• 16. Jadian? •

333 36 19
                                    

Happy Reading😊

"Oh, ya mumpung ketemu lo di sini dan kebetulan ada Ara, gue mau ngomong penting ke lo," tutur Raka menunjuk Andrian yang sedang menggali harta Karun.

"Apa,"cuek Andrian.

"Sebenarnya lo anggap gue teman gak sih?" Mata Andrian melotot antara geli dan tak percaya.

"Idih gak jelas lo Ka, gue gelay dengernya."

"Lo sama aja ogep!" sahut Ara yang sedari tadi hanya menyimak obrolan random oleh kedua lelaki di depannya ini.

"Lo gak asik Ndri, kalau mau nembak cewek tuh bilang ke gue, bukannya malah minta bantuan ke dia." Raka menunjuk Ara yang berada di sampingnya.

"Lah emang lo emak gue dan terserah gue lah mau minta bantuan ke siapa. Lagian lo terlalu goblok masalah cinta, yakali gue minta tolong ke lo." Raka terlihat tak terima dengan perkataan jujur dari Andrian.

"Dan gue juga takut, kalau nanti lo bakal nikung calon pacar gue. Secara lo kan jomblo sejak dini," sindir Andrian secara terang-terangan.

"Dini siapa dah." Bukannya menjawab Adrian dan Ara lantas tertawa terbahak-bahak.

"Emang kampret lo pada ya," kesal Raka.

"Cih, baperan lo kayak cewek aja."Raka menatap tajam Ara.

"Udahlah, karena lo udah tahu, lo harus bantuin gue sama Ara buat nembak Ifa," pinta Andrian yang lebih condong ke perintah.

"Ogah, mending gue istirahat!" ketus Raka.

"Yaudah yuk Ra, kita buat rencana berdua," ucap Andrian dengan melangyangkan senyuman penuh arti ke Raka.

Sebelum Ara dan Andrian benar-benar pergi meninggalkan Raka sendiri, dengan cepat kilat Raka menghadang mereka berdua.

"Katanya gak mau ikut?" sindir Andrian.

"Gabut."

Ara yang melihat interaksi kedua laki-laki itu hanya dapat menggelengkan kepalanya sesekali tersenyum geli.

"Eh, gue punya ide. Gimana kalau lo nembak Ifa pas nanti apel penutupan, saat semua peserta kumpul. Kan seru tuh, pasti meleleh deh Ifa nya,"seru Ara.

"Ide bagus, jadi peluang lo diterima besar," cakap Raka dengan santai.

"Maksudnya,"

"Iya peluang Andrian diterima Ifa itu besar, secara kan pasti banyak orang yang ngelihat dan mau gak mau Ifa harus nerima lo supaya gak nanggung malu." Mata Andrian menajam, ia tak kuat jika harus berhadapan dengan pemikiran aneh kawannya itu.

"Semerdeka lo," pasrah Andrian tak mau memperpanjang perdebatan diantara mereka.

"Gue setuju sama usul lo Ra, tapi gak mudah lho ijin sama pembina-nya." Ara hanya tersenyum dengan mata mengarah pada laki-laki yang berada disampingnya.

"Oke gue paham, untuk tugas ini gue serahin ke lo Ka, biar berguna dikit."

"Aelah banyak cincong lo. Iya nanti kalau inget," ujar Raka dengan memutar matanya malas.

"Jangan sampai gue ngebunuh lo tanpa nyentuh ya Ka," ancam Andrian main-main.

"Ihhh takut..."

"Jijay Anjim!"

"KALIAN BERDUA BISA DIEM GAK SIH." Ara menghentikan perdebatan konyol tersebut. Tanpa membantah Andrian dan Raka bungkam seribu bahasa.

"Gini kan enak dilihat, kalau gitu gue pamit mau ke toilet dulu. Kalian berdua jangan ribut terus, dan untuk lo jangan kemana-mana. Karena habis ini lo harus ikut gue ke tempat panitia." Raka mengangguk mengiyakan perintah yang Ara berikan.

KETOS VS PRADANA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang