1 : PULANG

126 49 38
                                              

Zara Fahrani. Seorang gadis yang besar dan hidup di New York kini memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Sejak usia 5 tahun, gadis malang itu diasuh oleh seorang Ibu yang juga warga Indonesia.

"Sudah cukup lama aku hidup disini. Tapi, bukan disini rumahku. Ibu, terima kasih sudah menjaga dan merawatku sejak kecil. Ibu dulu pernah bilang, kalau aku pasti akan bertemu dengan ayahku. Aku akan menemukannya, Bu. Aku janji padamu." Ucap gadis itu sambil memandangi batu nisan kuburan ibu angkatnya.

Sepulang dari pemakaman, Zara langsung pergi ke bandara. Terbang ke Indonesia. Dimana dia akan memulai kehidupannya yang sebenarnya.

**

INDONESIA

"Saat di New York aku sangat bersemangat untuk menemukan ayahku. Tapi aku sama sekali tidak memikirkan dari mana aku harus memulainya. Aku bahkan tidak punya tempat tinggal. Jika harus menginap di hotel, lama-lama uangku juga bisa habis. Aku kan belum punya pekerjaan. Huh.." Zara mulai mengeluh.

"Nak..." seseorang memegang bahu Zara.

Zara menoleh ke arahnya. Orang itu adalah wanita tua namun penampilannya masih terlihat awet muda. "Iya, Bu. Ada apa ?" tanya Zara.

"Tadi Ibu nggak sengaja dengar kamu ngoceh sendiri. Apa kamu sedang butuh pekerjaan ?" tanya Ibu itu.

"Ah.. iya. Tapi karena saya baru saja sampai disini, saya nggak tahu tempat apapun." Jawab gadis itu.

"Kalau kamu kerja di perusahaan anak saya bagaimana ? Oh ya, kamu lulusan apa ?" tanya Ibu itu lagi.

"Ah..mm.. saya lulusan dari New York. Tapi, saya nggak tertarik. Terima kasih banyak tawarannya, Bu. Permisi." Zara langsung mempercepat langkahnya untuk pergi dari wanita itu. Dia takut wanita itu hanya menipunya.

"Huh.. Untung saja aku cepat pergi dari sana. Ibu pernah bilang untuk nggak selalu percaya dengan orang baru. Walaupun penampilannya meyakinkan, tapi bisa saja dia menipuku." Zara tampak kelelahan.

"Hari mulai gelap, mungkin sebaiknya aku menginap di hotel sementara. 2 sampai 3 hari mungkin cukup untuk mendapat pekerjaan."

Bermodalkan ponsel, akhirnya Zara menemukan sebuah restoran pizza dan hotel. Zara membeli pizza terlebih dahulu sebelum dia ke hotel. Ya, Zara sangat suka pizza. Zara tampak sangat kelelahan dengan perjalanannya.

**

"Saya pesan satu kamar." Zara memesan sebuah kamar setelah sampai di hotel.

"Ini kunci kamarnya, Mbak. Lantai 2 Kamar 38." Resepsionis memberi kartu kamarnya.

Zara langsung menuju lift dan sampai di kamarnya. Di depan pintu kamarnya, ada seorang pria yang keliahatan bermasalah dengan pintu kamarnya.

"Maaf, Mas, pintunya kenapa ?" tanya Zara pada pria itu.

Pria itu menoleh padanya, "Oh... Aku juga nggak tahu. Mungkin rusak, aku bakal panggil pegawai hotel ini." Ucapnya.

"Mas, kalau saya yang perbaiki boleh nggak ?" Zara menawarkan bantuannya.

"Kamu bisa perbaiki ini ?" tanya pria itu merasa tidak yakin.

"Tenang aja, Mas. Aku bisa memperbaiki apapun." Jawab Zara dengan percaya diri.

"Oke. Kalau kamu memang bisa. Silahkan." Pria itu tersenyum dengan semangat dan percaya diri Zara.

Zara langsung mengeluarkan sekotak peralatan yang dibawanya dari New York. Pria itu kaget dengan peralatan yang dibawa Zara ada sebanyak itu.

"Itu semua peralatan kamu ? Sebanyak itu ? Seorang gadis cantik punya peralatan sebanyak itu ? Aku saja yang pria tidak punyak sebanyak dan selengkap itu." Ucap Pria itu karena heran dengan peralatan bawaan Zara.

"Iya. Ini semua punyaku. Karena dengan peralatan ini, ponsel, serta kecerdasanku, aku bisa memperbaiki apapun." Jawab Zara sambil tetap memperbaiki pintu.

10 menit Zara memperbaiki pintu, dan akhirnya selesai. Kartu milik pria itu berhasil ter-scan dan pintu dapat dibuka.

"Lihat, sudah selesai." Ucap Zara dengan lantang.

"Wow. Kamu benar-benar hebat. Thanks." Ucap pria itu.

"Sama-sama, Mas. Saya juga senang dapat menggunakan keahlian saya untuk membantu orang." Jawab Zara.

"Aldo. Jangan panggil Mas lagi, ya." Ucap pria itu seraya mengulurkan tangannya pada Zara.

Zara membalas uluran tangannya, " Zara. Oke, Aldo." Ucapnya sambil tersenyum.

Kemudian mereka berdua tersenyum satu sama lain dan masuk ke kamar mereka masing-masing.

**

"Ayah dimana ? Aku sangat merindukan Ayah." Zara mulai meneteskan air matanya ketika melihat foto usang Ayahnya.

"Entah kenapa, sekarang aku merindukan Papa. Aku sangat rindu Papa." Aldo melihat fotonya bersama Papanya.

"Ayah..."

"Papa..."

BERSAMBUNG...

Jangan lupa Vote & Comment yaa

Enjoy !!

Arka & Zara [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang