5-Selamat pagi Rama!

651 177 771
                                    

Aku adalah si pemaaf yang tak kenal lelah dan kamu adalah si pemberi luka yang tak mau bersalah

-Nara Pramudita Nareswari

_____

Rama keluar dari kamarnya, ia turun tangga untuk bersiap sarapan bersama keluarganya. Langkah Rama berhenti, ia sangat terkejut begitu melihat seorang perempuan asing yang sedang berbincang dengan keluarganya di meja makan.

Mau apa cewek gila itu pagi-pagi di rumahnya?

"Hai, selamat pagi Rama!" Sapa Nara dengan senyum cerianya.

"Ngapain lo pagi-pagi di sini?" Tanya Rama dingin.

"Liat tuh om, kelakuan anak Om!" adu Nara pada Pratama.

"Rama gak boleh gitu sama Nara!" Tegur Pratama.

"Sini duduk Rama, makan dulu!" Tambah Pratama.

"Rama makan di sekolah aja yah." tolak Rama, nafsu makannya hilang seketika.

"Gak sopan banget sih lo! ada temen lama bukannya di sambut baik." ucap Indira kesal.

"Cih, dia mah bukan temen gue kak! Dia mah kayak jailangkung. Datang tak di undang, pulang tak di antar!" Decak Rama.

"Pergi ke sekolah sana! Bikin nafsu gue hilang aja!" Usir Rama.

Nara tersenyum miris, padahal ia sudah datang pagi-pagi ke rumah Rama untuk meminta maaf atas kelakuannya kemarin.

Nara tersenyum simpul di tempatnya. "Yaudah, Nara pamit ke sekolah dulu om, kak Indi, Rama."

"Eh Nara harus sarapan dulu pokoknya! nanti ke sekolah bareng Rama" sahut Pratama.

"Rama gak mau yah!" Tolak Rama.

Pratama menatap anaknya tak suka. "Rama gak boleh ngomong kasar kayak tadi sama perempuan! Orang yang sudah lahirin kamu juga perempuan!"

"Kamu sarapan dulu baru ke sekolah bareng Nara!"

"Ayah Gak Nerima penolakan!" Tegas Pratama.

Dengan berat hati, Rama mendudukkan tubuhnya di samping Nara. Itu satu-satunya kursi yang tersisa, biasanya kursi itu di pakai oleh sang bunda.

Rama segera menyantap makanan yang sudah tersedia di meja makan, ia ingin cepat-cepat selesai sarapan dan sampai ke sekolah.

"Enak banget rasanya! mirip masakan bunda." Puji Rama Ketika menyantap masakan yang sedang di lahapnya.

"Enak ya ram?" Tanya Indira tersenyum geli.

"Iya enak banget! tumben si bibi masak persis rasa masakannya kayak bunda."

Sudut bibir Nara terangkat, membentuk senyuman kecil.

"Makasih Rama! Gak nyangka bakal enak banget." Ucap Nara malu-malu kucing.

"Maksud lo?" Tanya Rama tidak paham.

"Itu Nara yang masak!" Sahut Indira di iringi dengan tawanya.

Rama menelan Saliva nya, ia terkejut oleh pernyataan yang baru saja di ucapkan kakak perempuannya. Rama menuangkan air putih ke gelas lalu meneguknya perlahan.

"Maksudnya tadi rasanya asin banget!" Ucap Rama berbanding terbalik dengan ucapannya satu menit yang lalu.

"Tadi katanya enak!" Ledek Pratama yang sudah tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya.

"Tadi katanya enak!" Ledek Pratama yang sudah tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang