Kisah Untuk Dinda #1

97.4K 2.8K 371
                                    

Kalau orang lain bertanya siapa seseorang yang menjadi panutan dalam hidup Dinda. Dia bisa menjawabnya, bahwa seseorang itu adalah Iren. Banyak hal dapat dipelajari dalam sosok Iren, di rumah dia bisa menjelma menjadi ibu yang hangat sekaligus perhatian untuk Lucy, tapi dalam pekerjaannya, dia seperti Anna Wintour, yang menginspirasi karakter Meryl Streep dalam film Devil Wears Prada: dingin sekaligus mengintimidasi.

Sama sekali tidak pernah terpikir di benak Dinda bahwa dia memiliki kesempatan bekerja di salon Lucy, bahkan hingga diangkat menjadi wakil direktur. Sebuah kehormatan besar untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari Iren, well, meskipun dia adalah calon kakak ipar Dinda. Iren adalah sosok yang sangat professional, baginya mencampuradukkan hubungan pribadi dan pekerjaan adalah pantangan absolut. Tidak hanya memiliki salon terkenal dengan banyak cabang di Jakarta, Lucy juga memiliki brand perawatan rambut—dengan pangsa pasar tersendiri dan mampu ludes dalam waktu beberapa jam setelah perilisannya. Dia bahkan berani mengangkat salah satu penyanyi terkenal di Indonesia sebagai brand ambassador-nya.

Dinda berdiri di hadapan para karyawan salon Lucy—yang jumlahnya ratusan—dengan jantung berdebar dan tubuh dingin. Hari ini merupakan hari spesialnya. Hari paling bersejarah karena dia berani mengangkat dagunya untuk menghadapi dunia dan bilang, "aku sudah berhasil.".

"Rasanya berdiri di depan ini, seperti mimpi. Mimpi yang terlalu indah, ya?" Mengenakan kemeja putih berbalut jas abu-abu, Dinda merasa kepercayaan dirinya seolah meningkat, adrenalin sekaligus endorfin mengalir deras, saling beradu untuk mendominasi. "Orang bilang, don't judge someone by the cover, tapi menurutku itu adalah kalimat bohong, karena hal pertama yang akan manusia nilai adalah penampilan. Seperti halnya membaca, seseorang tidak akan tertarik membaca buku yang kover-nya kotor dan tidak menarik, kan?" Dinda menatap orang di hadapannya satu per satu.

"Maka dari itu, cita-cita saya adalah membuat orang terlihat cantik dan menarik, seperti halnya Estee Lauder pernah mengutip bahwa seseorang akan mudah dipercaya jika kamu terlihat bagus, ketika dunia sudah menyetujui, maka akan timbul rasa untuk menghargai. Bukankah begitu? Dan satu hal yang harus dibanggakan oleh para wanita adalah ini," Dinda menyentuh rambutnya, "setiap wanita dianugerahi mahkota untuk membuatnya percaya diri, tugas kita untuk merawat mahkotanya dengan baik dan salah satu make-up yang paling mahal adalah senyum di wajah. Semoga dengan adanya saya di sini, bisa memberikan kesempatan untuk memajukan salon Lucy. Terima kasih."

Ruangan gedung dengan ornamen lampu mewah menggantung di tengah ruangan itu terlihat ramai akan tepuk tangan. Dinda tersenyum, mengangguk penuh hormat, dia segera berbalik ke belakang panggung dan menemukan seorang lelaki tegap berbalut jas abu-abu berdiri sembari membawa bunga matahari. Jarak yang cukup dekat hingga Dinda bisa melihat bentuk wajah simetrisnya yang seperti pahatan dengan tulang pipi tajam serta hidung aristokrat. "Katanya nggak mau ke sini?!" Dinda menatap Geri jengkel.

"Rapatnya udah selesai," katanya singkat.

"Nggak mau peluk aku, nih?" Dinda membuka tangannya lebar-lebar, sembari tersenyum menyengirkan giginya.

Bukannya memeluk, Geri malah mengantarkan sebuket bunga matahari ke pelukan Dinda.

"Iiiih, hon-hon! Aku kan maunya dipeluk kamu, gimana tadi aku keren, kan? Keren dong! Ayo bilang aku keren." Dia masih berusaha agar Geri—si cowok dingin yang paling enggan memujinya itu—mau mengungkapkan sepatah-dua patah kata menyenangkan. "Hon-hh—" Geri segera membekap mulut Dinda dan menggeleng, memberi isyarat supaya dia tidak menyebutkan kata itu. Asli, Geri paling kesal kalau Dinda sudah memanggilnya 'hon-hon' meskipun sudah seharusnya Geri terbiasa dengan sebutan itu, setidaknya, jangan di depan umum. Bisa rusak reputasinya sebagai cowok keren dan bisa dianggap si bucin sejati.

Geri menurunkan tangan sewaktu dilihatnya Dinda mulai diam dan berhenti bersikap seperti anak yang tantrum. Padahal aksi Dinda tadi keren, terlihat berwibawa, tapi kok bisa-bisanya dia langsung menjelma menjadi cewek manja kalau sudah di hadapan Geri. "Hon-Hon, iiih," Geri berjalan, Dinda mengikutinya masih dengan bibir mengomel. "Aku tuh ngapalin pidatonya sebulan, bayangin Ger, untungnya aja nggak salah ya. Tadi grogi nggak, sih? Aku jelek, ya? Aduh, ngomong dong! Kalau bagus kasih selamat."

Mendengar Dinda masih terus mengoceh, Geri berhenti melangkah sampai kening Dinda menabrak punggungnya yang keras. "Aw, kebiasaan banget sih berhenti mendadak!" Geri menunduk tiba-tiba, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Dinda. Lalu dia mengecup singkat bibir Dinda dan membisikkan sesuatu. "Tanpa aku bilang, harusnya kamu tahu, aku selalu bangga sama kamu."


Yang mau baca kelanjutannya bisa download app Storial, aku posting di sana, dengan nama akun Eriscafebriani.

Yang mau baca kelanjutannya bisa download app Storial, aku posting di sana, dengan nama akun Eriscafebriani

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sampai berjumpa dengan Dinda dan Geri lagi yuhuuuuuu!

Sampai berjumpa dengan Dinda dan Geri lagi yuhuuuuuu!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kisah untuk Geri (Telah Terbit dan Di-Serieskan)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang