11

67 13 4
                                                  

Jika kau mempunyai waktu untuk memikirkan akhir yang indah,
mengapa tidak hidup dengan indah hingga mencapai akhir itu? ―G

֍֍֍֍֍

Seira tengah menuju Yokohama, ditengah jalan ia merasa matanya sangat mengantuk. Lalu menepikan mobil dan mencari kedai kopi yang masih buka 24 jam.

Seira masuk ke dalam kedai sederhana, hanya beberapa orang saja yang tengah menikmati kopi di tempat itu.

Setelah menyebutkan pesanan, Seira memilih meja yang paling pojok seperti biasanya. Wanita itu mengeluarkan laptop dan menuliskan sebuah laporan yang akan ia kirimkan pada Mr. G.

Matanya terfokus pada layar laptop, bahkan saat pramusaji menghidangkan kopi, ia hanya mengangguk singkat dan mengucapkan terima kasih tanpa menoleh.

Disruputnya kopi panas berwarna hitam. Lalu kembali meletakan cangkir diatas meja dan menjauhkan laptop setelah berhasil mengirim laporan.

Seira mengantuk, tentu saja. Dua hari 2 malam dirinya belum menidurkan diri. Dan akhirnya Seira tumbang dengan kepala yang bersandar pada meja. Seira tidur dengan lelapnya tanpa memikirkan tempat dimana ia berada saat ini. Bahkan kopi hitam tak mampu menahan kantuknya.

Seorang pramusaji yang mengetahui hal itu kemudian mendekat, hendak membangunkan Seira agar beristirahat di tempat peristirahatan terdekat. Namun seorang pria menahannya.

"Biarkan saja. Jangan dibangunkan." Ucap pria dengan suara baritone yang menahan tangah pramusaji.

"Baik, tuan." Pramusaji pergi meninggalkan pria itu dan juga Seira yang masih terlelap tentunya.

Pria itu memperhatikan Seira dengan seksama, lalu menyunggingkan senyum dengan sangat tipis. "Kerja bagus. Fukuzawa-sensei pasti sangat bangga padamu."

Lalu pria itu menuliskan sebuah note dan menempelkan diatas laptop. Kemudian pria itu beranjak setelah menemani Seira kurang lebih selama 1 jam.

"Tolong bangunkan nona itu 15 menit lagi." Ucapnya pada pramusaji yang ada disana.

"Jangan katakan apapun jika dia bertanya tentangku. Bilang saja kalian sibuk hingga tidak memperhatikan pengunjung lain." Lanjutnya yang diangguki oleh pegawai disana.

Pria itu pergi, dan 15 menit kemudian Seira dibangunkan oleh pegawai kedai berseragam hitam dengan celemek putih dipingganggnya. "Nona... nona... nona... bangun..."

"Ngh?" Seira menggerakan kepala dan mendongak. "Oh?"

Pramusaji itu tersenyum, "Anda tertidur."

"Ah― ya. Maaf." Seira mengusap wajahnya, lalu merapikan laptop yang seharusnya masih menyala. 'Tunggu dulu... seingatku laptop ini masih terbuka.'

Lalu netranya menangkap sebuah note hijau yang menempel diatas laptopnya.

Kedai bukan tempat untuk tidur, jangan mengundang kejahatan.
Lain kali pergilah ke hotel, aku akan mengganti semua biaya perjalanan dinasmu. ―G

Seira langsung mengedarkan kepala untuk mencari sosok Mr. G yang mungkin masih di sana.

Nihil.

Hanya ada dirinya seorang yang masih berada di kedai itu.
"Ano... sumimasen.... apakah tadi ada orang yang datang kesini? Maksudku duduk di sini atau terlihat mendatangiku saat tidur?" Tanya Seira pada pegawai disana.

"Maaf, nona. Kami tidak memperhatikan pengunjung satu per satu..." Jawab si pramusaji yang diangguki Seira dengan ragu.

Ia lalu membersihkan meja dan kembali ke dalam mobil.

FRIEND ZONE (1st Friend Series)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang