107 15 31
                                              

さん [san]: tiga

Menyembul keluar. Kotak pos berwarna merah padam ditutup dengan paksa bersama sekotak hadiah yang memenuhinya. Seperti minggu-minggu lalu, kotak pos merah milik Secha selalu menerima hadiah. Entah gaun, mantel, sepatu, bahkan tas seharga sepuluh kali lebih mahal daripada tas yang Secha punya.

Gadis itu mendengus kesal. Ia lagi-lagi harus menerima hadiah yang tak diinginkan.

Sambil membawa tiga kantong belanjaan dan sekotak hadiah, Secha melangkah masuk ke dalam rumah yang dibeli setelah empat semester menjadi mahasiswi di Universitas Hokkaido.

Ia meletakkan kotak hadiah di ruangan khusus tempat hadiah-hadiah lain berada. Sedikitnya, ada seratus kotak hadiah yang memenuhi ruangan ini. Ratusan hadiah itu hanya Secha baca surat pengantarnya tanpa berani ia buka. Sejujurnya ia risih, dan ingin mengembalikan semuanya. Namun, hatinya sudah lebih dulu disambangi rasa sungkan. Hingga berakhir menumpuk gunung hadiah seperti sekarang.

Sang pengirim hadiah adalah Watanabe Naoki, kakak tingkat Secha yang juga tetangga pintu sebelahnya. Sejak kali pertama Secha bertemu dengan Naoki, ia telah menyadari bahwa Naoki tidak hanya menatapnya sebagai tetangga dan adik tingkat. Lelaki 24 tahunan itu menyukai Secha. Kendati demikian, Naoki belum pernah mengatakan pada Secha, entah dengan alasan apa. Naoki hanya terus menerus mengirimi Secha hadiah tanpa maksud yang jelas.

Berniat untuk membereskan belanjaannya, Secha lantas berjalan ke dapur setelah beberapa saat merenungi semua hadiah-hadiahnya.

Satu persatu kantong ia keluarkan isinya. Ada sayuran, susu, daging, dan berbagai kebutuhan lainnya. Ia kemudian meletakkan bahan-bahan masakan di dalam lemari pendingin dan menuju rak di bawah kompor untuk meletakkan beberapa makanan instan.

Setelah usai dengan urusan dapur, Secha beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Ia baru saja akan meraih handuk, namun dering ponsel membuat pegerakannya terhenti. Ia lantas mengambil ponselnya dan melihat ada nomor asing yang tertera. Secha rasa itu nomor Akira.

"Selamat siang," buka Secha.

"Nona Seraphina, tolong jemput aku di kedai depan blokku. Tolong cepat!"

Pagi ini dapur rumah Secha sudah sibuk karena Secha sengaja bangun pagi untuk membuat sarapan. Gadis itu ditemani Akira yang kini duduk di mini bar. Beberapa plaster luka di wajah Akira membuat Secha semakin penasaran ada apa dengan gadis itu. Namun, ia rasa bukan tempatnya untuk mengulik lebih dalam, tetapi jika Akira meminta bantuannya maka sudah menjadi kewajiban Secha untuk membantu.

Secha yang sedari tadi bekerja sendiri nyatanya cukup andal dan mengerti dengan apa yang ia kerjakan. Ia telah menumis asparagus dan memanggang empat potong roti dengan lelehan butter dan cincangan bawang putih. Hidangan yang cukup ringan untuk memulai hari.

Aroma masakan yang mengudara belum mampu mengusik Akira dan segala lamunan yang ia bawa sejak keluar dari kamar tadi. Gadis itu terlalu larut dengan beban pikirannya. Ia memikirkan mama yang terkunci dari luar. Ah ralat, ia kunci dengan sengaja.

"Akira, ayo makan," titah Secha. Kemudian ia menyendok tumis asparagus lalu memakannya.

Sedangkan Akira, gadis itu masih termenung tanpa sama sekali peka dengan gerakan Secha.

𝐇𝐎𝐒𝐓𝐀𝐆𝐄Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang