9-Strategy failed!

529 116 705
                                    

Urus saja egomu, tak perlu pedulikan perasaanku. Aku sudah terbiasa menikmati luka di akhir cerita.

-Nara Pramudita Nareswari

____

Nara telah menjauhi Rama selama 5 hari, waktu yang bagaikan 5 tahun bagi Nara. Tidak menyapa, tidak mengikuti kemanapun, tidak mengirim pesan, dan tidak membawakan bekal.

Nara sudah tidak memiliki semangat lagi untuk berangkat sekolah, ia malas belajar, malas berbicara dengan siapapun atau sekedar tersenyum. Strategi Ghina membuat Nara sangat menderita, harusnya Rama yang menderita bukan dirinya sendiri!

Nara menatap Ghina lekat-lekat, ia sedang menyimak baik-baik penjelasan penyetaraan reaksi oleh Bu Ina.

Bu ina adalah guru favorit para murid, ia selalu menyelipkan canda gurau di tengah penjelasannya. Katanya supaya tidak terlalu serius sehingga murid-murid tidak bosan. Bu Ina juga punya prinsip mengajar "Biarkan murid-murid belajar semampunya, jangan terlalu memaksa murid untuk pintar. Setiap orang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing."

"Ghina..." Rengek Nara pelan.

Ghina menoleh, ia menatap Nara heran. "Kenapa lo?"

"Gue mau curhat." Bisik Nara.

"Tuman lo mah! Curhat bukan waktunya."

"Pengen Sekarang Ghina..." Rengek Nara lagi.

Ghina menghela napas berat. "Kenapa?"

"Gak ada yang berubah Ghin, Rama enggak nyariin gue bahkan enggak pernah nyapa gue." Curhat Nara.

Di saat seperti ini, Ghina menjelma menjadi pendengar yang baik.

"Baru lima hari kan? Tunggu sampe seminggu. Gue yakin Rama pasti nyariin lo." Komentar Ghina kemudian.

"Gak bisa Ghina! Gue gak tahan buat nyapa Rama."

"Tahan Nara! Tinggal 2 hari lagi!" Ucap Ghina gemas.

"Oke, gue coba lagi." Ucap Nara berat hati.

Seperti biasanya, Nara membenamkan wajahnya di atas meja dengan di tutup buku. Nara memilih tidur, ia tidak ada energi untuk mengikuti mata pelajaran hari ini.

***

Kringggg.

Bel istirahat berbunyi.

Bu Ina menghentikan aktivitas mengajarnya. Setelah Bu Ina mengucap salam, para murid berhamburan keluar kelas.

"Nara, ayo ke kantin!" Ajak Ghina.

"Gue di kelas aja Ghin, enggak nafsu makan." Tolak Nara.

"Lo jangan uring-uringan mulu dong!" Ucap Ghina kesal.

"Gue enggak mood."

"Ayolah Nara! Tetap jadi Nara si ceria yang gue kenal."

"Gue enggak bisa."

"Kenapa? Gara-gara Rama lagi? Bukannya dalam kamus hidup lo enggak ada kata pemurung? Mana lo yang dulu?!" Tanya Ghina kesal.

"Yaudah gue ikut." Ucap Nara mengalah.

"Coba bilang huruf "M" sambil senyum deh!" Ucap Ghina, ia tersenyum lebar.

Nara melakukan apa yang di minta Ghina, ia tersenyum di buatnya.

"Apaan sih lo? Gaje!" Ucap Nara kesal, beberapa detik kemudian ia tertawa pelan.

"Nah gitu dong senyum! Jangan buat muka lo yang kusut nambah kusut!" Ucap Ghina di sela tawanya.

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang