7-Another girl

613 143 877
                                    

Hatiku terlalu batu. Meski sudah ku paksa untuk menjauhimu, hatiku melawan. Bahkan ketika kamu menyayatnya dengan ucapanmu, hatiku tetap milikmu.

-Nara Pramudita Nareswari

_____


Ghina menggebrak meja, lengan bajunya di gulung sampai siku. Sepertinya sisi preman Ghina keluar.

"Anying! Berani-beraninya itu orang ngelakuin kayak gitu ke lo!"

"Awas aja kalau gue tahu orangnya, udah gue jadiin bubuk rengginang tuh orang!"

Nara terkesiap, buku-buku yang sudah Nara tumpuk di meja dari yang paling besar sampai ke yang paling kecil kembali berantakan akibat gebrakan Ghina. Untung saja sudah istirahat, jadi hanya ada beberapa orang yang masih berada di kelas.

Tadi Nara menepati janjinya untuk menceritakan rentetan kejadian kemarin kepada Ghina saat istirahat.

Nara memohon maaf kepada beberapa temen sekelasnya yang merasa terganggu akibat ulah Ghina.

"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya!" Peringat Nara.

"Udahlah lupain aja, toh gue juga gak apa-apa." ucap Nara tersenyum simpul.

"Ya jangan lah! Nanti malah makin menjadi-jadi Nara!" Ucap Ghina kesal.

"Ayah lo udah tahu?" Tanya Ghina.

"Udah. Emang si Bima sialan, langsung laporan aja ke ayah." Jawab Nara.

Nara menghela napas sebelum melanjutkan. "Kalau ketahuan orangnya, ayah mau minta kepala sekolah ngeluarin murid itu di sekolah. Itu mudah buat Ayah gue, donatur terbesar di sekolah ini."

"Wah! Gue setuju seratus persen sama bokap lo!" Ucap Ghina semangat 45.

"Menurut gue itu berlebihan." Lirih Nara.

"Enggak Nara! Enggak pokoknya!" Ucap Ghina penuh penekanan.

Nara memutar bola matanya, memang susah jika sudah menghadapi Ghina yang sedang marah. Ghina itu galak, sangat tidak cocok dengan wajahnya yang lugu.

"Ra, Rama kemarin chat gue." Seloroh Ghina.

Nara tersentak kaget, ia memegang dadanya yang bergemuruh. Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Nara.

"Gue gak nyangka lo nikung temen lo sendiri hiks hiks!"

"Eh bukan gitu Nara!" Sanggah Ghina.

"Ya terus apa?!" Tanya Nara dengan suara tinggi.

"Dia nanyain lo ke gue." Jawab Ghina, ia terkekeh pelan.

Isakan Nara berhenti seketika, tergantikan oleh senyuman lebar Nara. Nara menundukkan kepalanya, ia memilin jari-jari lentiknya.

"Rama... kemarin peluk gue." ucap Nara malu-malu kucing.

"SERIUS LO? DEMI APA?!" Tanya Ghina kaget.

"Hmm iya." Ucap Nara mengulum senyumnya.

"Lo gak sampe jantungan kan?"

"Untungnya enggak. Gue cuma nangis bahagia sama gak bisa tidur semaleman."

Ghina memperhatikan Nara lekat-lekat, pantas saja mata Nara sembap dan sedikit menghitam.

"Buset dah, lebay banget lo!" Dengus Ghina.

"Tapi gue bingung, kok dia mulai peduli sama lo." Tambah Ghina heran.

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang