05

87 16 0
                                                  

Tak semua yang kita inginkan,
terjadi seketika.
Kita tak hidup di dunia dongeng. ―Tere Liye

֍֍֍֍


Dazai duduk didepan Seira, sedangkan Kakashi duduk diantara keduanya. "Apa kabarmu, Dazai?"

Pemuda itu mendecih. "Aku muak dengan orang sepertimu." Kakashi baru saja ingin menghajar Dazai, tapi ditahan oleh Seira.
"Kalian semua pura-pura mendengarkan keluhanku, lalu berpura-pura simpatik seolah-olah kalian mengenal ku." Lanjutnya dengan tetapan tajam mengarah pada keduanya.

"Baiklah, kalau begitu mari kita berkenalan. Namaku Kiyomizu Seira. Kau dengar, kan? Ki-yo-mi-zu." Seira menekankan marganya dengan sangat jelas. "Siapa namamu?" Lanjutnya.

"Dazai. Osamu Dazai." Jawab pemuda itu.

"Baiklah, Osamu-san. Biarkan aku mendengarkan semua amarah yang kau pendam." Seira menjeda.
"Kau ingin aku bersikap sebagai siapa? Orang lain? Teman? Musuh? Ayah, ibu, kakak, adik, atau... selingkuhan ayahmu?"

Shikamaru yang berdiri dipojok ruangan membulatkan mata mendengar ucapan Seira. 'Nona Seira benar-benar bisa membaca pikiran orang lain hanya dengan melihatnya! Luar biasa!'

Awalnya Dazai terkejut, namun ia mencoba untuk tak demikian. "Ka-kau bisa menjadi yang terakhir." Jawab Dazai.

"Baiklah, Kiyomizu Seira ini akan mendengarkanmu sebagai selingkuhan dari ayahmu. Nah, mari kita melakukan dialog layaknya anak laki-laki dengan seorang selingkuhan ayahnya."

Ucapan Seira membuat Kakashi menaikan sebelah alis. 'Dia benar-benar akan melakukannya? Apa ini metode baru? Memangnya bocah berandal ini bisa terbuka dengan cara seperti itu?!'

"Aku minta maaf, Dazai. Membuatmu menderita dengan keberadaanku diantara Ayah dan Ibumu. Aku juga tidak menginginkan semua ini, tapi takdir berkata lain."

'Seira-san benar-benar mendalami karakternya!' Batin Shikamaru.

"Sepeninggal ayahmu, aku sudah menyerahkan semua harta warisan pada ibumu yang sudah ayahmu berikan padaku. Tidak ada yang tersisa, bahkan beberapa hutang-hutang ibumu yang tersisa sudah ku lunasi dengan uang pribadiku. Aku hanya bisa menebusnya dengan itu. Aku harap kau bisa hidup sejahtera bersama saudaramu yang lain." Seira membungkuk didepan Dazai.

Dazai terdiam cukup lama. Bahkan Kakashi mulai gelisah melihatnya.

"Kau.... Kenapa tidak pernah memperhatikan kami?" Ada kesenduan dan kekosongan  dibalik gumaman Dazai.

"Kenapa setelah ibu meninggal kau malah pergi seperti orang yang tidak bertanggungjawab, hah?!" Kali ini emosinya membuncah.

Dasar ABG, ababil.

"Maafkan aku, aku bukan tidak bertanggung jawab, semua biaya hidup dan pendidikan aku yang menanggungnya. Aku masih bertanggung jawab meski tidak bisa bertemu langsung dengan kalian." Meski Dazai lebih muda, Seira tetap menundukan pandangan.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak datang mengunjungi kami?" Dazai menggumam.

Seira langsung mendongak. "Ya?"

Raut wajah Dazai berubah masam. "Kau kan bisa mencucikan baju dan membereskan rumah kami! Jadi kami tidak perlu repot-repot melakukannya sendirian!" Dazai menjeda.
"Aku punya dua adik yang merepotkan. Satunya tidak mau diam dan seperti orang mati jika kekenyangan. Sedangkan satunya lagi seperti pembunuh berdarah dingin yang merindukan kasih sayang! Kau seharusnya merawat mereka dengan baik! Bukan malah kabur seperti penjahat!" Ada yang sedang berusaha Dazai sembunyikan.

FRIEND ZONE (1st Friend Series)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang