upacara.

2K 240 82
                                                  

author's note: di chapter ini, saya berusaha untuk 'menangkap' momen keakraban dari tiap karakter, dan momen kehangatan dari teman-teman Sakura dan Kakashi. Semoga dapet ya, feel-nya!

--------

Sakura termangu menatap langit-langit rumah yang tak biasa dipandangnya. Lamunan tentang Sasuke masih singgah di kepalanya, tak kuasa menahan ratusan skenario yang tercipta bila pria yang dicintainya itu bisa tinggal di Konoha bersamanya.

Bila begitu, mungkin mereka akan menikmati waktu-waktu berbincang seraya menyantap ramen berdua--atau berempat, jikalau Naruto dan Kakashi memutuskan untuk menimbrung, mengganggu. Sakura tersenyum.

Atau mungkin, Sasuke akan mengajaknya berkeliling desa. Melihat apa saja yang sudah berubah sejak kepergiannya. Tentu sepenuh hati akan ditemaninya ke mana pun Uchiha Sasuke pergi.

Atau... hanya sekadar berbincang di apartemennya, hanya berdua--

Aduh, bukan itu maksudnya. Hanya berbincang! Hanya berbincang! Bangun, Sakura!

Gadis yang tengah beranjak dewasa itu merasakan hangat menjalar pada pipi bersihnya. Sakura menggelengkan kepala, berusaha menghempaskan pikiran yang tidak-tidak.

Atau, mungkin... oh.

Ikut berkelana dengan Sasuke merupakan gagasan yang menarik.

"Sakuraaaa!"

Nada alto seorang wanita menyentak Sakura dari posisi tidurnya semula. Dirapikannya vest merah panjang itu, barulah ia berdiri seraya menjawab, "Ya, Bu!"

Beberapa lama ini, Sakura kembali menginap di kediaman kedua orangtuanya. Haruno Kizashi dan Mebuki sangatlah khawatir akan keselamatan anaknya pasca perang. Mereka merindukan putrinya. Sakura menghargai perasaan tersebut, memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan dua orang paling spesial sebelum kembali ke rutinitasnya di rumah sakit.

"Makan malam sudah siap!"

Aroma sup dan daging kesukaannya melintas penuh goda di hidungnya, tepat saat dirinya membuka pintu kamar. Polesan senyum tipis muncul pada wajah putih meronanya yang baru saja pulih dari peperangan.

"Baunya enak sekali, Kaa-san!"

Mebuki berjalan menampakkan dirinya dari dapur. Senyum bahagia terpancar dari wajah rampingnya yang mulai menua.

"Tentu saja. Malam terakhirmu harus spesial!"

"Kaa-san..." Sakura mengernyitkan kening, menutupi rasa sedih, "aku akan mengunjungimu sering-sering. Janji."

"Benarkah?" Kizashi Haruno menyahut dari balik ruang keluarga. Berdirilah ia untuk segera menghampiri putrinya, memberikan tepukan hangat di kepalanya. "Kalau begitu jatah dagingmu untukku, ya!" canda ayahnya.

"Enak saja!" gurau si putri dengan tawa geli.

Malam hangat itu dihabiskan klan Haruno dengan hidangan sederhana yang selalu mewah di hati Sakura. Gadis muda itu sekali dua kali bercerita tentang perang kemarin, membuat ibu dan ayahnya sedikit gemetar, ikut berempati dalam pedihnya cerita gadis kecilnya.

Kabar baik pun tak luput membalut rasa lega pasca cerita mengerikan itu.

"Mulai besok, aku diangkat menjadi kepala medis di Rumah Sakit Konoha."

Wajah ayah dan ibunya bersinar dalam kebahagiaan. Ayahnya tertawa lantang, sangat bergirang hati, betapa dirinya tak menyangka putri kecilnya dapat menjadi orang sehebat ini. Sementara, sang ibu memoles senyum haru, merungkupi air matanya dengan menyibukkan diri memindahkan daging lebih banyak untuk memberikan apresiasi pada putrinya.

Awhile.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang