Prolog

122 22 39
                                    

Pertarungan sengit itu tak bisa dihindarkan. Tubuh Reyyan terbanting keras ke tanah, botol ramuan yang berada di saku celananya pun ikut terlempar dan pecah. Gadis yang sedari tadi hanya menonton terperanjat. Bau manusia langsung saja menguar di penciumannya. Lelaki di hadapannya bukanlah Rudra, kekasihnya.

Tanpa pikir panjang, gadis tersebut langsung maju menolong, menyerang vampir penjaga tersebut. Karena dari tatapan vampir penjaga, gadis itu mengerti, bau tubuh manusia Reyyan pemicu utamanya. Makhluk immortal di Arciplants East memang sangat sensitif.

Beberapa saat setelah pertarungan, tubuh gadis itu meluruh ke tanah. Pertarungan tadi begitu menguras tenaga, pandangannya menjadi samar, mengabur. Vampir di hadapannya sudah mati. Tapi tak menutup kemungkinan jika dia hidup kembali. Penjaga tanaman abadi itu hidup kekal.

“Kau tunggu di sini, aku akan mengambil Edelweissigra terlebih dahulu,” ucap gadis itu dengan suara lemah, bahkan untuk berdiri saja dia kesusahan. Reyyan di sebelahnya langsung saja menolong, tapi tangannya ditepis begitu saja oleh sang gadis. Dia melilih berjalan dengan tertatih-tatih sendiri, daripada menerima bantuan.

“Biar aku saja yang mengambilnya.”

“Kau ingin mati? Yang bisa mengambil tanaman itu hanya pemilik darah murni. Jika kau lupa hal itu, Tuan. Manusia tak akan bisa mengambilnya.”

Lelaki yang dipanggil Tuan itu hanya dapat membeku di tempat. Semuanya sudah terbongkar. Punggung gadis itu pun sudah lenyap ketika masuk ke gua. Perasaan bersalah seketika menjalar di hati Reyyan. Memanfaatkan gadis yang tidak bersalah demi kotanya? Pengecut. Hal ini tidak benar.

“Cepatlah bergegas. Tanaman ini hanya mampu bertahan 3 hari setelah dicabut dari tanah aslinya. Kau tak punya waktu banyak.”

Reyyan masih bergeming di tempat, sampai tangannya ditarik untuk berjalan. Baru beberapa langkah, gadis itu berhenti. Dia mengambil sebilah pisau kecil yang tajam di saku bajunya. Lantas mengiris tipis telapak tangannya sendiri, kemudian menyodorkan kepada Reyyan. Lelaki itu menatap bingung.

“Minum darahku agar bau manusiamu tidak tercium. Ramuanmu sudah pecah saat bertarung tadi. Itu jika kau tak ingin mati konyol di sini.”

“Tapi---” Omongan Reyyan tidak selesai saat gadis itu menyodorkan paksa telapak tangannya ke mulut lelaki itu. Sampai Reyyan itu gelagapan, bahkan hampir muntah. Sebelumnya, dia tak pernah meminum darah sama sekali. Bahkan, darah hewan sekalipun. Perasaannya terasa diaduk-aduk, mengapa gadis itu tetap menolongnya? Padahal dia tahu sekarang, jika Reyyan bukanlah kekasihnya.

***

Halo, Gaes. Gimana prolognya? Kasih krisar dan vote kalian, ya 💕
Jangan lupa, nanti sore atau malem Arciplants update bab pertama. Besok juga update lagi, loh. See you~

ArciplantsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang