10-Rasa yang berbeda

528 112 649
                                    

Di antara detak dan detik, ada chat yang baru saja selesai di ketik dan rindu yang selalu berisik.

-Rama Aditya Pratama

____

"Ada apa-apa juga enggak apa-apa." Sahut Rama santai.

"Lo kan bukan siapa-siapa gue. Lo bebas pacaran sama siapa aja." Lanjut Rama.

"Ya enggak bisa gitu dong! Lo gimana sih? Kan gue sukanya sama lo! Lo harusnya cemburu!" Teriak Nara marah, matanya berkaca-kaca.

Pada akhirnya Nara tidak bisa jual mahal juga karena ia mengungkapkan perasaannya untuk yang kesekian kalinya kepada Rama.

"Lo enggak bisa ya hargain sedikit aja perjuangan gue? Gue udah berjuang keras banget buat dapetin lo!"

"Gue gak pernah minta untuk di kejar." Sahut Rama.

"Gue juga enggak tau kenapa gue bisa sebego ini! Ngikutin lo kemana-mana, nembak cowok duluan. Gue emang bego semenjak kenal lo!" Ucap Nara sedikit berteriak.

"Apa sih yang lo liat dari gue? Apa karena nama keluarga gue? Apa karena gue pinter? Apa karena gue famous?" Tanya Rama sarkastik.

Rama tersenyum sinis sebelum melanjutkan. "Kalau lo suka gue karena itu, itu sama aja kayak cewek yang lain. Mending jauh-jauh dari gue, gue enggak suka cewek kayak gitu!"

"LO PIKIR LO SIAPA BISA JUDGE GUE? LO ITU JELEK RAMA, SIFAT LO JELEK! PERCUMA WAJAH CAKEP TAPI KELAKUAN MINUS!" Teriak Nara sambil menuding wajah Rama dengan telunjuknya.

Pipi Nara sudah sepenuhnya basah oleh air mata. Nara meluapkan semua kesedihan dan kekecewaannya pada Rama, tidak peduli ada Daffa disini.

Rama yang terkejut atas respon Nara gelagapan. "Gue... Gak bermaksud-"

"Pikiran lo dangkal banget! Katanya pinter, juara lomba sana-sini! Tapi kalo ngomong otak gak pernah di pakai!" Cibir Nara menyela ucapan Rama.

Nara menghapus air matanya sebelum melanjutkan. "Maaf, gue keterlaluan. Gue cuma pengen lo tahu, enggak semua cewek kayak gitu! Gue emang egois, harus dapetin apa yang gue suka."

Rama mengusap wajahnya kasar, ia tidak tega melihat Nara menagis. Rama menatap Daffa, meminta bantuan cowok itu untuk menenangkan Nara.

"Gue enggak ikut-ikut ya." Ucap Daffa yang mengerti tatapan Rama, ia mengangkat kedua bahunya.

Daffa melangkah mundur "Sorry Ram, gue duluan."

"Daffa!" Seru Rama, ia mengacak rambutnya prustasi.

"Maaf Nara. gue gak bermaksud kayak gitu, tadi gue lepas kontrol." ucap Rama tulus, hanya kata itu yang bisa dia ucapkan.

Nara memutar tubuhnya hingga membelakangi Rama. "It's okay. Lo enggak salah, gue aja yang enggak punya malu seperti yang pernah lo bilang."

Nara berjalan gontai meninggalkan Rama, bahunya sedikit bergetar. "Gue duluan, udah di jemput Bima."

"Nara!" Seru Rama, ia bergegas menghampiri Nara. Rama bahkan hampir jatuh karena tersandung kakinya sendiri.

Rama menepuk pelan bahu Nara. "Nara," panggil Rama lagi.

"Gue udah bilang, gue enggak apa-apa. Enggak usah sok peduli!" Sahut Nara kesal tanpa membalikkan badannya.

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang