12-Berubah?

616 93 632
                                    

Denganmu, aku rela menyeduh kopi tanpa gula. Sebab dirimu adalah pemanis paling sempurna. Sayangnya, manis berlebihan itu berbahaya.

-Nara Pramudita Nareswari

____

Nara melirik gelang pemberian Rama yang melingkar indah di tangannya, satu-satunya saksi bisu dalam hari bersejarahnya. Melihat gelang itu, otomatis membuat Nara senyum-senyum sendiri.

Nara membawa pastry kesukaan Rama yang di buatnya sendiri untuk Rama. Nara sedikit bersenandung, ia tidak sabar memberikan pastry ini. Nara melirik jam tangannya, pukul 6 pagi. Pasti Rama belum datang ke sekolah.

Sebelum memasuki kelas, Nara merapihkan  rambutnya terlebih dahulu yang sedikit berantakan akibat angin. Setelah itu, Nara memasuki kelas dengan penuh semangat.

Langkah Nara terhenti di ambang pintu, kedua matanya mengerjap melihat objek di hadapannya. Nara memegang dadanya, menghentikan desiran aneh yang tiba-tiba menerjangnya.

Nara melihat Rama sudah di dalam kelas, dengan seorang gadis. Gadis bernama Shinta Ayu Atmariani. Terlihat Rama sedang mengajari adik kelasnya itu dengan telaten.

Nara mencoba tersenyum, ia bisa memaklumi. Nara berjalan mendekat, tujuannya hanya untuk memberikan pastry ini.

"Romantis banget ya kalian, pagi-pagi udah belajar bareng!"

Ucapan Nara menghentikan aktivitas belajar Rama dan Shinta, mereka beralih menatap Nara.

Shinta menatap Nara dengan segan lalu tersenyum canggung setelahnya. "Ngg, kak. Aku cuma minta di ajarin beberapa rumus kok."

Nara tersenyum singkat. "Iya, aku tahu."

Shinta tersenyum lega, untung saja kali ini emosi kakak kelasnya ini tidak meluap-luap.

"Asalkan kamu jangan suka sama Rama loh, Rama itu punya aku!" Ucap Nara posesif, pacar juga bukan.

"Iy-iya kak," sahut Shinta terbata.

Nara menampilkan senyum paling manisnya. "Hai Rama! Nara bawa pastry kesukaan Rama loh."

"Pasti Rama bingung kan? Nara tahu darimana. Nara tahu dari kakak ipar. Ups, kak Indi maksudnya," ucap Nara yang terkekeh pelan setelahnya.

"Nara taruh di sini ya? Jangan lupa di makan."

"Bawa lagi aja. Gue udah makan di kantin." Jawab Rama tanpa menatap Nara sedikitpun.

Senyum Nara menghilang beberapa detik namun ia mencoba tersenyum lagi.

"Oh, Nara tahu nih. Rama mau jajanan yang lain kan? Lagi bosen makan pastry? Mau roti atau apa?"

"Mau sekalian di beliin air mineral juga?"

Rama membanting bukunya ke atas meja, membuat Nara dan Shinta terkesiap. "Jangan ganggu belajar gue, Nara!"

Nara mendengus sebal, ia tidak terima niat baiknya di anggap buruk. "Kenapa? Gue kan cuma mau niat baik dengan ngasih pastry ini."

Kalau gaya bicara Nara sudah kembali menjadi gue-lo, artinya gadis ini sudah tidak mau berbasa-basi.

"Karena gue enggak butuh niat baik lo," jawab Rama.

"Terus kenapa kemarin lo baik banget sama gue? Ngajak jalan! ngasih gelang lo lagi!"

"Kenapa Ram? Lo gengsi ngakuin ngajak gue jalan duluan?"

Shinta terlihat kaget, Rama yang terlihat bodoamat-an ternyata bisa berbuat hal manis juga.

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang