PROLOG

258 111 48
                                    

"Mari merangkai bunyi dengan kata, yang disusun oleh abjad-abjad cinta"

—Aku, kamu, dan kita berdua

Apakah ada dari kalian yang mempunyai nama tanpa huruf vokal? Jika ada, maka kalian sama saja dengan kisah romansa yang hanya tersematkan konsonan belaka. Tiada bunyi, terasa mati.

Cinta tidak melulu soal gembira, tak selalu tentang ceria. Adakalanya ia butuh sedih dan duka cita, agar tahu makna sejati bahagia.

Tentang konsonan yang kehilangan vokalnya.

Tentang rasa yang kehilangan asa.

Tentang aku yang kehilangan dirinya.

* * * * * * * * * *

Aku adalah seorang Pegawai Negeri Sipil di sebuah kantor Kecamatan di daerah Kabupaten Kota Bengkulu. Tepatnya Kecamatan Gading Cempaka. Jika kalian tak tahu, sungguh keterlaluan! Karena di situlah letak rumah pengasingan Presiden pertama kita, Bung Karno.

Puji syukur atas Tuhan yang memberikan kemudahan atas karier kerjaku yang terus gemilang. Akhir pekan lalu aku di beri amanah untuk menjadi Wakil Camat.

Kabar baik, sekaligus kabar buruk. Apalagi di masa wabah pandemi virus korona yang tak kunjung sudah ini, pasti selalu dituntut untuk kerja extra. Di mana ada halangan bagi Pak Camat, di situlah aku mendapatkan mandat.

Dan sebenarnya kinerjaku lebih banyak ketimbang Pak Camat yang sekedar duduk rapi di ruangan miliknya, menyeruput kopi sambil menandatangani berkas yang tak seberapa. Ah, enak sekali dirinya. Tapi aku segera menepis prasangka tersebut. Karena aku sudah cukup bersyukur menjadi second person. Tak apalah.

Dari dulu aku memang menginginkan profesi ini. Jangan tanya kenapa cita-citaku tak sebesar kalian, karena aku mencoba untuk realistis. Tidak penuh khayalan seperti kalian.

Lucu saja jika aku melihat generasi penerus bangsa ini. Punya impian yang tinggi, namun malas melakukan eksekusi. Takut dengan konsekuensi. Yang berujung pada pengandaian tanpa arti, halusinasi.

Wahai generasi bangsa! Jika saat ini cita-cita yang kalian damba semisal menjadi dokter, polisi, atau mungkin pengacara, tapi lemah akan usaha. Boleh jadi ketika kalian sudah beranjak dewasa, cita-cita itu menjadi sekedar mengenyangkan perut belaka. Demi sesuap nasi yang tak seberapa, sungguh malang nasibnya.

"Pak Adnan, kapan nikahnya?" Pak Camat tiba-tiba menanyakan hal itu untuk ke sekian kalinya, di sela jam istirahat tentunya.

Ya, aku yang dengan segala kemapanan pekerjaan dan sudah mencapai kematangan berpikir ini masih belum menemukan orang yang cocok untuk menjadi pendampingku.

Dan pertanyaan itu seringkali menghujaniku setiap saat, seolah menjadi challenge harian bagiku untuk bisa menjawab dengan berbagai alasan.

Aku sedikit kesal dengan hal itu, padahal umurku masih berbilang muda. Mirisnya adalah seluruh pegawai di kantor memanggilku dengan sebutan 'Pak' sejak menjadi Wakil Camat. Padahal Bulan depan nanti baru genap menginjak 27 tahun. Masih cukup bujang bukan? Aku tidak mau terburu-buru dalam urusan ini. Sebab masalah jodoh sudah ditentukan oleh yang di atas, kan?

"Sudahlah Pak Adnan, mau sampai kapan sih hidup sendiri seperti itu? Kemarin ada adik dari teman saya di kecamatan sebelah, minta kenalan. Namanya Husna. Orangnya cantik dan supel, lho. Baik pula sifatnya. Ah, andai saja saya belum menikah seperti anda, sudah saya lamar langsung ke rumahnya. Gimana, Pak Adnan?" Pak Budi, Sekretaris Camat yang sedang memeriksa data penyusunan perencanaan kepegawaian pun ikut menimpali.

Lagi-lagi aku ditawari menikah dengan orang yang sama sekali belum pernah kutemui. Aku benci dengan deskripsi orang lain, karena ingin mendengar suara dari diriku sendiri.

Kuakui aku cukup egois sebagai lelaki, tapi aku hanya bertindak selektif agar dapat membina rumah tangga yang kuidamkan dan kuinginkan.

Bukan lantaran karena dirinya cantik, supel, dan baik lantas aku mengangguk setuju. Tak sesederhana itu. Aku butuh koneksi yang kuat, tidak sekedar hanya kata orang saja.

"Ayolah, Pak. Umur anda sudah cukup, pekerjaan juga dapat gaji tetap, punya karier cemerlang pula. Sebenarnya kriteria Pak Adnan itu seperti apa?" Pak Budi tak henti-hentinya berceloteh ria lalu dengan ringannya menjabarkan semua hal yang menurutnya baik, padahal belum tentu seperti itu bagiku.

"Saya hanya mencoba untuk selektif saja. Memang tidak ada yang sempurna, hanya berusaha mendapatkan yang terbaik untuk diri saya," kataku dengan sedikit mengelus dada, sudah tak terhitung berapa kali kalimat ini kuucapkan sejak menjabat sebagai Wakil Camat.

Manusia memang selalu mencari setiap kejelekan dan kekurangan seseorang. Ada saja celanya, ada saja salahnya. Aku mungkin terlalu naif, tapi hanya itulah jawaban pemungkas milikku jika disodori pertanyaan yang itu-itu saja.

* * * * * * * * * *

"Hoi, sanak¹! Sombong, ya, sekarang, mentang-mentang udah jadi Pak Wakil nih."

Sebut saja namanya Icha, temanku sewaktu SMP. Meski nama sebenarnya adalah Annisa Nabila Salsabila Putri. Jauh berbeda bukan? Setiap ada nama 'Annisa' pasti selalu saja dipanggil 'Icha', entah kenapa bisa begitu. Apa kalian punya teman yang seperti ini juga?

"Dasar, ketuk pintu dulu sebelum masuk, dong." Aku serta merta menatap perutnya yang membuncit, tampak lebih besar. "Astaga, udah berapa bulan?"

"Dua bulan lagi ambo² lahiran lho, jangan lupa datang, ya," ucap Icha sambil mengusap perutnya pelan, lantas meletakkan kartu undangan di atas mejaku. "Nih, awas nggak datang!"

"Wow, acara lahiran anak sampai buat undangan?! Sumpah, tajir kali suamimu, Cha!" kataku yang terkejut melihat kartu undangan itu, terlihat mewah.

"Ih, biasa aja ini. Mending awak³ cepatlah nikah, banyak cewe naksir awak sekarang. Lama nian mikir, tinggal pilih salah satu bae⁴." Icha memandangku dengan tatapan yang sama seperti dulu, masih belum berubah. Binar mata yang penuh harap.

Sebelum Icha menikah dengan Agung, suaminya yang seorang pengusaha sukses, ia sempat datang ke rumahku dalam keadaan terisak. Menangis meraung-raung kencang, bahkan membuat dinding rumahku bergema saking kerasnya.

Ah, saat itu telingaku seperti mau pecah lantaran frekuensi tenor pekik wanita. Saat kutanya alasannya menangis, dirinya malah terdiam. Lalu mengucapkan kata-kata yang membuatku tercenggang.

"Ambo malas nikah sama Agung. Karena aku cuma suka awak, Nan."

Itu yang ia ucapkan kala itu, membuatku merasa amat sangat bersalah setelah kutolak dengan halus. Mengingat pernikahan tersebut tak boleh hancur hanya karena diriku. Dan jujur saja, selama ini aku hanya menganggap Icha hanya sebatas teman. Tak lebih, tak kurang.

Pun saat itu diriku masih belum mapan keadaan, baik secara finansial maupun pikiran. Yang kukejar hanya soal karier pekerjaan tanpa mengecamkan masalah pernikahan. Dan sekarang, aku dirundung penyesalan.

Sampai semuanya berlalu, ketika aku bertemu dengan gadis bermata biru. Yang membuatku laksana pangeran di zaman dahulu, dengan serangkaian kisah yang kutak pernah tahu.

Membuatku ingin sekali memiliki dirinya. Seutuhnya, apapun resikonya. Meski sebagian besar orang memandangnya dengan sebelah mata, tak mengapa. Karena bagiku, dirinya begitu mempesona, walau dengan keterbatasan yang ada.

Nama? Ah, kau tebak sendiri sajalah. Cobalah sebut seluruh nama wanita di dunia ini, mungkin dia termasuk salah satunya. Nama yang tak sanggup terlupa, walau hanya satu kata.

Nama yang memikat hatiku padanya. Tersematkan tiga huruf konsonan dalamnya, tiga huruf pula vokalnya. Dengan arti yang berjuta rasanya.

Siapakah dia?


TO BE CONTINUED..

¹ Saudara
² Aku
³ Kamu
⁴ Saja

Konsonan Cinta yang Hilang Vokalnya ✔ (SUDAH TERBIT) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang