01

235 21 3
                                                  

(Jangan lupa putar musiknya guys! ☝️)

Hidup harus terus berlanjut,
tidak peduli seberapa menyakitkan atau membahagiakan.
Biar waktu yang menjadi obat Tere Liye

֍֍֍֍֍

Kiyomizu Seira (25) tengah meraba-raba ranjang empuk miliknya dengan mata terpejam. Dering ponselnya sungguh mengganggu, meski ia tau penda pipih tersebut telah berdering lebih dari 5 kali sejak kesadarannya mulai muncul.

Seluruh tubuhnya terbungkus selimut tebal berwarna krem yang kini ia singkap sambil melihat layar ponsel dengan mata menyipit dan dahi berkerut.

Dia baru saja bangun dari tidur lelap yang susah payah ia dapatkan dalam beberapa bulan terakhir. Kemudian berdecak saat retinanya berhasil memfokuskan pandangan pada layar. Ia segera menggeser tombol hijau yang muncul disana dan menempelkan benda pipih tersebut di telinga.

"Hm?" Suara Seira terdengar sangat serak.

"Ya Tuhaaaannnn?!!!! Jam berapa ini, Sei?! Bangun! Apa kau minum alkohol lagi hingga pagi?!"

Mata Seira terbuka sempurna, menjauhkan ponsel dan menatap jam yang ada dilayar dengan mata yang memicing dan dahi berkerut. Lalu kembali menempelkan benda tersebut di telinga kanan. "Kalau tidak ada yang penting, ku tutup saja telfonnya."

"Apa kau akan seperti itu sampai mati, eh? Kau harus bangkit! Jangan memikirkan orang yang sudah tega pergi meninggalkan dan menelantarkanmu, Sei. Kau paham?!"

Seira mendudukan dirinya di ranjang, "Aku baru tidur 3 jam dan kau mengoceh seperti mak-lampir." Ia menyugar rambut coklatnya ke belakang. "Ada apa?" Kini Seira beranjak dari ranjang menuju dapur. Mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral. Menyandarkan pinggang pada satu-satunya meja di dapur sebelum beranjak keluar saat layar apartemen miliknya berkedip. Sementara itu dibalik ponselnya, Luza masih terus mengoceh.

Tepat didepan layar, Seira bisa melihat ada satu pria dengan topi dan seragam ala kurir berdiri diluar pintu apartemennya. "Sebentar, Luz." Ia memotong ucapan Luza yang tidak sepenuhnya ia simak.

Seira lalu membuka pintu dan benar saja, pria itu memberikan beberapa amplop berisi tagihan bulanan yang sejak 5 bulan ini selalu ia terima. "Kali ini ada 5 surat untukmu." Dahi Seira berkerut. "Tiga diantaranya berasal dari sebuah sekolah dan universitas." Ucap si kurir.

"Oh― terima kasih." Setelah menerima surat-surat tersebut, Seira lalu menutup pintu dan mendudukan dirinya di sofa. Ia membuka surat sambil menyelipkan ponsel diantara pundak dan telinga.

"Tunggakan?"

"Entahlah... mungkin." Seira mulai merobek salah satu surat. 'Ah― dia lagi...' Ucapnya dalam hati.

"Sampai kapan kau begini terus, Sei?"

"Sampai harta warisanku habis." Seira terkekeh dan meletakan amplop-amplop itu di atas meja.

"Bukankah kau sudah menghabiskannya?" Seira mendengar sahabatnya berdecak, ia sendiri tak menanggapinya.
"Aku punya tawaran bagus. Kembalilah bekerja. Divisiku kekurangan orang karena banyaknya kasus yang akhir-akhir ini menyita perhatian publik. Kau tau kan, detektif di distrik ini tidak banyak?! Aku harus merelakan hari libur dan malam panjangku untuk bekerja. Sial!"

Kali ini Seira menanggapi dengan kekehan.

"Kau kan masih punya sertifikat sebagai detektif. Ayolah... bantu aku menyelesaikan semua ini... Hitung-hitung mengumpulkan pundi-pundi warisan untuk anak cucumu kelak, Sei..." Sahabatnya merengek.

FRIEND ZONE (1st Friend Series)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang