14

109 14 3
                                                  

Kebetulan itu bisa berulang, begitu juga kesalahan.
― KSeira

Kakashi duduk bersila dengan kedua tangan yang ia rentangkan pada sandaran sofa yang terasa begitu empuk. Kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam.

'Apa aku salah?' Pikirnya.

'Atau dia yang menyembunyikan perasaannya?' Lagi, dengan mata terpejam, ia bermonolog dalam hati.

"Jangan terlalu frustasi, bukankah wanita cantik di luaran sana masih banyak?"

Kakashi tak mengindahkan ucapan Obito yang duduk disofa lain.

"Lagi pula dia janda dengan 3 anak. Kau bisa mencari gadis muda yang lebih menggemaskan darinya."

Kali ini mata Kakashi terbuka lebar. "Menurutmu, apa mungkin Luza salah memberikan informasi padaku soal Seira?"

Obito membalik halaman majalah ditangannya. "Kemungkinan itu hanya 0,01%."

Jawaban singkat Obito itu membuat Kakashi menghela nafas. "Lalu kenapa?"

"Memang kau kira kenapa? Sudah jelas karena anak-anak mendiang suaminya yang tidak setuju denganmu." Obito menjeda, ia mengangkat kakinya ke atas sofa.
"Kau harus mendekati mereka secara persuasif. Ambil hatinya, lalu kau akan mendapatkan Seira." Pria itu memberikan saran pada Kakashi.

"Aku tidak terlalu paham dengan anak-anak. Bukankah mereka mahluk yang merepotkan?" Keluh Kakashi.

Obito mendecakan lidah. "Kau harus kerahkan kemampuanmu, bung. Belikan mereka hadiah, game, boneka atau barang-barang lucu dan unik yang mereka sukai."

Kali ini kakashi menurunkan tangan dan sedikit menegakan punggungnya. "Haruskah melakukan hal merepotkan seperti itu?"

Obito kembali berdecak. "Percaya saja padaku! Akan ku bantu tanyakan barang-barang kesukaan anak-anak itu pada Luza." Obito menjeda.
"Dekati perlahan, biarkan mereka terbiasa dengan keberadaanmu. Jangan terlalu mencolok."

Kali ini Kakashi menurunkan kakinya ke lantai. "Ngomong-ngomong hubunganmu dengan Luza berjalan lancar ya?"

"Tentu saja." Jawab Obito dengan cepat.

"Yah, baguslah. Setidaknya dia sudah membantuku bebas dari orang sepertimu." Kakashi bangkit dari tempatnya dan meninggalkan Obito.

"Hei! Apa maksudmu Kakashi?!" Teriak sahabatnya tak terima.

***

Beberapa kali si sopir taxi terlihat melihat ke arah kaca kecil yang ada didalam mobil dengan ragu. Dilihatnya Seira yang duduk sambil membolak balikan berkas dipangkuan.

"Apa ada yang ingin kau katakan, Sir?" Tanya Seira.

"Ah― itu. Apa kau bekerja di distrik barat?" Tanya si sopir dengan ragu.

Awalnya Seira menaikan sebelah alis, namun setelah melihat sampul berkas yang ia bawa, akhirnya ia paham kenapa si sopir taxi menanyakan hal itu.

"Kepala Distrik Barat memberiku banyak tugas, tapi aku tidak tau siapa namanya dan bagaimana wajahnya." Jawab Seira.

"Oh, begitu ya... sayang sekali." Sopir itu mengangguk pelan.

"Apa kau pernah mendengar berita soal dia, Sir?"

Pria berkacamata hitam itu mengangguk. "Kebetulan kami sering minum bersama."

Seira langsung membawa punggungnya ke depan. "Kau mengenalnya?"

FRIEND ZONE (1st Friend Series)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang