part 8 dan 9

48K 938 701
                                                  

Sugik mengangkat tubuh Sri dengan linggis masih tertancap di tubuhnya ia hantamkan pada sebatang pohon pisang yang sudah di ikat di atas ranting-ranting pohon seakan Sugik dan isterinya akan membakar ranting tersebut.

tak beberapa, seekor kambing hitam mendekat, Sugik mengambil pisau lalu menggores  lengan milik Sri yang sudah lemas dengan sebilah pisau kecil. darah dari Sri ia teteskan ke mulut kambing hitam itu dan dengan gerakan yang cepat Sugik menggorok binatang itu dan semuanya terjadi. sesuatu yang akan membayar lunas hutang Sugik pada Sabdo Kuncoro.

SABDO KUNCORO

Mobil berjalan melewati pagar, Arjo duduk di belakang ia memperhatikan dengan seksama pemandangan itu. sebuah pemandangan yang nyaris berbeda dengan pemandangan yang pernah Sabdo lihat di tempat tinggalnya dulu. Rumah ini tak seperti rumah biasa dan ia bisa merasakannya.

Dari jauh, Sabdo melihat ada beberapa orang tengah berdiri seperti sedang menunggu kedatangan mereka.

"mereka adalah anak isteriku, keluarga barumu le" kata Arjo tanpa menoleh pada Sabdo.

Mobil berhenti, mas Sugeng bergegas turun lalu membukakan pintu, di sana Sabdo terlihat ragu-ragu keluar dari dalam mobil, "ayok mas, sudah di tunggu loh" kata mas Sugeng ramah. Di hadapannya kini berdiri beberapa orang asing yang tak pernah Sabdo lihat sebelumnya, terdiri dari seorang perempuan dewasa dengan satu anak perempuan, di samping mereka ada dua anak lelaki. Dua anak lelaki yang bila di lihat dari mata Sabdo tampak terlihat lebih tua di bandingkan dirinya sendiri hal itu jelas terlihat dari garis wajah dan tinggi mereka, mungkin usia mereka tak terpaut jauh dengan dirinya dua atau mungkin tiga tahun lebih tua, sedangkan satu perempuan tampak terlihat lebih muda dan bila benar Sabdo yakin ia seusia dengan dirinya. Dua anak lelaki itu berdiri berdampingan mereka mengenakan pakaian yang sama seperti milik tuan Arjo, hanya saja warna pakaian mereka berbeda. Sedangkan dua perempuan mengenakan gaun jawa dengan bahan yang sama. Kedua rambutnya sama-sama di sanggul ke belakang menyerupai seorang ningrat dari jawa kuno. Itu yang Sabdo tahu.

Sabdo melangkah turun, tak ada yang berubah dari ekspresi wajah mereka saat Sabdo melangkah keluar dari dalam mobil, hanya tuan Arjo yang mendampingi Sabdo berjalan menuju ke tempat mereka tengah berdiri tepat di depan Rumah besar tersebut.

Sabdo hanya diam tak kala ia melihat mereka satu persatu, keluarga ayah lain ibu. tak ada percakapan di antara mereka sampai tiba-tiba seseorang menepuk bahu miliknya. "kau yang bernama Sabdo" katanya dengan nada ramah, "bapak pernah menceritakanmu, aku Intan—Intan Kuncoro"

Sabdo menatap perempuan di hadapannya ia menatap dirinya dengan senyuman yang membuat Sabdo tak tahu harus bereaksi seperti apa. rambut di sanggul dengan hidung mancung, tinggi mereka nyaris sama, dan bila tebakan Sabdo tadi benar pasti usia mereka tak terpaut jauh lebih dekat di bandingkan dua anak lelaki yang masih menatapnya sengit. Perempuan yang sedang berbicara dengan Arjo beberapa kali mencuri pandang melihat Sabdo entah apa yang ia katakan dengan tuan Arjo namun sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan dan hal itu sesungguhnya menganggu pikiran Sabdo.

"kenapa ia di bawa kesini, apakah hanya untuk bertemu dengan ister dan ketiga anaknya saja. Tidak pasti ada sesuatu yang lain" batin Sabdo.

"ini adalah Isteriku Lasmini" kata Arjo tersenyum.

Lasmini adalah sosok keibuan terlihat bagaimana ia tersenyum dan membelai rambut Sabdo.

"dan ketiga anakku" kata Arjo. "Pras anum anak pertamaku, Batra dan terakhir anak perempuan satu-satunya, Intan"

Arjo kini beralih menatap rumah besar di belakangnya. "Sabdo anakku, mulai detik ini kau pantas mendapatkan namaku. Sabdo Kuncoro itu namamu"

JANUR IRENGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang