6-Kejadian tak terduga

638 164 740
                                    

Entah siapa yang salah, kamu yang tetap berjuang sendiri atau aku yang asik mengabaikan.

-Rama Aditya Pratama

_____

Bel pulang sekolah berbunyi, pak Senud menghentikan aktivitas mengajarnya. Murid-murid segera berhamburan keluar kelas terkecuali yang mengikuti ekstrakurikuler tertentu.

"Ra, lo mau pulang bareng gak?" Tanya Ghina.

"Enggak dulu deh, hari ini gue bareng si Bima aja." sahut Nara menekuk bibirnya.

Bima adalah bodyguard Nara, pria berwajah tanpa ekspresi itu hanya berselisih umur sekitar 3 tahun. Bima bertugas mengantar-jemput Nara, mengawasi, serta melindungi Nara. Ayah Nara memang sangat over protective sampai merekrut seorang bodyguard. Terkadang Nara merasa terkekang oleh sang ayah, Nara juga ingin bebas seperti anak muda pada umumnya.

Satu notifikasi muncul di layar handphone Nara.

Bimoli😶

Saya sudah berada di depan gerbang, kamu segera keluar!

Gue otw, sabar Bimoli !

Jangan coba-coba kibulin saya lagi!

Iya Bimoli iya, dedek pasrah 😪

Nara berdiri dengan tas hitam putih ciri khas panda yang di gendongnya. Secarik kertas putih di meja menghentikan langkah Nara, ia baca deretan kalimat yang tertera di kertas itu.

'temui gue di gudang sekolah, ada sesuatu yang harus kita bicarakan. Kalau lo gak datang ke gudang, lo bakal nyesel!"

Nara terkekeh geli. "Tulisannya kayak ceker bebek."

Satu detik kemudian, Nara mengerutkan keningnya. Kira-kira siapa oang yang mengirimkan secarik kertas ini? Kenapa harus di gudang sekolah?

Nara bergidik ngeri mengingat rumor di gudang sekolah di huni oleh makhluk tak kasat mata bernama Wati, ia korban bullying yang akhirnya memilih bunuh diri.

Pergi? enggak? pergi? enggak? pergi?

"Tapi gue penasaran, liat bentar deh." batin Nara.

Sebelum pulang, Nara melangkahkan kakinya menuju gudang sekolah. Nara bergidik ngeri, Aura mencekam membuat bulu kuduk Nara berdiri. Nara menengok kanan-kirinya, gudang sekolah begitu sepi.

Mulut Nara komat Kamit membaca doa apa saja yang ia hapal, sudah seperti Mbah dukun yang mengobati pasiennya

"assalamualaikum, ada orang di sini?"

Tak ada sahutan sama sekali.

"Apa jangan-jangan ini karma karena gue suka ngibulin si Bima?"

Nara menangkupkan telapak tangannya. "Nara yang cantik nan kaya raya ini izin pamit ya! mohon maaf kalau mengganggu."

Baru saja Nara hendak membalikkan badannya namun ada seseorang yang mendorong dan mengunci Nara dari luar.

"Woy, siapa lo? Buka pintunya!" Teriak Nara menggedor pintu gudang.

"Salah apa gue sama lo?!" Teriak Nara masih menggedor-gedor pintu gudang.

Satu tetes air mata mengalir di pelupuk mata Nara. "sumpah woy, gak lucu!"

"Tolong! Siapapun yang denger gue, tolong!" Teriak Nara kencang, semoga saja ada seseorang yang mendengarnya.

Nara mengahapus air mata di sudut matanya, ia harus berhenti menangis dan menelepon Bima. Nara mencari handphone iPhone 8 Pro di tasnya, namun handphone nya tak kunjung di temukan. Sial, sepertinya handphone nya tertinggal di kelas.

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang