09

88 12 0
                                                  

Tidak semua coklat itu manis,
tapi gula sudah pasti manis ―Author

֍֍֍֍֍

Kakashi tengah duduk sambil bersila diatas sofa. Didepannya ada Obito yang berbaring diatas ranjang miliknya.

"Kamar ini tidak berubah sama sekali." Ucap Obito.
"Ku dengar kau memenjarakan Yahiko..." Lanjutnya.

"Iya. Dia sendiri yang tergiring masuk ke sana." Jawab Kakashi dengan santainya sambil membalik sebuah majalah.

Obito langsung merubah posisi:  menyangga kepala dengan tangan kanan. "Memangnya apa yang sudah dia lakukan padamu?"

"Banyak." Kakashi menoleh pada Obito. "Dia melakukan percobaan pembunuhan padaku. Lalu menggelapkan dana perusahaan. Aku tidak bisa mentolerir." Jelasnya.

"Merepotkan sekali. Memangnya dia  lupa dengan apa yang sudah kau berikan padanya?" Obito kembali merebahkan dirinya dan menatap langit-langit kamar Kakashi.

"Entahlah..." Saut Kakashi.

"Nah, Kakashi... apa kau benar-benar tidak menyesal telah mengusir kakakmu dari rumah ini?"

Kakashi langsung melirik obito dengan tajam. "Jangan membuka luka lama. Jangan menemuiku kalau kau hanya ingin membahas masalah itu lagi."

Kali ini Obito merubah posisinya menjadi duduk diatas ranjang. "Pikirkanlah baik-baik. Memangnya kau yakin, bibi Ayano akan tega melakukan semua ini padamu?"

"Obito. Aku sudah sering kali bilang padamu untuk tidak mengungkit soal ini. Kalau kau kasihan pada anak bodoh itu, pergi dan carilah dia. Kau bisa memintanya untuk menjadi pengasuhmu." Kakashi berdiri dan hendak pergi dari sana.

"Ku dengar dia menjadi gelandangan di Distrik Barat." Langkah kaki Kakashi terhenti dan matanya melirik ke samping saat Obito berucap.
"Aku memang belum memastikannya sendiri. Tapi bisa saja dengan kelicikannya, dia akan memutar balikan fakta sesungguhnya dan menyeretmu ke dalam masalah." Lanjut Obito.

Kakashi diam ditempat. Sedangkan Obito kini menundukan kepala. "Aku hanya mengkhawatirkanmu, Kakashi. Kau tau kan betapa liciknya pria itu dan membuat wajahku seperti ini?"

Obito memiliki luka bakar permanen diwajah kirinya sejak usianya 15 tahun. Luka itu ia dapatkan saat bermain petasan dan kembang api di rumah Kakashi. Dan sepengetahuan pria bersurai perak itu, kakak tirinyalah yang menjadi penyebab atas luka yang diderita Obito.

Kakashi membalikan badan dengan kedua tangan yang ia masukan ke dalam saku. "Aku tidak akan membiarkannya lolos kali ini. Mau dia gelandangan atau bukan, ku pustikan hidupnya tidak akan tenang."

Obito mendongak, "Hanya kau teman yang paling berharga, Kakashi." Ia tersenyum hingga matanya menyipit.

"Jadi, tidak ada hal penting yang katanya mengusikmu?" Kali ini Kakashi bersandar pada lemari besar yang ada didalam kamarnya.

Obito menarik nafas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. "Sebenarnya ada sedikit masalah diperusahaan. Kakek memintaku segera menikah dengan seorang wanita yang menjadi anak semata wayang pemilik hotel Continental."

"Bukankah itu bagus?" Saut Kakashi.

"Bagus apanya?! Aku tidak suka dengan wanita arogan yang suka mengatur. Belum apa-apa dia sudah mengatur hidupku begini-begitu. Hah! Memangnya dia siapa!" Obito bersungut-sungut.

"Bilang saja kau sudah memiliki kekasih. Kakekmu pasti akan memaklumi." Saran Kakashi.

"Heh! Memangnya kau tidak kenal siapa kakekku?! Kalau tidak ada bukti, mana mau kakek melepaskanku begitu saja?!" Saut Obito.

FRIEND ZONE (1st Friend Series)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang