Aliya Side!

33.9K 1.5K 232
                                    

Happy Reading.

*

"Kak kenapa tidak coba pakai nama ini? Uhm atau ganti nama saja? Kurasa akan ada serius sensasi dan warna baru. Atau kakak sisipkan sosok Visual wanita mungkin akan lebih baik"

Nah itu contoh yang baik ya. Jadi perhatikan baik-baik.  Aku suka kalau semua baik🥰

Itu adalah kritik yang sangat saya terima dan akan saya balas dengan baik. Cara menulis dan kata-katanya sopan, tidak seperti ini.

SPESIAL MALAM JUMAT SAYA UPDATE.  ANGGAP AJA UCAPAN MAKASIH.

DAN SEDIKIT BOCORAN, TEMBUSIN BAB INI SAMPE 500 LIKE BARU SAYA UP LAGI.

See karena ada hal yang tidak enak saya rombak jadi. Please support Me! Dan tolong saya mohon lihat dulu kata-kata yang anda tulis sebelum disebarkan, karena itu bisa melukai siapapun. Anda segan saya lebih bisa segan. Jadi maklum ya, sama manusia juga yang punya emosi.

Maaf jika ini menyinggung. Sorry!

*

Aku diam merenung dalam kamar Kakek, 2 hari yang lalu Ayah membawa kami untuk tinggal dirumah, jelas atas paksaan Kakek yang ada di New Zealand.  Kakek menemani Paman.

Jimin?

Mencari Bianca. Entah aku juga tidak mau ikut campur dalam mencari Bianca. Aku sedikit gila akhir-akhir ini, beberapa kali aku ingin bermain dengan pelayan dengan menggunakan pistol.

Ayah jelas berteriak marah dan langsung menyembunyikan semua alat-alat itu. Aku suka pada benda-benda itu hanya saja semua yang dirumah ini melarang. Dan aku mencoba waras, aku tau bermain dengan benda-benda itu tidak benar.

Bawaan bayi! Itu kata Ibu. Sepertinya ibu lebih mengerti dari pada 4 laki-laki itu, jelas ayah, kedua kakakku dan Jimin sendiri. Membosankan sekali.

Aku tidak punya mainan apapun, susah sekaligus menyebalkan. Lisa ikut membantu melacak Bianca. Aku hanya disuruh diam dan istirahat.  Takut jika anak yang ada dalam kandungan ku kenapa-napa. Mereka parno, apa mereka fikir aku anak kecil. Aku bukan bocah lagi!

Aku tidak pernah berfikir akan sejauh ini. Aku akan mulai dari awal jika ini membingungkan.

Aku dari dulu selalu dikengkang dan harus menuruti semua kata-kata Kakek. Aku tidak dibiarkan bebas dalam hal apapun temasuk teman. Waktu itu aku masih kecil dan aku hanya hilang iya karena takut Kakek marah.

Tapi beranjak dewasa aku mulai bosan. Setiap hari selalu dikelilingi bodyguard dan hanya melakukan satu hal tanpa boleh melakukan yang lain.

Ini hal yang tidak pernah aku lakukan sebelum menikah dengan Jimin.

• Aku tidak punya teman. Satupun tidak punya.
• Tidak pernah kenal dengan yang namanya laki-laki luar.
• Tidak ada berkencan atau hal asmara lainya.
• Harus belajar dan tidak boleh keluar dengan orang selain keluarga.

Kurang lebih seperti itu dan banyak lagi. Tidak mungkin aku sebutkan satu-satu. Tidak akan bisa dibayangkan dengan otak.

Kuakui mereka sayang padaku tapi cara mereka membatasi interaksiku dengan dunia luar juga salah, aku butuh sosialisasi juga dan aku butuh teman.

Aku kecewa hanya saja kutahan, bagaimanapun aku ingin jadi anak baik untuk mereka dan aku harus menyadari jika aku perempuan.

Kujalani semua tanpa protes dan pada akhirnya aku kembali dipaksa.  Kali ini menikah dengan Jimin. Jelas awalnya aku tidak setuju dan menolak dengan mentah-mentah, alasanya pasti karena kami tidak melewati masa pacaran atau sejenisnya. Hanya foto yang menjadi media aku mengenal Jimin. Lainya tidak.

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang