(Gambar ini saya ambil dari pinterest, paling tidak visualisasi seorang Luza adalah seperti gambar diatas ☝️)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(Gambar ini saya ambil dari pinterest, paling tidak visualisasi seorang Luza adalah seperti gambar diatas ☝️)

Dengan anggunnya, ia membawa sebuah berkas yang ia dapatkan dari sang kepala bagian administrasi dimana ia ditempatkan. 60 menit yang lalu ia berkenalan dengan beberapa pegawai disana. Tak sedikit pria yang meminta kontak person miliknya. Namun Luza berdalih jika ponselnya rusak dan sedang diservice.

TOK! TOK! TOK!

Tangan mulusnya mengetuk sebuah pintu kayu hingga sang pemilik ruangan mempersilahkannya masuk.

"Mr. Yahiko, saya ingin meminta tanda tangan persetujuan anggaran pembangunan arena olah raga untuk Kampus Konoha." Tubuhnya yang memang ramping itu bergerak dengan anggun bak seorang model profesional. Yang tentu saja membuat si Kepala Bagian Keuangan ini terpesona.

Bibir Luza berseringai tipis, 'Kita lihat berapa lama kau akan bertahan dengan pesonaku.'

Luza membungkuk untuk meletakan map diatas meja Yahiko dari samping, lalu ia menyelipkan anak rambut di belakang telinga sambil menatap Yahiko malu-malu.

Yahiko berdehem, "A―apa kau pegawai baru?"

"Benar, Mr." Kali ini mata kirinya berkedip, hal yang sama seperti yang Seira lakukan pada Kakashi kemarin.
'Astaga! Aku pasti sudah gila!' Luza merutuki dirinya sendiri.

Pria bernama Yahiko itu menyandarkan punggungnya disandaran kursi, lalu menggerakan kursi tersebut hingga menghadap wanita didepannya sambil menatap Luza. "Siapa namamu, cantik?" Ia menyangga kepala dengan tangan kanan yang sikunya ia tempelkan diatas meja.

Luza sudah berdiri tegak didepan Yahiko. "Tau nama lain madu, tidak?"

"Honey?"

"Yes, i'm."

"Namamu Honey?"

Luza kemudian membungkuk dan berbisik tepat ditelinga kiri Yahiko, "Panggil aku honey jika hanya ada kita berdua." Suaranya dibuat pelan dan seseksi mungkin.

"Menarik."

Setelah Luza kembali menegakkan tubuhnya, kali ini Yahiko yang berdiri. "Aku terbiasa bermain aman. Apa kau mau coba?" Ucapnya sambil menyelipkan anak rambut di telinga kiri Luza.

Wanita itu terkekeh, "Pekerjaanku banyak, jadi maaf saja." Luza mengetuk-ketukkan telunjuknya pada map yang masih berada diatas meja Yahiko.

"Baiklah... akan ku selesaikan semuanya." Yahiko kembali ke tempat duduknya.

Hal itu membuat senyum di wajah Luza mengembang. 'Dasar pria mata keranjang! Diberi umpan langsung nyambar! Untunglah, aku masih bisa selamat!'

"Datanglah kesini saat jam makan siang. Kita bisa saling menyantap." Ucap Yahiko saat mengulurkan map yang sudah selesai ia tanda tangani.

"Ah―  sepertinya tadi anda dipanggil Mr. Kakashi ke ruangannya, Sir." Ucapan Luza membuat Yahiko berdecak.

FRIEND ZONE (1st Friend Series)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang