10

72 13 0
                                                  

Seseorang tidak bisa selalu hidup dengan hati nurani yang jernih. Meskipun ia ingin berjalan kedepan dengan kepala tegak, ada saatnya ia tidak sadar akan tertutup lumpur. Namun, jika ia tidak menyerah karena hal itu, Suatu hari lumpur di dirinya akan mengering dan jatuh. ―G

֍֍֍֍֍

Seira menyusuri salah satu desa kecil di Kanagawa perfektur. Desa yang jauh dari hingar bingar kehidupan malam, tidak seperti Yokohama. Netranya memperhatikan dengan seksama pada alamat yang ia tulis dalam note kecil. Lalu memarkirkan mobilnya tepat didepan sebuah kedai sederhana dengan sedikit pengunjung.

Seira turun dari mobil dan memasuki kedai, "Sumimasen..." Sapa Seira pada pemilik kedai.
"Maaf, apa tuan pernah mendengar seorang wanita yang tinggal didekat sini sekitar 26 tahun yang lalu?" Tanya Seira dengan sedikit ragu.

Pria tua dengan sebuah ikat kepala berwarna coklat terlihat berfikir. "Memangnya siapa yang kau cari, nona?"

"Aku tidak yakin, tapi apakah pernah ada wanita bernama Inuzuka yang tinggal didekat sini?" Tanya Seira lagi.

Pria tua itu terlihat melebarkan mata, kemudian berbisik pada istrinya yang berada dibelakang. Tak berselang lama si pemilik kedai keluar bersama istrinya, wanita tua dengan rambut klimis dan badan tambun. "Nona, siapa yang kau cari?"

"Aku menanyakan apakah kalian kenal dengan seorang wanita bernama Inuzuka? Dia meninggal 26 tahun yang lalu..." Jelas Seira.

"Ya Tuhan! Apa kau kerabatnya?" Ada sorot wajah kesedihan di mata wanita tua itu.

"Bukan, aku adalah de―" Seira berdehem singkat. Mr. G bahkan sampai menyembunyikan identitas aslinya. Tentu saja aku harus lebih waspada. "Sebenarnya ada sesuatu yang berkaitan dengan mendiang Inuzuka-san. Apa kalian mengenalnya?" Lanjut Seira.

"Iya. Tentu saja! Dia adalah wanita yang baik dan lemah lembut." Jawab si wanita bertubuh tambun ini.

"Maaf, nyonya...." Seira bingung hendak memanggilnya siapa.

"Panggil saja Nyonya Chouza." Ucap wanita itu. "Ayo, kemari. Duduklah." Perempuan bertubuh tambun itu menarik Seira untuk masuk dan duduk pada salah satu kursi yang berada di kedai.

Seira tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih."

"Apa kau datang dari jauh?"

Seira kembali mengangguk. "Aku datang dari Yokohama."

"Ah― iya juga. Suami Inuzuka memang berasal dari Yokohama. Apa kau salah satu kerabatnya?" Tanya Nyonya Chouza.

"Bukan. Aku hanya kebetulan memiliki urusan yang berkaitan dengan Inuzuka-san."

Chouza mengangguk. Wanita itu duduk tepat disamping Seira. "Hari itu, seorang wanita bernama Chiyo datang mencari alamat untuk  bertemu dengan Zuka-chan. Aku sendiri yang menunjukan rumah Zuka-chan pada wanita itu." Nyonya Chouza terlihat menarik nafas dalam.

"Tak berselang lama, Chiyo-san berteriak minta tolong karena Zuka-chan tergeletak lemas dengan tubuh pucat. Wanita bernama Chiyo langsung memanggil pria yang mengendarai mobilnya dan membawa Zuka-chan ke rumah sakit. Aku datang dengan mobil terpisah karena merasa kasihan dengan Zuka-chan yang sering ditinggal pergi oleh suaminya." Seira diam menyimak dan sesekali menganggukan kepala.

"Zuka-chan hanya tinggal berdua dengan anaknya. Tapi saat itu anak Zuka-chan sedang bermain dan ia tidak tau ibunya dilarikan ke rumah sakit." Nyonya Chouza menjeda.
"Kasihan sekali... anaknya waktu itu mungkin baru berumur 6 tahun. Tapi nasib malang sudah menimpa mereka berdua." Air mata Ny. Chouza mulai mengalir.

FRIEND ZONE (1st Friend Series)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang