duabelas

103 8 0
                                    

.....

Tak terasa, sudah sebulan Naina menjadi seorang istri. Dan tak ada perkembangan sedikitpun dari hubungannya dengan Rafis. Mereka masih sama. Berada pada titik yang berjauhan.

Sudah dua hari Rafis pergi keluar Kota untuk urusan bisnisnya. Dan dua hari ini Naina habiskan waktu dirumah bagaikan dineraka.

"Woii pendek."

Seruan itu menghentikan langkah Naina yang akan keluar rumah untuk berangkat kesekolah. Menoleh kebelakang dan menemukan Rion tengah terkekeh menghampirinya.

"Ternyata lo cukup sadar kalau lo pendek."

Naina mendelik. Tak menanggapi, Naina memilih melanjutkan langkahnya.

"Ck. Sombong. Berangkat bareng gue aja. Gue kosong."
Tawar Rion.

"Tidak mau. Saya berangkat sama mang Agung saja."
Jawab Naina.

"Mang Agung lagi diare jadi gue yang baik hati ini nawari tumpangan buat lo."

"Serius ?"
Tanya Naina yang mulai percaya.
Rion mengangguk.

"Oke deh."

Keduanya pun menaiki sepeda motor Rion. Naina cukup kepayahan untuk bisa duduk di atas motor Rion karena tingginya motor itu. Rion yang melihat usaha Naina hanya terkekeh geli dan tak ada niatan untuk membantu.

"Sial. Motor apa tebing. Tinggi amat."
Gerutu Naina yang sudah berhasil dalam usahanya.

"Loh mbak Naina gak berangkat sama saya ?"
Teriakan mang Agung menghentikan Rion yang akan melaju.

"Berangkat bareng saya aja mang. Mending mang istirahat aja biar Diarenya mampet."
Sahut Rion yang membuat kebingungan mang Agung.

"Siapa yang diare ?"
Gumam mang Agung yang tak didengar oleh keduanya. Karena mereka sudah melaju meninggalkan rumah.

Kepergian mereka diiringi dengan tatapan kebencian dari Angel.

...

"Lo sadar gak Pen. Ini adalah kali pertama kita saling ngomong."

Disela sela perjalanan mereka, Rion membuka pembicaraan.

"Iya yah. Kamu aja yang sombong. Jelek-jelek gini aku kan kakak ipar kamu."

"Siapa yang ngakuin lo kakak ipar gue ?"

Mendengar ucapan Rion membuat Naina kesal. Dengan sengaja dia memukul helm Rion yang membuat si empu kesakitan.

"Anjir. Sadis amat. Becanda elah."

"Stop.. stop .. stop."

Naina memukul bahu Rion berkali-kali. Yang membuat Rion menghentikan motornya.

"Apaan sih."

"Saya turun disini saja. Itu ada teman saya."
Tanpa mendengar persetujuan Rion, Naina turun dari motor dan membuka hlm yang dia pakai.

"Terimakasih. Ini kembaliannya di ambil saja."
Menyodorkan uang lima ribu rupiah, Naina pun berlari meninggalkan Rion yang cengo dengan tangan menggenggam uang lima ribu.

"Sial. Dikira gue tukang ojek kali ya. Dasar pendek."

...

"Sindy..!!!"

memilikimuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang