02

105 20 5
                                                  

Hidup terus berjalan,
tapi tidak pernah sama lagi.
Mereka berputar layaknya sebuah roda ─Pinterest

֍֍֍֍

Hari dimana Seira dan Luza beraksi adalah hal yang paling ditunggu. Mendebarkan, itulah yang Luza rasakan. Seira berdebar, tapi bukan karena kasus yang ia tangani ataupun karena ketampanan Kakashi.

"Kau kenapa sih sedari tadi gelisah?"

Seira menoleh, "Aku? Masa sih? Tidak begitu tuh." Ia menghendikan bahu.

"Berapa tahun kita berteman, woi?!  Aku hafal semua dengan tingkahmu." Karena kali ini Seira yang mengemudikan mobil, Luza sedikit khawatir karena beberapa kali sahabatnya itu terlihat gagal fokus.

Luza belum ingin mati, setidaknya jangan sekarang. 'Aku masih belum bertemu pujaan hatiku, wahai Kami-sama! Berikan aku umur panjang!' Seraya merapalkan do'a, ia kembali menoleh ke arah sahabatnya. "Kalau masih ada yang mengganggumu, sini aku saja yang mengemudi."

"Sepertinya aku belum sarapan." ―Seira

"Hah?" ―Luza

"Aku lapar sampai jantungku berdebar."Jelas Seira.

"Astaga!!!!! Lalu apa saja yang kau lakukan sedari tadi, hah? Kau membuatku menunggu 45 menit dan sekarang kau bilang belum sarapan? Memangnya kau bangun jam berapa sih tadi!" Hilang sudah kesabaran Luza.

"Aku baru bangun 15 menit setelah kau menelfonku." ―Seira

"Apaaaa?!!!" Luza menoleh dengan wajah sangarnya.

"15 menit ku gunakan untuk bersemedi dan 15 menit untuk mandi dan bersiap. Aku tidak sempat sarapan."

"Astaga.... bagaimana jika kau tinggal dengan anak-anak, mereka pasti terlantar karena memiliki ibu sepertimu." Gumam Luza sambil menoleh ke arah jendela di sampingnya.

Kemudian ia kembali menoleh pada Seira. "Memangnya kau tidur jam berapa? Pagi lagi?"

"Aku tidur setelah mengajar privat melalui video call dan meminum beberapa botol sake." Jawab Seira apa adanya. "Sepertinya botol yang ke 3 itu bukan sake. Mungkin minuman kaleng yang sudah kadaluarsa." Ia menggumam.

Luza berdecak. "Kau masih mengajar anak-anak itu?" Seira menoleh dan mengangguk.

"Bagaimana kabar mereka?" ―Luza

"Sepertinya baik-baik saja." ―Seira

"Kau tidak menemui mereka?" ―Luza

Kali ini Seira tak menoleh. "Tidak semudah itu menerima orang lain menjadi bagian dari mereka. Jangankan menerima, melihatku saja pasti dia sangat marah."

Luza menatap sendu sahabatnya. "Itu kan bukan salahmu, Sei... tidak ada yang bisa melawan takdir, kan?"

Kali ini Seira menoleh tanpa respon apapun.

"Ya sudah, ayo kita cari sarapan dulu. Akan ku beritau Shikamaru-san kalau kita terlambat." Luza menepuk bahu Seira.

© © ©

Luza berjalan memasuki lobby gedung Hatake Corp. Ia mengenakan atasan berwarna merah dan juga rok hitam panjang. Semua netra tertuju pada pegawai baru gadungan ini. Parasnya tentu saja cantik, rambut hitamnya bahkan menjadi daya tarik tersendiri.

FRIEND ZONE (1st Friend Series)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang