Welcome !

42.1K 1.4K 160
                                    

Happy Reading.

*

Aku menghela nafas lelah saat melihat Jimin masih saja berkutik dengan ponsel, sibuk mengangkat telfon dari semua orang yang membantunya menemukan orang yang meneror kami. Rasanya ini benar-benar rumit, dulu saat bersama Brian tidak serumit ini. Brian langsung menujukkan wajahnya beda dengan yang ini. Kepalaku ikut berdenyut nyeri saat mengingat ini.

"Ji...?" Jimin menoleh dan memberikan senyum hangat padaku. Aku berjalan menghampirinya dan duduk tepat dipangkuanya. "Istirahat dulu, lihat kantung matamu. Kau jelek tau" hampir 3 hari Jimin tidak tidur, aku jelas Khawatir. Keberangkatan kami ke New Zealand aku batalkan. Masalah ini jauh lebih penting .

"Uhm tapi aku tetap tampan walaupun dengan mata seperti ini. Benarkan?" Aku menghela nafas lelah dan mengusap pipinya. Agak tirus karena Jimin juga jarang makan sekarang. Ya Tuhan suamiku.

"Jangan terus dipaksa. Aku tidak mau kau jadi seperti ini. Aku akan membantu jadi jangan berusaha sendiri. Makan ya?" Jimin masih saja tersenyum dan mengusap seduktif pinggangku. Dia juga tidak minta dilayani setelah Lisa Eonni mengatakan tentang informasi yang dia tau. Jimin fokus pada masalah kami.

"Suapi" aku tersenyum dan mengangguk, menarik tangannya untuk berdiri, jelas membawanya ke dapur. Aku memang masak sedikit tadi, hanya untuk sarapan Jimin, aku masih mual dan tidak nafsu makan. "Maaf"

"Untuk?" Tanyaku bingung. Kenapa Jimin minta maaf?

"Semuanya. Hidupmu rumit saat bersamaku" jawaban macam apa itu, Jimin mengungkit kembali masalah mereka dan merasa bersalah. Ya Tuhan ini takdir.

"Ji ini takdir dan aku tidak mengeluh akan ini, bagiku semua memang sudah seharusnya berjalan seperti ini dan aku menikmati masa ini denganmu. Jangan berfikir hidupku susah karenamu, ini memang jalanku. Jangan berfikir seperti ini lagi hem?" Jimin tersenyum dan memeluk pinggangku dengan erat.

"Terima kasih"

"Kau sering melow beberapa hari ini, ah aku jadi merindukan Jimin yang Mesum dan Psikopat Sex itu. Kemana dia yah?"

"Dia hilang beberapa waktu sayang. Biarkan dia jadi pendiam seperti ini, jika Si Psikopat Sex itu kembali maka masalah kita tidak akan selesai. Aku hanya ingin hidup tenang dengan istri dan anakku" Jimin banyak berubah Sekarang, dia tidak mudah terpancing seperti dulu. Jika aku menggoda dia hanya akan tersenyum . Ya Tuhan suamiku.

"Ji...?"

"Hem?"

"Aku mencintaimu"

"Aku lebih mencintaimu sayang"

*

"Jangan dipaksa. Kau istirahat dulu, Aliya akan aman. Jimin akan melindungi dia" Steven menghela nafas pasrah dan kembali berbaring. Kondisinya memburuk dan Steven harus dirawat dirumah sakit.

"Ayah kembali saja. Aku baik-baik saja" cetus Steven pelan. " Biarkan aku jadi ayahmu hanya untuk beberapa waktu ini. Kau tidak mendapatkan kasih sayang dariku jadi jangan melarang aku disini" Steven menghela nafas dan mengangguk pasrah.

"Jung Woon?"

"Sibuk di Jepang. Dia akan kembali dalam 5 hari kedepan"

"Seperti apa peneror Aliya ayah?"

"Yang jelas dia wanita dan mengenal Jimin. Setelahnya Aku tidak tau, Aliya akan kembali ke Rumah untuk dirinya sendiri. Dan Jimin harus lebih siaga. Kau tidak punya sedikit informasi dengan orang itu. Dia mengirim foto-foto Jimin yang tengah bermesraan dengan wanita"

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang