"Pak Karni, ayok berangkat!! Diza udah siap nih," panggil Diza yang duduk di kursi teras rumahnya mengikat sepatu.
"Iya, Non. Ayuk mah kalau gitu," balas Pak Karni dengan semangat pagi yang luar biasa.
"Bun, Yah, Diza berangkat yah," pamit Diza kepada kedua orang tuanya.
"Iya sayang kamu hati hati yah," pesan Bunda kepada Diza.
"Pak Karni, bawa mobilnya pelan pelan aja yah pak. Jangan ngebut," pesan Ayah kepada Pak Karni sambil tersenyum,
"Siap, Tuan," jawab Pak Karni sambil menaikkan jempolnya.
Diza hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan Pak Karni pagi ini.
"Hmm, Pak Karni ada ada aja deh," ucap Bunda sambil menatap keergian mobil yang di tumpangi Diza.
"Yaudah deh Bun, masuk yuk,"
"Iya,"
Akan tetapi, sebelum Ayah dan Bunda masuk ke dalam rumah, ada seseorang yang bertamu pagi pagi sekali.
"Permisi tante,"
Bunda berbalik badan dan melihat siapa yang datang bertamu pagi hari.
"Iya selamat pagi. Nak Bagas, ada apa sayang?"
"Ini saya mau jemput Diza buat bareng ke sekolah kalau dierbolehkan tantae," kata Bagas dengan nada bicara yang begitu tenang.
"Diza baru aja berangkat,"
"Baru berangkat? Sama siapa tante?"
"Iya. Di antar sama Pak Karni. Emang kamu nggak dikabarin sama Diza?"
Bagas hanya menggeleng menjawab pertanyan Bunda Diza.
"Kalau gitu, Bagas permisi yah tante. Mau berangkat sekolah juga," pamit Bagas sambil mencium tangan Bunda Diza.
"Iya sayang. Kamu hati hati yah,"
Bagas hanya tersenyum mendengar pesan Bunda. Ia lalu menaiki motor maticnya dan melajukannya ke sekolah.
***
Jam pelajaran sudah berganti jam istirahat. Fase serius sudah bergnti menjadi bermain. Dan seperti biasa, Diza sudah berada di taman belakang sekolah. Dengan music yang didengar lewat earpod yang terpasang. Selalu dengan lagu lagu dari radiohead. Sesekali ia menatap langit cerah siang ini. Dan ia tersenyum karena melihat bumi dan lagi begitu damai. Begitu kompak dan begitu bersinar. Dalam hatinya ia berdoa, semoga semesta selalu seperti ini. Selalu baik dan selalu damai.
Semua berjalan seperti biasa. Hidup dan aktivitasnya seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Tapi, Diza merasa aneh dengan ini semua. Diza merasa ada yang hilang dari dirinya. Diza merasa ada perasaan rindu yang menunggu untuk di tuntaskan, tetapi berusaha untuk Diza pendam bahkan kubur.
"Bagas apa kabar yah?" tanya Diza kepada diri sendiri yang memandang taman bunga sepatu di hadapannya.
Iya, dia merindukan Bagas. Ia memikirkan Bagas. Dan ia mencari Bagas. Akan tetapi, semua yang ia rasakan, keriduan, pikiran tentang Bagas ia berusaha sembunyikan. Dan memilih untuk menikmatinya sendirian. Rasanya lebih aman jika seperti ini. Tidak aka nada yang keberatan. Tidak aka nada yang rishi dari semua ini. tapi bagaimana dengan dirinya? Ah tidak apa apa. Toh, meski ia berusaha menghilangkan semua itu, nama Bagas akan selalu muncul dalam pikiran. Wajah Bagas akan selalu hadir dikala matanya terpejam. Iya, Diza merasakan semua itu. Meski, ia sadar bahwa ia tak akan pernah bisa menyamai atau bahkan Bersama dengan Bagas.
Diza tersenyum menyadari keadaannya sekarang. Memikirkan seseorang yang terlampau jauh untuk di pandang. Merindukan seseorang yang terlampau tinggi untuk digapai. Membayangkan seseorang yang begitu sempurna dan tak pantas Bersama sama dengan dirinya.
YOU ARE READING
Monolog to Monokrom
Teen FictionUntuk Bagas "Gas, bagiku kamu adalah ganjil yang menggenapkan. Banyak yang mencukupkan. Keras yang menguatkan. Dan tali yang mengeratkan. Terimakasih dari aku untuk kamu, karena telah mengubah duniaku dari monolog menjadi pandai berdialog. Dan terim...
