13-Bersalah

580 86 540
                                    

Jangan ragukan cinta dan setiaku. Aku sudah sejauh ini menunggu, walaupun rinduku kau balas dengan bisu.

-Nara Pramudita Nareswari

____

Bel pulang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, namun koridor SMA Nusa Pratama masih cukup ramai oleh murid-murid yang berlalu-lalang.

"Permisi," Cewek mungil itu menyalip di antara kerumunan. Langkah kakinya memang pendek namun gerakannya yang gesit membuatnya unggul dari yang lain.

Cewek itu bernapas lega ketika orang yang sedari tadi di kejarnya sudah terlihat.

"RAMA YUHUUU! AY KAMBEK!"

Teriakan cewek itu membuat Rama menoleh sesaat. Rama bergidik ngeri, kemudian kembali mempercepat langkahnya.

"Buset! silau banget! Kayak masdep gue!" Ucap Nara kemudian cengengesan.

Nara tak mau kalah dari Rama, ia juga mempercepat langkahnya.

"RAMA, STOP!"

"KAU MENCURI HATIKU!"

Teriakan itu terdengar nyaring di koridor namun cowok itu tetap berjalan, tidak terpengaruh sama sekali.

"RAMAAA!"

"RAMA BERHENTI DONGGG! KALO GAK BERHENTI JODOHNYA KEK CIMOY!"

"EH AMIT-AMIT GUSTI! MASA GUE KALAH SAING SAMA CIMOY! ITU MELUKAI HARGA DIRIKU!"

"RAMA KASEP, BERHENTI DULU DONGGG!"

"EH EH-"

Bruk.

"PAPAHHH, SAKIIITT!"

Saking semangatnya, Nara tidak sadar bahwa tali sepatunya terlepas. Sebelumnya Nara baik-baik saja namun kini dirinya jatuh mengenaskan.

Langkah Rama langsung terhenti, ia meringis melihat Nara yang jatuh tengkurap di lantai. Rama melihat kaki dan siku Nara lecet serta berdarah karena terkena tepian ubin yang tajam.

Rama segera menghampiri Nara yang masih tengkurap mengenaskan di lantai lalu berjongkok untuk membantu Nara duduk.

"HUAAA, SAKIT RAMAA," Jerit Nara di sela isakannya.

Dengan sigap Rama menyelipkan tangannya di bawah lutut Nara, tangan kanan Nara ia lingkarkan pada lehernya sebelum mengangkat tubuh mungil  Nara ke dalam gendongannya. Rama akan mengobati Nara di UKS terlebih dahulu.

"Jangan cari kesempatan dalam kesempitan," bisik Rama.

Namun Nara tidak menggubris ucapan Rama, masih sempat-sempatnya Nara meraba wajah Rama yang mulus tanpa cela.

"Rama pake skincare apa sih? Kok bisa glowing gini?" Tanya Nara seraya tersenyum lebar.

"Nara!" Peringat Rama, ia menatap Nara tajam.

"Belum di jawab."

"Pake air wudhu," jawab Rama asal.

"Wawww! Kamu terlalu subhanAllah buat aku yang astagfirullah! Sholeh banget masa depanku!" Jerit Nara kemudian meringis kesakitan setelahnya.

Rama tidak menyahut, ia mempercepat langkahnya. Semakin cepat langkahnya maka ia juga semakin cepat terlepas dari Nara.

Nara beralih memperhatikan bibir ranum dan tipis milik Rama. "Kok bibir Rama bisa pink gitu? Pake lip balm, lip ice, lip gloss, lip tint, atau pake semuanya?"

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang