti. Aku dan dia tidak memiliki tujuan masa depan.

"Gimana kabar kamu sama Taeyong,  Jis?" Tanya Kak Irene yang senantiasa mengkhwatirkanku. Saat ini dia tengah hamil. Melihatnya entah mengapa membuat ada rasa perih menjalar di dadaku, teringat masa-masa hamilku dulu.

Aku hanya mengangkat bahu. "Tidak ada yang spesial." Jawabku, sambil menyeruput minumanku. Saat ini aku sedang berada di rumah kakakku.

"Jangan terlalu sibuk kerja, sekali-sekali habiskan waktu berdua." Ucapnya. Aku hanya diam mencerna perkataan kakak perempuanku.

Kakak Iparku Suho nampak sedang sibuk di dapur. Dia mengambil alih tugas memasak semenjak Kak Irene hamil. Dia bahkan mengerjakan sebagian besar pekerjaan rumah.

A Million Path [Taesoo]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang