08

89 14 2
                                                  

Hidup itu bagai misteri tiada akhir Author

֍֍֍֍֍

Kakashi berkali-kali mengecek ponsel dan kembali meletakan benda itu diatas meja kerja didalam ruangannya.

"Apa dia tidak ingin mengatakan apapun padaku?" Menggumam pelan.

"Dia tidak menyapaku, tidak juga menanyakan kabar..." Lagi, sepertinya pria bersurai perak ini tengah gelisah akan sesuatu.

"Dia sama sekali tidak menghubungiku." Kali ini ia melirik singkat pada benda pipih berwarna hitam diatas meja. Kemudian menghela nafas pelan.

Lalu ponselnya berdering dan itu membuat wajahnya berbinar seketika sebelum akhirnya dia kembali merubah raut wajahnya menjadi masam kala mengetahui siapa yang menghubunginya saat ini. Kakashi mendecih sebelum menggeser tombol hijau.

"Ya."

"Heeeeeiiii! Apa begitu caramu menyapa teman berhargamu ini, hm?" Kakashi mulai menjauhkan ponsel dari telinga.
"Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah menemukan wanita yang cocok yang akan menuntunmu agar tidak tersesat dijalan yang bernama kehidupan, Kakashi?"

Itulah alasan kenapa pria bersurai perak menjauhkan ponsel.

"Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sudah makan? Atau mungkin kau sedang berkencan atau justru kau sedang menunggu kekasihmu memberi kabar?" Suara pria dibalik ponsel sana sedang terkekeh.

"Berhenti menertawakan hidupku, Obito." Kakashi mendengus.

"Terlalu giat bekerja bisa membuatmu cepat tua. Carilah wanita yang mampu mengisi kekosongan dalam hidupmu." Pria dibalik sana, yang Kakashi panggil Obito, tengah menjeda ucapan.

"Kau harus bercermin padaku. Lihat aku dengan matamu yang jeli itu, Kakashi. Aku hidup dengan baik ditemani wanita-wanita cantik yang siap menghangatkan ranjangku kapan saja." Obito terkekeh.

"Kalau mimpi jangan ketinggian, Obito." Kakashi menjeda.
"Jangankan mencari pacar, kau pasti kesusahan mencari pembantu karena sibuk mengurusi perusahaan kakekmu." Ucap Kakashi dengan wajah dan intonasi datar.

Obito terkekeh, "Kau benar-benar tidak berubah."

"Jadi, ada apa kau menelfonku?" Tanya Kakashi.

"Apa???!!!! Memangnya menghubungi sahabat sendiri harus pakai alasan?! Memangnya kau kira kita berteman sudah berapa lama, Kakashi?! Aku bahkan tau apa warna pakaian dalam mu, makanan kesukaan dan juga coklat yang sangat kau benci." Obito menjeda.

"Kau menanyakan alasan? Baiklah, aku akan menjawabnya. Aku datang karena ada seseorang yang tiba-tiba mengusikku. Orang itu memintaku untuk menghubungimu yang selalu sibuk dengan pekerjaan sampai-sampai tidak memiliki waktu untuk berkencan." Obito berucap dengan sekali tarikan nafas.

"Memangnya kau kenapa? Siapa yang berani mengusikmu?" Kali ini Kakashi menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki.

"Kakashi, ku rasa sebaiknya kita bertemu. Aku baru saja tiba di Yokohama. Apa kau ada waktu? Aku akan menunggu di rumahmu, atau bagaimana kalau kita memesan kamar hotel?" Ucap Obito dengan nada menggoda.

"Tidak." Jawab Kakashi dengan cepat.
"Tunggu saja aku di rumah. Jangan mengacaukan kamarku atau ku tendang kau keluar." Lanjutnya.

"Kyaaaa! Aku tidak akan mengacaknya, paling aku hanya akan merubah sedikit disain kamarmu seperti kapal pecah." Obito terkekeh.

"Terserah kau saja. Kalau kau sampai melakukan itu, akan ku hubungi kakek Madara kesayanganmu dan memintanya untuk membekukan semua kartu kredit dan juga rekeningmu." Kakashi berseringai.

FRIEND ZONE (1st Friend Series)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang