A week before wedding day..

2 0 0
                                                  

Cilla menghubungiku melalui Whatsapp dan suaranya yang terburu- buru membuatku menjauhkan telingaku dari layar ponsel. Tidak ada yang telepon yang tidak pernah selalu segera oleh teman lamaku yang satu ini.

"Agnete!", dia tentu akan terlebih dahulu meneriakkan namaku sebelum berkata Halo.

"Halo! Agnete! Kamu tahu, aku barusan ketemu siapa saja hari ini?", Cilla merubah suaranya agar terkesan msiterius.

Aku menatap jam kecil diatas meja tulisku.

"Baru jam 4 sore disini, sudah jam 5 sore di tempatmu. Apa perlu aku mendengar siapa saja yang kamu temui hari ini", ujarkku sembari kembali melihat daftar menu katering yang baru saja akan aku ubah.

"Aku ketemu mantan- mantanmu!", Cilla berteriak sekencang- kencangnya.

"Oh", mataku masih menelusuri daftar menu menarik yang baru saja dikirimkan pemilik katering ke emailku.

"Lho, kamu tidak terkejut? Padahal bukannya bertemu mantan, eh, mantan- mantan pacar sebelum kita menikah itu bermakna sesuatu?", kini suaranya lebih tenang dan ada nada aneh disitu.

"Kamu yang ketemu, bukan aku", aku menuliskan pasta udang dalam daftar baruku.

"Iya juga, ya. Tapi apa kamu rasa ini tidak aneh kalau aku ketemu mereka semua di hari yang sama?", tanyanya lagi untuk memastikan ketidakacuhanku.

"Nope", aku mulai mengetik daftar menu makanan idamanku untuk acara pesta pernikahanku minggu depan.

"Ah. Sayang sekali. Mereka kirim salam padamu. Semoga pesta pernikahanmu lancar", Cilla mendesah kesal.

"Besok aku  akan berangkat, jangan lupa menjemputku di bandara! Awas kalau telat!", telepon sudah terputus sebelum aku sempat menjawabnya.

Aku menyesalkan kenapa Cilla harus punya takdir bertemu mereka semua di hari yang sama dan mengatakan kalau aku akan menikah? Apa perempuan itu sudah lupa kalau aku sudah tidak lagi berhubungan dengan semua mantan-mantanku bertahun- tahun ini? Apa gunanya juga masih tetap berhubungan? Sesuatu yang telah berakhir, harus tetap berakhir.

Suasana hatiku menjadi tidak baik, aku bangkit hendak membuat teh. Cangkir mug kesayanganku yang sudah tua ini tiba- tiba mengingatkanku pada seseorang yang dulu pernah membuat dan memberiku mug ini..

The Lover(S)Where stories live. Discover now