Kenapa tidak masuk SMK?

27 1 0
                                                  

Umumnya ketika lulus SMP, kita akan 'bingung' mau masuk ke SMA mana. Waktu itu aku bingung siapa yang akan bayarin aku sekolah. Tapi biar cerita ini tidak terlalu drama, singkat cerita aku pindah ke Surabaya karena kakak disana bersedia bayarin sekolahku disana.

Surabaya, 2007

Aku pindah ke Surabaya ketika tahun ajaran baru sudah berjalan sekitar dua minggu. Ketika temen-temen seusiaku lainnya sudah melewati masa orientasi siswa (bahkan mungkin sudah cinlok?). Aku baru sampai di Surabaya. Belum tahu apa yang akan terjadi hari esok dan hari-hari berikutnya. Jadi disana sudah tidak ada waktu lagi untuk memilih sekolah. Kakak menghubungi beberapa temannya, mencari sekolah yang masuknya mudah... dengan biaya terjangkau. Akhirnya aku masuk ke salah satu SMA swasta di Surabaya.

Naik kelas XI, ada penjurusan IPA dan IPS. Jurusan ini dipilihkan oleh pihak sekolah atau guru. Jadi kita sebagai siswa menjadi pihak yang tinggal 'like' saja kalau suka, dan 'unlike' kalau tidak suka, tapi tidak bisa komentar. Salah satu hal yang paling aku rasakan tidak bisa grow dengan baik disana adalah... karena tidak sungguh-sungguh belajar ketika SMP. Sehingga masuk IPA atau IPS, rasanya tidak akan ada bedanya.

Aku baru tahu ada sekolah menengah kejuruan (SMK) ketika pertengahan kelas XI. Ternyata ada sekolah menengah yang bener-bener fokus sama keterampilan, agar ketika lulus nanti kita menjadi lulusan sekolah yang siap kerja. Aku merasa... seharusnya aku disana...

Demi mengantisipasi masa depan jadi nggak sampah-sampah banget, semasa SMA aku ikut beberapa pelatihan di luar sekolah. Salah satunya adalah pelatihan teknisi komputer. Yang membuat pelatihan ini menarik cuma satu, yaitu gratis. Alias beasiswa. Dan juga ada kesempatan magang setelah tiga bulan masa pelatihan selesai. Pelatihan ini seru. Isinya bukan hanya pegang obeng, kabel, dan benda tajam lainnya. Tapi kita juga diajarin softskill seperti cara public speaking.

Setelah pelatihan selesai, akhirnya drama dimulai. Beberapa temen disana mulai penempatan magang, yang ternyata hampir semuanya penempatan di luar kota. Salah satu temen yang lumayan akrab di tempatkan di bali. Sebenernya beberapa hari sebelum ujian, aku sudah nanya gimana caranya untuk ikut magang sementara aku masih sekolah. Jawabannya singkat, tidak bisa. Tapi saking inginnya ikut, aku sampai datang bolak-balik ke tempat pelatihan biar bisa ketemu bapak-bapak, yang dia ini semacam penanggung jawab acara pelatihan. Ketika berhasil bertemu, kemudian beliau bilang "Kalau memang beneran ingin ikut magang, coba minta surat persetujuan dari sekolah". Yes, masih ada harapan.

Malam sebelum bertemu kepala sekolah, aku latihan merangkai kalimat demi kalimat agar tidak salah bicara dengan kepala sekolah besoknya, dan juga latihan bicara sendiri, kadang juga bicara dengan tembok. Sebelum pertemuan ini sebenernya aku sering menghadap kepala sekolah, tapi dengan keperluan yang berbeda. Biasanya antara keseringan datang telat, atau keseringan tidur di kelas. Dan akhirnya jawaban untuk perihal surat persetujuan ini adalah...

"Tidak bisa..." Ucap kepala sekolah

"Masa tidak bisa belajar di luar sekolah tiga bulan aja pak?" Tanyaku memelas.

"Saya ini kepala sekolah, bukan tukang sulap"

Sebenernya dari pengalaman pelatihan itu, aku merasa masih ingin belajar lagi. Aku coba mencari tempat kursus yang murah dengan materi yang sama. Hasilnya, agak kurang sesuai harapan. Karena tempatnya jauh banget, dan proses belajar mengajarnya sangat berbeda dengan pelatihan beasiswa yang pernah aku ikuti. Yang beasiswa itu lebih rapi, dan pengajarnya memang diambil dari dosen-dosen kampus terkenal di Surabaya.

Aku juga sempat kursus bahasa inggris dua kali. Yang ternyata dengan modal googling 'tempat yang paling murah', maka sebaiknya kita juga tidak berekspektasi lebih akan hasilnya. Disana aku sekelas dengan anak-anak kuliahan, dan sebagian pekerja. Yang mana akhirnya mungkin aku kurang bisa berkomunikasi dengan baik karena kesenjangan generasi.

Akhirnya setelah lulus SMA? Tidak mungkin lanjut kuliah mengandalkan dukungan finansial keluarga. Beasiswa kuliah? Sejujurnya aku sendiri tidak sanggup melihat nilai SMA. Jadi, maunya ya kerja saja walaupun nggak ada kepastian skill. Tapi, aku harus berusaha positive thinking. Aku merasa tetap harus bersyukur karena sudah berhasil menyelesaikan pendidikan dua belas tahun.

Aku harus percaya.... Setelah ini, aku nggak akan jadi sampah-sampah banget... minimal sampah aja...

Jika Aku Tidak Jadi ProgrammerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang