CANGUKSONO

30.2K 799 1.7K
                                                  


Sabdo melangkah turun dari dalam mobil di ikuti oleh Sugik, bersama-sama mereka menapaki pilar anak tangga rumah utama. Saat-saat di mana ketika Sabdo membuka pintu dan hampir saja dirinya menabrak seseorang, Sugik termangu diam melihat Intan Kuncoro berdiri di hadapan Sabdo, sorot mata'nya sayu, terjadi jeda panjang diantara mereka, tanpa sadar mereka saling memandang satu sama lain dalam diam, sebelum, Intan menunduk memberi hormat lalu melangkah pergi berlalu dari hadapan Sabdo yang tak henti-hentinya—memandang kepergian Intan, tak jauh dari tempat Sabdo menatap nanar kepergian Intan, Sugik tersadar melihat Sugeng berdiri, bersandar di tembok di samping kursi tempat di mana tuan Arjo bersama Lasmini tengah duduk menatap kearah mereka.

Sugik tak berani menatap mata Sugeng yang sedari tadi seperti memperhatikannya. Ia sempat melihat ekspresi wajah Sabdo, begitu datar begitu tenang, dengan langkah kaki tegas ia menghampiri tuan Arjo bersama dengan Lasmini, entah perasaan macam apa yang Sugik rasakan namun dirinya melihat ruangan ini terasa lebih dingin dari biasanya, tak pernah Sugik melihat tuan Arjo sedingin ini bahkan di hadapan Sabdo yang bagi-nya begitu istimewa.

"bawakan benda itu ke-sini"

Sugeng mengangguk, sebelum berlalu pergi dari hadapan mereka. Sabdo masih diam tak berbicara sepatah kata'pun saat Sugeng kembali dengan membawa sesuatu di kedua tangannya. Sesuatu yang di bungkus dengan selembar kain putih yang terlihat lusuh dengan bercak berawarna merah. Sugeng meletakkan benda itu di lantai tepat di hadapan Arjo, ada yang aneh di sini, pikir Sugik saat melihatnya, Lasmini membuang muka menutup hidung dengan satu tangannya saat Sugeng perlahan-lahan membuka lembar kain tersebut saat Sugik menatap kaget setelah melihat isi dari lembaran kain itu yang rupanya adalah sepotong kepala seorang lelaki tua yang tak ia kenali.

Arjo tersenyum menyeringai namun ekspresi menyeringai-nya terlihat getir, senyum yang menunjukkan kemarahan, apakah ada hubungannya dengan sepotong kepala ini.

"namanya Whijojo, satu dari orang-orang bawahanku yang hidupnya sudah ku jamin dalam sumpahku, kau tahu apa artinya ini nak?"

Sabdo menatap sepotong kepala itu dengan pandangan mata kosong, "seseorang mengirimkan pesan kepadamu" kata Sabdo lembut, Arjo berdiri dari tempatnya duduk lalu menatap kearah lain ia membelakangi Sabdo sembari tertawa Arjo mengutuk keras pesan ini.

"DIA TELAH MENGHINAKU—MENGHINA SEORANG KUNCORO, TUJUH KETURUNANNYA AKAN MEMBAYAR SEMUANYA, KUNCORO TAK BOLEH DI HINA"

Sabdo hanya tersenyum mencemooh, senyuman yang membuat Arjo menatap dirinya dengan pandangan mata curiga, begitu juga dengan Lasmini yang tak menyangka melihat Sabdo berdeham dalam senyum yang misterius.

"lalu apa yang akan kau lakukan, kau mau mencari siapa yang menghabisi bawahanmu?" kata Sabdo, suaranya terdengar lebih tenang.

"tentu saja, tapi sebelumnya aku memutuskan untuk memulai'nya malam ini"

"memulai" Sugik tak tahu apa maksud kalimat tuan Arjo, apa yang akan dia mulai. Ada apa sebenarnya, apakah semua ini memiliki hubungan dengan pertemuan Sabdo dengan. Tidak mungkin. Batin Sugik, tidak mungkin Arjo tahu pertemuan itu karena wanita itu, Karsa Atmojo berkata Arjo tak akan bisa melihat. Mereka tidak bisa melihat satu sama lain.

Tuan Arjo mulai meninggalkan altar, di ikuti Sabdo bersama-sama mereka menuju ke suatu tempat, sementara Sugeng membungkus kembali sepotong kepala itu lalu berjalan kearah lain tempat di mana Sugik berjalan mengikutinya.

**
Sugik masih mengikuti Sugeng, mereka berjalan menuju lahan kosong di tepi timur rumah tempat di mana dia akan menguburkan sepotong kepala itu, di sela—antara langkah kaki mereka tiba-tiba Sugeng berkata, "kau pasti ingin bertanya kepadaku apa yang akan di lakukan oleh tuan Arjo kepada tuan Sabdo bukan?"

JANUR IRENGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang