4-Pingsan bohongan

730 200 751
                                    

Aku mencintaimu dengan segenap jiwa raga, tapi perjuanganku tak pernah kau anggap ada.

-Nara Pramudita Nareswari

____

Nara menatap tajam kakak kelas yang berdiri di sampingnya. Gara-gara kakak kelasnya ini, Nara mendapatkan hukuman hormat ke bendera merah-putih sampai bel istirahat berbunyi. Sialnya hari ini begitu panas, untung saja Nara sudah mengolesi sunblock sebelum di beri hukuman.

Kringgg.

Bel istirahat telah berbunyi yang berarti masa hukuman juga telah berakhir.

Clara mengacungkan telunjuknya tepat di bagian wajah Nara. "Heh adek kelas songong, inget lo harus berhenti ngejar-ngejar Rama!"

"Kalau lo masih kekeh deketin Rama, gue bakal kasih perhitungan buat lo!" Tambah Clara.

Nara memutar bola matanya, ia ingin sekali menyubit ginjal kakak kelas iblis yang sudah mulai menghilang dari pandangannya.

Nara membalikkan badannya, ia hendak ke kantin untuk membeli air mineral. Namun langkah Nara terhenti ketika melihat Rama melintasi lapangan upacara dengan memegang dua buku di tangannya. Pasti Rama ingin ke perpustakaan, perpustakaan terletak di sebelah kanan lapangan upacara.

Sebuah ide terlintas di pikiran Nara, ia berpura-pura berjalan sempoyongan dengan tangan memijat pelipisnya.

Laki-laki itu terhenti, hanya menatap Nara datar lalu memilih melanjutkan langkahnya.

"Ih nyebelin banget sih!" Batin Nara.

"Aduh gue pusing banget!" Teriak Nara kencang

"Tolong! Gue pusing banget!" Teriak Nara lebih kencang, berharap Rama membalikkan badannya.

Langkah Rama terhenti oleh teriakan Nara. Rama menengok kanan-kiri nya, sedikit orang yang berlalu lalang karena lebih memilih pergi ke kantin yang berada di lantai atas.

"Lo sakit?" Tanya rama mendekat ke Nara.

"Cie khawatir Rama!" Ucap Nara malu-malu kucing.

"Lo sakit?" Tanya ulang Rama, jujur ia tak begitu yakin karena mendengar betapa semangatnya Nara berbicara.

"Kepala gue pusing! Dada gue sakit! Kayaknya mau pingsan deh!" jawab Nara berbohong.

"Duh gue Gak kuat lagi!"

"Pastiin lo yang gendong gue!"

Brukkk.

Orang-orang yang berada di sekitar lapangan di buat heboh oleh cewek mungil yang baru saja pingsan di hadapan tiang bendera upacara. Mereka hendak membantunya, namun urung saat sudah ada Rama di depannya. Jangan berharap akan ada scene seperti di cerita novel remaja, karena Rama sama sekali tidak bergeming di tempatnya.

Rama menatap Nara dengan tatapan bingung. "Ini anak beneran atau bohongan sih?"

"Sialan, bukannya di tolongin!" Batin Nara kesal.

"NARA!"

Seorang cewek berlari kencang menuju lapangan upacara, ia sangat panik melihat sahabatnya terbaring lemah di lapangan tanpa ada yang membantunya. Bahkan air mineral yang ia beli di kantin untuk Nara di buang begitu saja saking shock nya.

"Lo kenapa diem aja? bukannya di tolongin!" Tanya Ghina pada Rama saat sudah berada di hadapan Nara.

"Dia beneran pingsan?" Tanya balik Rama.

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang