12

67 12 0
                                                  

Tidak ada yang lebih berharga dibanding sebuah keluarga
yang saling memahami satu sama lain.
― Seira


֍֍֍֍֍

Duduk termangu dengan ibujari kanan yang mengusap gagang cangkir berisi kopi hitam dan tangan kiri yang menumpu dagu. Pandangannya terlihat bias menatap luar jendela kaca, dimana hilir mudik pejalan kaki yang memadati salah satu jalanan di Yokohama.

Ia menarik nafas dalam dan menghelanya dengan pelan. Lalu kedua tangannya mengusap dahi dan menyugar rambutnya ke belakang. Wajahnya tampak frustasi memikirkan kasus yang sedang ia tangani. Meskipun secara garis besar tugasnya sudah bisa dikatakan selesai. Tapi....

"Bagaimana ini?!" Rutuknya pelan sambil membentur-benturkan kepala pada meja kayu berwarna coklat tua.

"Kau bisa amnesia, Sei."

Wanita itu mendongak, menatap penuh haru pada sahabat yang kini mendudukan diri didepannya sambil meletakan coklat panas dari tangan kanan dan meletakan sebuah buku tebal diatas meja dari tangan kiri.

"Lalu aku harus bagaimana, Luuuz?" Lagi, wanita itu menyugar rambut panjangnya ke belakang. Terlihat raut wajah bingung penuh ketidakpastian.

"Untuk sekarang sebaiknya dirahasiakan dulu dari Mr. Kakashi." Luza mulai membuka buku yang semula ia bawa.

"Aku mendatangi makam ibunya." Seira memegang cangkir kopi yang sedari tadi ia abaikan. Lalu meletakan kembali cangkir ditempat semula. Ia hanya memegang, tanpa ada keinginan untuk membawa kopi hitam itu ke dekat mulut dan menyruputnya.
"Didalam batu nisan itu.... tertulis marga suaminya."

Luza mendongak, mengalihkan tatapannya dari buku tebal.
"Benarkah?" Sepertinya kini ketertarikan Luza beralih pada cerita sang sahabat ketimbang buku kesayangannya.

Seira mengangguk. "Hukum di negara  kita sangat ketat. Banyak yang menyembunyikan pernikahan lain mereka dari istri pertama. Karena itu, banyak wanita yang menjadi istri ke dua tidak mewarisi marga suaminya. Tapi..." Ia menggantungkan ucapan.

"Kalau istri pertama manyetujui pernikahan mereka, istri ke dua akan mendapatkan marga yang sama seperti suaminya dan pernikahan mereka dianggap sah dimata hukum." Luza menambahkan.

"Kau benar." Seira mengetuk-ketukan telunjuk pada meja dengan wajah yang sangat serius sembari memikirkan sesuatu yang sedari tadi mengganggu.
"Dan sekarang permasalahannya, Kakashi seperti memiliki dendam dengan keluarga dari pihak istri pertama. Termasuk saudara tirinya."

Tubuh Luza langsung condong ke depan. "Jadi Mr. Kakashi memiliki saudara?! Kakak atau adik?"

Dahi Seira berkerut, matanya menyipit dengan kepala yang sedikit miring ke kiri sambil mengingat obrolannya dengan Kakashi beberapa waktu lalu. "Ku rasa pria kaya itu menjadi yang termuda."

Luza menggumam, "Jadi Mr. Kakashi punya kakak tiri ya..." Lalu mendengus pelan. "Apa kau juga menemukan jejak keluarga kakak tiri Mr. Kakashi?"

Seira menggeleng. "Sudah ku cari di seluruh Yokohama. Tidak ada yang memiliki marga Hatake selain Kakashi. Aku bahkan meminta bocoran pada petugas catatan sipil pemerintah. Tidak ada yang menggunakan marga itu disini." Seira melipat kedua tangan didepan dada.
'Kalau benar dugaanku, ada seseorang yang dengan sengaja menghapus jejak mereka.' Batinnya.

"Mungkin saja dia pergi ke luar negeri...?" Setengah tidak yakin dengan ucapannya sendiri, Luza sampai menghendikan bahu.

Seira mendecakan lidah setelah berfikir beberapa saat. "Sepertinya kasus ini lebih rumit dari dugaan awal. Aku harus mengembalikannya lagi pada ketua distrik barat." Seira menyandarkan punggungnya.
'Meski dipikirkan ratusan kali pun kalau sampai benar identitas mereka dihapus dari data catatan sipil, itu artinya aku berurusan dengan monster yang bisa kapan saja melahapku dan keturunanku.' Lagi, Seira memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi jika penyelidikan ini dilanjutkan.

FRIEND ZONE (1st Friend Series)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang