Bab.1 Kata, Pacar.

5.4K 621 95
                                                  

"Hiduplah dengan realistis, bukan pengen eksis agar tidak berakhir tragis."

- Rima -

Penampilan bagi perempuan adalah hal utama yang harus diperhatikan sebelum keluar dari kosan. Begitu prinsipku saat ini, mengingat, pacarku bukan seseorang yang memiliki paras rata-rata. Dia sudah setara model atau aktor drama. Sedangkan aku golongan biasa, dari segi manapun. Tidak ada yang istimewa, kecuali memiliki pacar tampan. That's all.

Mata kuliah pagi ini adalah bahasa Inggris. Berbulan-bulan ikut kursus, demi lulus UN, hasilnya berdampak hingga masa kuliah. Kemampuanku cukup meningkat, meskipun vocabulary masih itu-itu saja dengan kemampuan speaking sedikit kaku, takut salah dan ditertawakan.

Aku berkuliah jurusan ilmu komunikasi, di mana ilmu bahasa Inggris, bisnis, pancasila, logika hingga politik dipelajari. Awalnya tidak ada gambaran atau keinginan untuk 'nyemplung' di jurusan ini. Saat SMA, aku hanya memikirkan bagaimana caranya diterima dan siapa kakak kelas yang breafing, meneliti kemungkinan bisa cinta lokasi dengannya. Itu adalah cerita singkat mengapa aku di sini. Tragisnya, kakak kelas yang aku taksir, ternyata sudah memiliki pacar. But it's okey, life must be go on.

"Udah beres, Rim?" Dhea, teman sekelas sekaligus temanku, bertanya, membuatku tersadar dari lamunan masa lalu yang tidak perlu dikenang karena bukan kutang. Eh, hutang.

"Udah. Langsung kantin, nih?"

Dhea mengangguk mengiyakan.

"Heem, udah lapar berat. Kelas Pak Mulyono pagi banget, nggak sempat makan apa-apa." Perempuan berambut panjang sebahu dengan rambut dikepang bagian depan itu menunjuk perutnya. Mungkin dia berpikir aku bisa melihat atau mendengar para cacing perutnya berdemo.

Pak Mulyono, dosen bahasa Inggris super killer. Selalu datang on time, no late! Mahasiswa yang datang terlambat akan disuruh menutup pintu dari luar. Artinya, ketika terlambat, game over. Absensi Alpa sehingga akan mempengaruhi penilaian untuk kehadiran. Sialnya, beliau juga pelit dalam memberikan nilai. Mahasiswa yang mendapat nilai A- di mata kuliahnya bisa dihitung dengan jari selama kurun waktu dua puluh tahun. Itu yang aku dengar dari para senior.

"Pesan apa?" Dhea menatapku, menunggu jawaban.

"Ah, nasi rames aja." Aku sedikit memberikan senyuman membuat temanku itu berdecak pelan.

"Kenapa kesal begitu? Punya pacar ganteng harusnya happy, dong." Dhea kumat lagi.

"Dia nggak ada kuliah pagi ini."

"Ah, itu sebabnya dari tadi kamu menghela napas berat? Santai, nanti siang juga ketemu kan?" Dhea mengedipkan sebelah mata menggodaku.

"Bukan, maksudku..."

"Oke, yang jomlo pergi aja." Dhea memotong, enggan mendengarkan penjelasan dariku.

Memang, memiliki pacar tampan adalah kelebihan yang cukup membanggakan tanpa harus operasi plastik apalagi kelamin. Eh. Aku sudah perempuan dari lahir, ding! Asli, no tipu-tipu. Semua perempuan di kampus merasa iri. Ke mana-mana, semua mata tertuju pada pacarku, membuatku yang awalnya seperti kutu, sulit terlihat, mendadak menjadi sebesar gajah. Namun, dibalik ketenaran yang besar, selalu tersimpan sejarah kelam yang berkepanjangan.

PACARKU MISKIN TAPI TAMPAN [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang