Memilih jurusan kuliah

20 3 0
                                                  


Ada apa dengan cinta?

Selama SMA aku pernah menulis beberapa puisi, dua kali. Bisa dibilang hobi gak sih? Ya bisa aja. Sebenernya hobi itu bukan tentang kuantitas karya (cieee karya). Jadi waktu itu aku termasuk korban film ada apa dengan cinta yang mendadak ingin menjadi seseorang yang puitis, romantis, dan misterius... seperti Rangga. Dari tiga ekspektasi yang aku sebutkan, mungkin yang berhasil cuma bagian yang terakhir saja. Misteri.

Gara-gara film ada apa dengan cinta, akhirnya aku tahu bahwa ada pasar buku bekas di Surabaya. Aku sungguh-sungguh menjadi seorang-anak-muda-rumahan yang bisa sampai di Jalan Blauran dan Jalan Semarang, waktu itu belum ada google maps. Aku beli buku AKU karya SJUMAN JAYA disana. Sempat balik kesana lagi beberapa kali untuk membeli buku lainnya.

Jadi aku kira ukuran sebuah hobi tidak hanya soal hasil, seberapa banyak, seberapa bagus, dan seberapa sukses. Tapi lebih bagaimana kita mau mengulang-ngulang prosesnya, melakukan pengorbanan, dan kita bisa menikmati itu semua. Sepakat gak?

Well, aku tidak sungguh-sungguh ingin menjadi seorang pujangga. Aku tetap mencari tahu karir yang lebih 'masuk akal', tapi tetap bisa menulis. Akhirnya pilihan itu jatuh ke jurusan jurnalistik, wartawan. Seandainya waktu itu politik menjadi sebuah topik yang serba panas seperti sekarang (atau aku aja yang nggak tahu?), mungkin aku tetep pilih jurusan sastra.

Singkat cerita aku sudah mengisi formulir pendaftaran di sebuah kampus A, dan tinggal daftar ulang saja. Tapi tiba-tiba seorang teman memberikan saran harusnya kalo ingin kuliah jurnalistik, masuknya kampus B saja, bukan kampus A yang aku pilih sekarang.

Oke, aku pindah. See?

Besoknya aku berangkat ke kampus B, masuk ruangan pendaftaran mahasiswa baru. Dalam sebuah antrian tersebut, aku kenalan lagi dengan teman lainnya. Dia memberitahuku kalo masuk jurnalistik harus siap-siap punya kamera, karena prakteknya nanti kita juga menjadi wartawan turun ke lapangan. Masuk Akal. Ketika sampai giliranku di meja pendaftaran, aku tanya bapak-bapak yang duduk disana.

"Disini selain jurnalistik, jurusan yang banyak peminatnya apa ya pak?"

"Kalau jurusan, masuk informatika saja mas"

"Oh..."

Aku mengisi formulir pendaftaran di rumah sembari browsing, jurusan informatika itu isinya apa. Karena sudah dua tahun memutuskan diri dari dunia pendidikan, aku tidak sanggup membaca dengan baik semua informasi yang ditampilkan oleh google. Tapi intinya, di informatika aku akan belajar komputer. Besoknya aku datang lagi ke kampus B untuk daftar ulang.

Berbekal pengetahuan harus punya kamera ketika menjadi mahasiswa jurnalistik, aku bertanya "Kalo belum punya komputer, bisa pakai komputer di kampus ya pak?"

"Bisa mas, ada praktikumnya nanti di lab komputer"

ITU!

Malamnya setelah selesai daftar ulang, aku mulai mengumpulkan data diri yang belum lengkap. Setelah mendengar kata 'belajar komputer' dari bapak-bapak di tempat pendaftaran tadi, yang aku bayangkan adalah aku akan belajar desain grafis disana. Belajar membuat poster, undangan pernikahan, dan apapun yang berhubungan dengan advertising. Satu tahun pertama aku akan menabung sembari belajar desain menggunakan komputer di kampus. Tahun kedua aku belajar otodidak menggunakan komputer sendiri. Tahun ketiga aku mencari pekerjaan part time di bidang advertising. Masa depanku, serapi itu...

Bersambung...
Jika Aku Tidak Jadi Programmer
Terakhir diperbarui: May 03
Jika Aku Tidak Jadi ProgrammerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang