Destiny [dul]

103 18 14
                                    

Ketika sebuah kebohongan menjadi sebuah malapetaka.

🍁

Dengan telaten Kihyun menekankan kapas yang sudah ditetesi obat pada luka di sudut bibir Soyeon. Gadis itu hanya bisa meringis setiap kali obat itu mengenai permukaan kulitnya yang terluka. Sensasi perih dan juga ngilu turut Kihyun rasakan ketika melihat Soyeon yang terus meringis.

Rencana Kihyun untuk membeli sepatu mau tak mau harus dibatalkan. Ia tak tega melihat kondisi Soyeon yang seperti ini. Kihyun tak dapat membayangkan, bagaimana jika dirinya telat satu detik saja. Entah seperti apa keadaan Soyeon saat ini.

"Arh!"

"Ah mian. Apa sangat sakit?" tanya Kihyun, menghentikan kegiatannya sejenak. Soyeon berusaha menahan nafasnya ketika Kihyun tiba-tiba mendekatkan wajahnya lalu meniup pelan luka di sudut bibirnya. Lelaki itu mulai mengobati lagi luka Soyeon dengan lebih lembut.

"Dibanding dengan lukamu, lukaku ini tak seberapa Ki," ujar Soyeon seraya memperhatikan luka-luka di wajah Kihyun.

Kihyun tersenyum. "Aku laki-laki. Luka segini tak ada artinya," ujarnya dengan nada angkuh. "Dwaetda!" pekiknya setelah selesai mengobati Soyeon.

Kihyun mulai memasukkan kapas dan juga obat-obatan itu kedalam kotak P3K, namun pergerakannya terhenti ketika Soyeon mencekal pergelangan tangannya. Kihyun menoleh dengan kerutan di dahinya.

"Mau kau laki-laki, perempuan, atau waria sekalipun, lukamu tetap harus diobati." Soyeon mengambil kapas dan juga alkohol. Ia meneteskan alkohol pada kapas itu kemudian mulai mengobati luka-luka di wajah Kihyun. "Jika dibiarkan nanti infeksi," ucapnya dengan tersenyum manis.

"Kenapa kau melawan para berandal itu?"

"Tak ada pilihan lain. Aku kasihan melihat gadis itu. Aku tak tahu harus berbuat apa," ucap Soyeon dengan tangannya yang sibuk memasang plester di dahi dan di hidung Kihyun. "Lagipula aku tak tahu kapan kau akan datang."

"Mianhae, tadi ada sedikit masalah di kampus," ucap Kihyun seraya mengelus pipi Soyeon.

"Ponselmu juga tak bisa dihubungi," ucap Soyeon dengan mengerucutkan bibirnya lucu.

"Ah! Keugeo.. ponselku mati," ujar Kihyun dengan menunjukkan ponselnya kearah Soyeon. "Lain kali, jangan membahayakan dirimu seperti tadi. Kau membuatku khawatir."

"Eoh, araseo. Mianhae, karena menolongku kau jadi terluka seperti ini."

"Ey.. gwaenchana. Sudah kubilang ini tak ada artinya bagiku." lagi-lagi nada angkuhnya terdengar. Soyeon berdecih pelan.

"Ah, geurae?"

"Akh!" pekik Kihyun saat Soyeon menekan luka di hidungnya. "Appo, sshhh.. kenapa kau menekannya?"

"Kau bilang luka itu tak ada artinya? Ternyata kau mengeluh juga."

"Kalau kau menekannya tentu saja sakit!" ujar Kihyun seraya mengelus hidungnya. Lelaki mungil itu mengerucutkan bibirnya.

"Jinjja? Mianhae.. sini aku tiup," ucap Soyeon seraya meraih wajah Kihyun. Soyeon mendekatkan wajahnya lalu meniup pelan pangkal hidung lelaki itu.

Yoo Kihyun | Short StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang