• 15. Penasaran atau Peduli •

351 36 9
                                    

Happy Reading😊

"Iya-iya janji, udah cepet lo mau nanya apa?"

"Sebenarnya lo ... " Ucap Raka menggantung.

"Jangan digantung ihh." Ara pun berniat untuk mengambil ikan,  yang telah dibakar Raka tadi.

Belom juga tangan Ara menyentuh ikan itu,  Raka langusung menarik tangan Ara. Alhasil Ara menoleh ke arah Raka dan mata mereka berdua saling bertemu. Sepuluh detik mereka bertatap-tatapan, dan akhirnya Ara tersadar.

"Ehem ... " Ara langsung kembali duduk di sebelah Raka, dan berusaha menetralkan detak jantungnya seakan berdetak sepuluh kali lebih cepat.

"Emmm, sebenarnya ada hubungan apa lo, sama Andrian?" tanya Raka dengan wajah sok dingin, untuk menyembunyikan grogi pada dirinya.

"Lo bilang apa barusan,  gue gak denger," dusta Ara memastikan pertanyaan yang Raka berikan kepadanya.

"Ada hubungan apa lo sama Andrian!" ulang Raka dengan menahan emosinya.

Sementara Ara, bukannya menjawab pertanyaan dari Raka malah tertawa terbahak-bahak.

"Lo gila? Ditanya bukannya njawab malah ketawa gak jelas gitu." Tawa Ara meredam kala melihat wajah Raka yang serius.

"Habisnya lo lucu sih," ujarnya dengan sedikit kekehan diakhir.

"Apanya yang lucu coba? Udah lah lupain aja yang barusan gue bilang. Anggap aja gue gak pernah nanya hal sama lo." Raka mengambil ikan yang telah berada di depan Ara. Dan mulai memakannya.

"Raka."

"Hmm"

"Laper—" lirih Ara dengan kedua tangan memegang perut rampingnya.

"Yaudah sini makan berdua."Raka menghela nafasnya, dan menaruh ikan di antara dirinya dan Ara.

Waktu menunjukan pukul 04.15, Raka dan Ara telah bersiap-siap untuk kembali ke lokasi kemping, dan kebetulan hujan juga sudah mereda.

Ara mengikuti Raka yang telah dulu berjalan di depannya. Sekilas Raka melihat Ara yang berjalan dengan tertatih-tatih.

"Lo beneran udah bisa jalan sendiri?" Raka berhenti dan menghampiri Ara yang berada di belakangnya.

"Iya– Gue udah gapapa kok. Sekarang kita lanjutin aja perjalanannya."

"Kalau kakinya masih sakit, bilang aja. Ga usah sok kuat gitu," sindir Raka.

Ara tak memperdulikan perkataan Raka dan berjalan meninggalkan Raka.

"Dasar ketos songong, udah tahu kakinya sakit masih aja keras kepala. " Raka berlari menyusul Ara yang telah meninggalkan dirinya.

Tanpa babibu Raka menggendong Ara dengan posisi koala.

Terkejut? Sudah pasti Ara terkejut, bahkan sekuat tenaga Ara memberontak tapi, apa daya tenaga Raka jauh lebih kuat dibanding dirinya.

"TURUNIN GUE RAKA!"

"WOY! LO TULI!"

"Awh," ringis Raka ketika Ara menggigit kuat lengannya. Dan reflek Raka menurunkan gadis itu dari gendongannya.

"Kan gue udah bilang buat turunin gue, lo sih belagak budek." Raka menghela nafas kasar.

"Gue juga udah bilang kalau kaki lo masih sakit itu bilang, tapi lo gak peduli."

Bungkam

"Sekarang gue kasih pilihan, mau gue gendong atau gue paksa lo kayak tadi?"

Ara tak menjawab, dan dengan sedikit gugup Ara naik ke punggung Raka. Padahal bukan pertama kalinya Raka, menggendongnya. Tadi, malam Raka juga menggendong Ara.

KETOS VS PRADANA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang