Paw! 2: Pywe Bertemu Raga

69 21 0
                                              

BUAGH

Hanya suara itu yang terdengar, ketika baku hantam dilayangkan. Hingar-bingar suara musik dan gemerlapnya lampu diskotik berubah seketika oleh dua sosok pemuda. Masalah bermula ketika salah satu dari mereka tak sengaja menumpahkan minuman alkohol ke atas meja penuh kartu remi. Ya, hanya membasahi kartu-kartu, bukan tubuh siapapun. Tetapi hal itu justru membuat seseorang marah.

"Hajar, Raga! Hajar!" sorak sorai pengunjung club malam.

Pemuda yang dipanggil Raga meraih krah jaket yang dipakai oleh lawan bertarungnya kuat-kuat. Dia lalu berkata garang. "Heh, sini, kau! Kita sedang taruhan dan gara-gara kau mengganggu, aku jadi kalah!"

"Tahan! Aku tidak sengaja," pemuda itu meminta maaf dengan ujung bibir sedikit sobek. Wajahnya dihiasi luka lebam, tetapi pemandangan itu tidak membuat Raga iba.

"Banyak omong!" Raga memukul lagi lawannya. Lagi dan lagi. Aliran darah naik hingga leher dan wajah Raga. Kalau saja petugas keamanan tidak datang, Raga pasti akan membuat nyawa pemuda itu melayang.

"Hentikan! Bawa mereka ke luar!" teriak pemilik club.

Salah seorang pria berbadan kekar mendekati Raga, ingin menyeretnya ke luar. Namun, baru saja maju selangkah, dia mundur lagi.

"Sentuh aku----dan akan kupatahkan tanganmu," ancam Raga penuh penekanan.

Pria berbadan kekar itu sedikit menunduk. "Silakan kau ke luar sendiri."

Dengan tubuh tegap, Raga melewati kerumunan orang. Terlihat ada beberapa luka kecil di wajahnya, tetapi Raga menganggap itu sebagai bukti kejantanan laki-laki. Diambilnya sebuah kotak dari saku jaket, juga pemantik. Hembusan asap putih keluar dari mulutnya, ketika sebatang rokok dinyalakan.

"Raga, tunggu!"

Dua wanita datang menghampiri. Di udara malam yang dingin, pakaian mereka cukup minim. Dengan tatanan rambut dan riasan, mereka berdua tampak cantik. Secantik apapun, wanita-wanita itu dianggap jalang oleh Raga.

"Ada apa?" tanya Raga. Tanpa bersusah payah merayu, wanita-wanita itu mendekat sendiri.

"Kedua orang tuaku sedang tidak ada. Apa kau mau mampir?"

Raga menyunggingkan senyum. Tangannya dengan berani meremas bokong wanita di sampingnya. "Aku tidak membawa pengaman, Kara," bisiknya dibarengi hembusan napas.

"Ah, Raga, aku juga. Bukankah kau bilang ingin kencan denganku?" sahut wanita lainnya.

"Hey, kau mau merebut gebetanku? Cari orang lain, sana!"

"Memangnya kenapa? Apa Raga pacarmu?"

"Berhenti! Kenapa kalian ribut? Bikin pusing saja! Aku akan memilih pergi dengan Miya, karena aku sudah bosan denganmu Kara." Raga mengeratkan rangkulannya pada pinggang Miya.

"Tapi Raga ...."

"Tidak ada tapi-tapi. Jatahmu besok lusa atau jangan pernah temui aku lagi!"

Di jalanan sepi menuju gunung, Raga mengendarai motornya bersama Miya. Miya bilang orang tuanya sedang pergi mengunjungi nenek, sedangkan kakaknya pergi menginap di rumah teman. Ini kesempatan bagus. Mereka bisa berduaan dan melakukan banyak hal. Raga sudah tidak sabar ingin bersenang-senang.

Setelah sampai di rumah Miya seharusnya semua berjalan lancar----sebenarnya hampir, jika saja apa yang dia inginkan tersedia. Raga sedikit kecewa karena di rumah Miya tidak ada minuman beralkohol. Orang tua Miya bukanlah pemabuk, jadi barang itu haram di dalam rumah mereka. Hal ini bertentangan dengan kebiasaan Raga.

Raga sering meminumnya. Bisa dibilang dia kecanduan. Bila tidak minum itu sehari saja, lidahnya terasa pahit dan hambar. Meski ketika sadar dia akan merasa pusing, tetapi Raga tidak jera. Dia kerap kali menenggak alkohol.

PAW! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang