06

90 15 2
                                                  

Kakashi adalah anak tunggal dari ibu kandungnya. Beda cerita dengan status dari sang ayah, maka Kakashi adalah anak ke dua dari Hatake Sakumo.

Saat itu Kakashi berusia 6 tahun, duduk bersimpuh memeluk jasad ibunya yang sudah tak bernyawa di ranjang perawatan. Ia sedih, sampai air matanya tak bisa mengalir. Ia sendirian, hanya bersama jasad ibunya saja disana.

Lalu tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Menampilkan sosok pria dengan surai perak dan wajah yang hampir sama dengannya. Pria itu berlari dan langsung memeluk Kakashi.

"Maafkan ayah... maafkan ayah, nak.... Ayah tidak bisa menemani kalian. Maafkan ayah..." Pria itu menyeka air matanya yang turun setetes demi setetes.

"Aku baik-baik saja. Tapi ibu diam saja, Yah. Dia diam saja bahkan saat ku tawarkan kue dango hangat padanya." Ucapan Kakashi membuat pelukan Sakumo semakin mengerat.

"Gomennasai..." Suara Sakumo tertahan, air matanya bahkan tak lagi bisa dibendung.

"Apa sekarang ibu sudah tidak kesakitan lagi?" Sakumo hanya bisa mengangguk.
"Syukurlah... aku ingin ibu senang, ayah..." Lanjutnya.

"Iya, ibumu pasti bahagia disana. Dia tidak akan kesakitan lagi." Sakumo mencium kepala Kakashi.

Sehari setelah pemakaman sang ibu, ayahnya membawa Kakashi ke sebuah rumah yang berkali-kali lipat lebih luas dari rumah yang ia tinggali bersama ibunya.

"Oh― Ayah! Kau sudah pulang?" Seorang anak dengan surai yang sama seperti milik Kakashi menyapa sambil membawa sebuah kamera yang ia kalungkan di leher. Wajahnya datar, sedatar intonasi yang ia keluarkan.

"Tadaima... dimana Ibumu?" Tanya Sakumo.

"Ibu dikamar." Jawab anak itu datar.
"Oh― rambutmu sama denganku. Tapi milikku sedikit bergelombang." Ucapannya ditujukan pada Kakashi.

Kakashi kecil yang tengah di gendong oleh sang ayah, mendengarkan sambil mengeratkan pelukannya di leher Sakumo.

"Hei, anak sombong lihat sini! Aku bawa kamera. Kau harus tersenyum!" Meski sekarang wajahnya terlihat jahil, namun anak laki-laki itu memiliki sorot mata yang tajam. Kakashi bahkan sedikit takut karenanya.

"Otou-chan..." Cicit Kakashi.

"Tidak apa-apa Kakashi. Dia tidak akan memakanmu." Ayahnya tersenyum namun Kakashi memilih untuk mengangkat syal yang ia kenakan hingga menutup mulut.

CEKREK!!

"Hah! Kau ini bagaimana?! Kalau begini tidak ada yang tau ini kau atau aku!" Anak itu kesal.
"Isshhh... Ternyata selain mengambil ayahku, kau juga punya sifat jelek seperti wajahmu!" Anak itu mengibas-ibaskan sebuah kertas yang keluar dari kameranya.

"Ini, untukmu saja!" Anak kecil itu lebih tua dari Kakashi, berlalu dengan muka masam karena tidak bisa mengambil gambar dengan sempurna.

"Ibuuuu! Ayah pulang dengan anaknya!" Anak itu berteriak sambil menaiki tangga rumahnya.

"Hei! Kau tidak boleh bicara begitu! Dia itu kan adikmu juga!" Seorang wanita yang tak kalah cantik dari ibu Kakashi ini muncul. Lalu menjitak bocah dengan surai yang lebih ikal darinya.

"Itatatataaaaaa! Sakit ibuuuu!" Bocah itu mengusap kepala dan mengaduh kesakitan.

"Kau harus sopan dan sayang padanya!" Tegur wanita itu.

"Hmph! Untuk apa? Dia kan yang sudah membuat ayah menelantarkanku dan ibu, apa kau lupa Bu?"

PLETAK!

Sebuah jitakan mendarat kembali di kepalanya.

"Dasar anak nakal!" Ibunya geram.

"Hei kau!" Tunjuk anak laki-laki itu pada Kakashi.
"Orang-orangan sawah! Jangan harap aku akan menyayangimu. Lihat saja, aku pasti akan membuatmu bertekuk lutut padaku!"

FRIEND ZONE (1st Friend Series)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang