Bertemu komputer di sekolah

29 1 0
                                                  

Aku tidak menonjol di pelajaran apapun selama SMP. Ketika jam istirahat sebagian anak pergi ke kantin, dan sebagian lagi pergi ke perpustakaan. Aku tetap di kelas. Tidur. Kadang jam pelajaran berikutnya sudah masuk, aku dibangunin teman yang duduk di sebelahku... kadang dibangunin oleh gurunya.

Ketika kelas X total satu angkatan ada empat kelas. Masing-masing kelas berisi sekitar empat puluh anak. Setiap minggu kita ada pelajaran komputer. Sekolah hanya memiliki satu lab komputer. Lab yang memiliki dua komputer, satu komputer diantaranya kadang bisa digunakan kadang tidak. Jadi walaupun ada pelajaran komputer, tidak setiap kesempatan tersebut kita bertemu komputer di lab. Kita lebih banyak tugas-tugas teori, kemudian menjawab soal-soal di kertas.

Ada perasaan bahwa aku nggak salah pake seragam SMP hanya ketika pelajaran TIK saja. Walaupun sebenernya, tidak ada keahlian khusus yang aku miliki semacam excel, photoshop, atau video editing. Belum kesana. Aku hanya bisa hal-hal dasar menggunakan komputer. Tapi aku merasa baik-baik saja karena praktek kita hanya mengerjakan seputar pengenalan komponen-komponen komputer seperti CPU, mouse, keyboard. Pertemuan berikutnya praktek tentang fungsi klik dan klik kanan pada mouse. Pertemuan berikutnya lagi membuat dan mengedit dokumen. Semua itu sudah pernah diajarkan pada saat mentoring di rumah.

Dengan keahlian itu saja. Kadang aku ditahan untuk tidak keluar lab sebentar, biar bisa ngajarin anak yang masuk berikutnya. Dari kebiasaan itulah, akhirnya aku berkenalan dengan seorang teman baru.

Bertemu Abi..

Aku lupa bagaimana tepatnya cerita bertemu Abi. Dari zaman SD aku memang susah untuk dekat sama cowok (apalagi cewek?). Aku merasa susah untuk dekat siapapun. Waktuku sepertinya lebih banyak dihabiskan nonton kartun di rumah. Sampai ketika pelajaran TIK, tiba-tiba Abi menawariku main ke rumahnya sepulang sekolah.

Abi punya komputer pribadi di kamarnya. Berbekal keahlian terakhir bisa memutar lagu via windows media player di rumah, aku jadi tidak terlihat terlalu gaptek di mata Abi. Disana Abi sudah bisa browsing internet dengan komputernya. Itu pertama kalinya aku melihat halaman Google. Banyak sekali hal yang Abi ajarkan. Diantaranya di mengenalkanku pada disket dan cara menggunakan. Aku minta tolong sama Abi untuk dicarikan lagunya Ada Band di internet. Dengan senang hati Abi melakukannya, kemudian mengajariku cara menyimpan lagu-lagu tadi ke dalam disket.

"Jadi dengan google, kita bisa nyari apa aja di dunia ini" Abi sok pinter.

"Apa aja?"

"Apa aja"

"Informasi orang hilang, bisa?"

"Bisa"

"Orang yang suka memberi harapan terus tiba-tiba hilang, juga bisa? "

"Hah?"

Pertemananku dengan Abi nggak menjadi sebuah hubungan jangka panjang. Abi berubah bukan karena sudah menemukan orang yang lebih tepat untuk melengkapi hidupnya. Bukan. Melainkan karena ketika naik kelas dua, aku pindah sekolah. Di sekolah yang baru hampir tidak ada pernah ada praktek pelajaran TIK di Lab. Jadi kadang-kadang aku masih suka ingat Abi. Waktu itu belum ada whatsapp, apalagi instagram stories.

Setiap ingat Abi, aku ingat disket. Setiap ingat disket, aku ingat Ada Band. Setiap ingat Ada Band, aku selalu merasa ingin menjadi wanita yang ingin di mengerti...

Jika Aku Tidak Jadi ProgrammerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang