Seungjoon menyesal sudah tertidur sebentar saat menunggu makanannya panas. Malah tidurnya telentang dan dengan tangan meregang lebar. Suaminya itu sudah pulang saja dan langsung menindihnya. Ah, tidak. Bukan menindih, hanya membaringkan tubuhnya dengan Seungjoon sebagai guling. Namun, dia menghidari perut. Kenapa?
"Kau lupa mematikan microwave," sahut Changyoon ketika menyadari pergerakan kecil pada tubuh di pelukannya.
Seungjoon menggulirkan pandangan ke bawah. Piyama merah muda pastel favoritnya tersingkap setengah dan menampilkan perutnya yang tidak lagi ber-abs.
"Hyung," itu saja. Seungjoon ingin lanjut tidur.
Tapi kecupan kecil yang diberikan Changyoon di perutnya, membuatnya mengerang tak nyaman.
"Apa yang kau lakukan, hyung?" Seungjoon protes.
Changyoon mendongkak. Ia tersenyum sangat lebar.
"Tidak ada," ucapnya.
"Hanya ingin menyapa putraku." Lalu senyuman itu menampakkan deretan gigi. Ah, itu kelemahan Seungjoon. Lihat saja pipinya sudah memerah.
Sementara itu, Changyoon melanjutkan sesi mencium-cium perut Seungjoon. Dan Seungjoon, dia kelihatan sedang ngambek. Entah karena apa dia tiba-tiba seperti itu. Changyoon saja tak meyadarinya.
"Putramu saja? Istrimu tidak?" Ah, karena itu ternyata. Changyoon tertawa kecil. Istrinya menggemaskan, menurutnya.
"Kalian berdua bayi. Kalau begitu,"
"Halo, Seungjoon."
"Ih, apa itu?!" bentak Seungjoon galak. Ia juga dengan cepat beranjak duduk sehingga bisa bertatap mata dengan suaminya.
"Sapaan. Aku menyapamu," balas Changyoon masih dengan wajah berhias senyumannya.
"I-itu tidak adil." Seungjoon memalingkan wajah dan melipat tangan.
"Kalau begitu, kamu mau apa?" Changyoon mendekatkan dirinya, menundukkan badannya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dengan Seungjoon.
Seungjoon memperhatikan suaminya mengikis jarak antara mereka dengan dada yang berdegup tak jelas. Bibir Changyoon menggoda minatnya.
"Ti-tidak ada. Lupakan."
"Hehehe." Changyoon terkikik melihat reaksi Seungjoon yang mengemaskan.
Posisi Changyoon ialah berlutut dengan kedua kaki di atas kasur dan tangan menumpu bagian depan. Ia berada di antara kaki Seungjoon yang terbuka lebar. Astaga.
"Kalau aku..."
"Aku menunggu untuk melihat seorang anak kecil menggemaskan menggenggam tanganku lalu memanggilku "Papa"." Changyoon berkata sembari menampilkan senyum favorit Seungjoon.
"Ah, dia sangat tampan!!" Seungjoon berteriak dalam hatinya. Semburat merah menguak luas di wajahnya.
Seseorang, tolong Seungjoon.
"Ga nanya." Seungjoon berpura-pura berkata dingin. Padahal, seluruh tubuhnya sangatlah hangat terutama pada bagian pipi dan dalam dada. Changyoon menatapnya dengan tatapan polos.
"Berisik, yah. Aku mau tidur!" Kemudian Seungjoon menarik selimutnya lalu berbaring membelakangi Changyoon.
"Jangan marah, sayangku. Sini aku peluk." Changyoon ikut berbaring bersama Seungjoon dan lagi-lagi menjadikannya guling.
"Ish, jangan ganggu aku!" Seungjoon marah. Langsung saja ia beranjak lagi sembari megulung-gulung selimut dan melemparinya pada Changyoon.
"Kok aku dilempar?" Changyoon merengek.
"Ah, Changyoon, perutku sakit," gaduh Seungjoon tanpa mempedulikan rengekan Changyoon. Ekspresi Seungjoon kelihatan sangat kesakitan. Tangannya menempel pada perutnya sembari bergaduh-gaduh sakit.
Changyoon tentunya akan iba. Segera saja ia menghampiri Seungjoon karena khawatir.
"Kau baik-baik saja, Seungjoon? Apa benar-benar parah? Mau aku telepon ambulans?" tanyanya bertubi-tubi dengan nada bergetar karena khawatir.
Changyoon berusaha untuk menyentuh tubuh Seungjoon, tapi empunya terus menepak tangannya. Ah, ia takut kalau terjadi apa-apa dengan istrinya. A-atau, dengan anaknya? Yang bahkan masih berumur 2 minggu?
"Seungjoon-ah..." Ia memanggil Seungjoon. Dirinya jadi sedih. Air matanya hampir tumpah.
Rasa khawatir dan kesedihan menuntunnya untuk meraih tangan Seungjoon lalu menggenggamnya.
"Kamu ga apa-apa, kan?"
Changyoon memeluknya. Ia hampir menangis kalau saja Seungjoon masih bergaduh. Dan, istrinya itu malah tersenyum cengir. Sekarang malah kelihatan seperti seorang anak yang telah mendapatkan permen.
Changyoon melepaskan pelukan, melihat wajah Seungjoon yang makin manis dengan senyumannya. Kenapa Seungjoon tersenyum seperti itu?
"Udah baika-Ah, hei!" pertanyaannya terpotong. Seungjoon dengan cepat menghambur kembali ke pelukan Changyoon dan segera menyerang bibirnya, membuatnya terkejut setengah mati.
Seungjoon memberikan kecupan manis di bibir Changyoon. Tangannya meremas kemeja yang dipakai Changyoon erat, dan itu sangat mengemaskan.
"Aku bercanda!" seru Seungjoon setelahnya, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Bisa saja, yah, kamu. Aku serius, loh," bentak Changyoon pelan.
"Maaf. Ma-Akh!" Tak sempat Seungjoon melanjutkan, Changyoon mendorongnya hingga kembali berbaring telentang.
"Kenapa aku didorong?!" protes Seungjoon. Pemuda itu berusaha menyingkirkan yang lebih besar dari menindihnya.
"Sini, nakal." Changyoon menggenggam kedua pergelangan tangan Seungjoon.
"Ih, ga mau! Ga mau! Aah! Ga maauu!" rengek Seungjoon.
Sungguh pasangan yang aneh bukan.
Changyoon membalas ciuman Seungjoon tadi dengan ciuman lainnya, namun lebih ganas. French Kiss. Iya, ia mempraktekkannya sekarang.
Seungjoon tidak suka ini. Bibirnya masih bengkak karena apa yang dilakukan Changyoon kemarin. Langsung saja ia mendorong suaminya dengan kekuatan ekstra menggunakan kaki.
"Ih, aku masih marah sama kamu!" amuk Seungjoon sembari melipat tangan dan membuang muka.
"Kok masih ngambek?" Tapi, Seungjoon tidak merespon.
Changyoon menatap istrinya yang menjatuhkan air mata. Entah apa, namun raut wajahnya berubah jadi bersedih.
"Ih, ga usah cemberut gitu, donk. Sini aku gendong. Kita makan." Dan, Seungjoon menyengir kembali.
"Nah, kalo itu aku mau. Ayo, sini. Peluk. Peluk," pekiknya sambil membentang tangan lebar-lebar.
"Dasar. Kalo makan, kamu nomor satu!" Changyoon sebal. Namun, ia tentunya mengangkat tubuh Seungjoon dan membawanya ke dapur. Sudah ada kejutan manis di sana.
