Bab 1 | Kompetisi Kelas

15 1 1
                                        

"Besok pagi tolong siapkan koperku, pukul sembilan aku harus berada di stasiun untuk segera pergi ke Busan. Banyak pekerjaan yang membutuhkan tenagaku sehingga kurasa aku akan menetap cukup lama." Setelah menghabiskan beberapa iris apel, Lee Ye Jun melirik istrinya -Lee Choon Hee, yang tengah mengupas apel untuk dihidangkan di atas piringnya. Sekadar memastikan bagaimana respon sang istri begitu mendengar kabar bahwa Ye Jun ingin meninggalkan Seoul lagi selepas beberapa hari yang lalu baru saja pulang dari Incheon. Wanita paruh baya itu tak berhenti melepaskan tatapannya pada sosok yang kini nampak santai menikmati apelnya. Seolah tak merasakan intimidasi pada tatapan tajam wanita berambut hitam legam itu.

"Mwo? Kau serius dengan perkataanmu?" Choon Hee menampilkan smirk terbaiknya, beberapa detik kemudian menimpali "Kupikir usai pergi ke Incheon kau bisa menghabiskan waktumu untuk Tae Yoon. Tetapi, rupanya sulit sekali membuatmu bertahan di rumah." Choon Hee mengusap wajahnya yang begitu lelah. Lantas memijit pelipisnya yang terasa amat berat.

"Harus bagaimana lagi? Tidak mudah membangun sebuah usaha dan ini menjadi kesempatan emasku karena kebetulan Seung Cheol mengajakku bertemu rekan bisnisnya di Busan. Tak baik menolak sebuah tawaran, bukankah begitu?" Menyadari irisan apel di piringnya habis, jemarinya berpindah mengambil secangkir teh hijau. Seolah memberi tahu Choon Hee dengan bahasa tubuhnya bahwa ia tak ingin memperpanjang masalah sepele ini.

"Bagaimana dengan Tae Yoon yang selalu kau tinggal? Aku sangat berharap anak itu tidak mengalami masalah psikis melihat teman-temannya sangat akrab dengan ayahnya. Sedangkan, dirimu? Lihatlah dirimu! Kulihat kedekatanmu dengan Tae Yoon bukan seperti seorang ayah dan putranya. Lebih mirip seperti orang asing yang tinggal satu atap. Apa aku salah?" Choon Hee menatap mata Ye Jun dengan kelopak yang berair.

"Yak! Tutup mulutmu! Aku selalu menyediakan waktuku untuk Tae Yoon dan kau pun seharusnya mengerti tanggung jawabku. Kau seorang ibu dan aku ayahnya, apa yang salah dari ayah yang ingin melihat keluarganya bahagia dengan tak kekurangan apapun?"

"Tidak kekurangan katamu? Tae Yoon sangat miskin kasih sayang seorang ayah. Dan kau melupakan satu hal, bahwa kau jarang sekali berbicara dengan Tae Yoon, bahkan untuk sekadar menjemput Tae Yoon pulang dari sekolahnya saja mungkin dapat kuhitung dengan jari. Ah, sepertinya aku mulai penasaran dengan bisnismu disana. Katakan, apa yang kau lakukan disana? Beritahu aku, aku akan coba memahaminya." Ye Jun melirik Choon Hee dengan tatapan tajam, mengartikan bahwa ia mulai tidak nyaman dengan pertanyaan yang diajukan istrinya. Bagaimana istrinya bisa mencurigainya seperti ini? Apa yang ada di kepalanya? Apa yang meracuni pikiran wanita itu sehingga melontarkan pertanyaan yang ia sudah tahu sendiri jawabannya? Jawaban apa lagi yang ingin ia dengar? Apa yang ingin ia pastikan dari pekerjaan Ye Jun? Kepala Ye Jun penuh sesak oleh segala macam spekulasi. Diliriknya Choon Hee yang saat ini membuang muka.

"Lihatlah! Sekarang bicaramu meracau! Apa kau kurang makan? Apa makanmu tidak nyaman karena lauknya terlalu murah? Apa tidurmu semalam kurang nyenyak karena kasur kita sudah tua? Apa pagimu menyebalkan karena lipstikmu habis? Apa perlu aku bekerja lebih keras dari ini untuk membeli semuanya? Yak! Kau ini benar-benar tidak tahu diri!" Ye Jun berdiri dengan telapak tangan yang nyaris melayang tepat di pipi Choon Hee namun urung karena mengetahui keberadaan Tae Yoon lengkap dengan seragam sekolahnya.

Sembari mengunyah permen karet, Tae Yoon memutar bola matanya jengah. "Eomma appa selesaikan dulu berdebatnya. Aku akan menunggu disini."

"Tae Yoon-ah sudah siap? Ah, eomma rasa kita harus cepat-cepat sebelum terlambat sampai di sekolah. Oh, iya. eomma hampir lupa memberikan bekalmu." Choon Hee meraih kotak makan di atas meja seraya berjalan mendekati Tae Yoon untuk menyerahkan bekal makan siang pada putra semata wayangnya itu. Tae Yoon menerima kotak makan siangnya lantas lekas ia masukkan ke dalam tasnya. Baru hendak berbalik badan, Choon Hee berusaha meraih tangan Tae Yoon untuk digenggamnya erat-erat seolah menolak dipisahkan dengan putranya itu. Namun, ekspektasinya dipatahkan ketika Tae Yoon berlalu pergi meninggalkan ibunya tanpa sepatah kata. Hatinya menyesal telah membuat laki-laki bermarga Lee itu kecewa.

Death NoteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang